JP Radar Kediri - Di era digital, banyak pelaku UMKM yang sudah rajin mengunggah konten di media sosial. Dari foto produk, testimoni pelanggan, hingga promo terbaru, hampir setiap hari ada saja yang diposting.
Namun, masalahnya tetap sama yaitu engagement rendah, komentar sepi, bahkan jumlah penonton tak sebanding dengan usaha yang dikeluarkan.
Fenomena ini bukan hal baru. Banyak yang mengira kesalahan terletak pada kualitas foto atau kurangnya caption menarik.
Padahal, ada faktor lain yang tak kalah menentukan yaitu algoritma media sosial.
Baca Juga: Kini Instagram Luncurkan Fitur Reset Algoritma Rekomendasi Konten Kembali ke Awal
Algoritma bekerja seperti “penjaga pintu”. Ia yang menentukan konten mana yang akan muncul di layar pengguna.
Jika sebuah postingan tidak cepat mendapat interaksi seperti like, komentar, atau share—maka algoritma menganggap konten tersebut kurang relevan. Akibatnya, jangkauan semakin terbatas, meski jumlah pengikut sudah cukup banyak.
Algoritma juga menilai jenis konten. Konten seperti video pendek, reels, hingga story biasanya mendapat prioritas. Sementara postingan biasa berupa foto dengan teks cenderung kalah pamor.
Waktu unggah pun berperan penting. Konten yang diunggah di jam sepi pengguna seringkali tenggelam sebelum sempat dilihat banyak orang.
Bagi UMKM, situasi ini bisa terasa berat. Sudah capek membuat konten, hasilnya tidak sepadan.
Namun bukan berarti mustahil untuk menembus algoritma. Caranya adalah dengan memahami cara kerja sistem tersebut, lalu menyesuaikan strategi.
Konten interaktif terbukti lebih mudah mendapatkan perhatian. Misalnya, mengajak audiens berkomentar melalui pertanyaan sederhana atau polling.
Semakin cepat interaksi muncul, semakin besar peluang konten “diangkat” ke lebih banyak feed.
Konsistensi juga penting, tapi bukan asal sering posting. Lebih baik sedikit, namun rutin dan berkualitas, daripada banjir unggahan tanpa arah.
Dengan memahami algoritma, pelaku UMKM tidak hanya asal mengisi feed. Setiap unggahan bisa menjadi langkah strategis untuk membangun kedekatan dengan konsumen.
Pada akhirnya, bukan jumlah posting yang menentukan, tetapi bagaimana konten itu mampu menembus sistem dan sampai ke audiens yang tepat.
Baca Juga: Storytelling vs Hard Selling: Mana yang Lebih Disukai Audiens Saat Ini?
Jadi, kalau postinganmu sering sepi meski sudah rajin update, jangan buru-buru menyerah. Mungkin kamu bukan kalah kualitas, tapi memang belum bisa “menjinakkan” algoritma.
Author : Muhammad Rizky (Politeknik Negeri Malang)
Editor : Jauhar Yohanis