Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Bumdes Minggiran Papar Kediri Ini Sewa Tanah Kas Desa untuk Ditanami Tebu, Ini Alasannya

Diana Yunita Sari • Jumat, 5 September 2025 | 04:00 WIB
Bumdes menyewa tanah kas desa untuk ditanami tebu.
Bumdes menyewa tanah kas desa untuk ditanami tebu.

KEDIRI, JP Radar Kediri- Pemerintah Desa Minggiran, Kecamatan Papar melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menjalankan program yang berfokus pada pertanian, perikanan, dan ketahanan pangan.

Di bidang pertanian, Bumdes Minggiran Barokah menjalankan usaha perkebunan tebu dengan menyewa tanah kas desa.

Bumdes yang sudah berdiri sejak tahun 2017 ini memang sudah lama menjalankan program pertanian.

Terutama tanaman palawija yaitu padi dan jagung sebagai komoditas utama Desa Minggiran. Namun dalam beberapa bulan terakhir, Pemdes mencoba hal baru. Yaitu dengan menanam tebu.

“Dari dulu itu menanam palawija, tapi ternyata pemasukannya gak bagus jadi ini kita coba ganti jadi tebu,” ucap Ketua BUMDes Minggiran Firly Tri Kurniawan.

Tanaman tebu dipilih karena dinilai minim perawatan. Berbeda dengan padi dan jagung yang membutuhkan perawatan ekstra.

Seperti pemberian pupuk secara rutin, menjaga dari hama dan lain sebagainya. Tebu justru hanya repot saat penanaman dan pemberian tetes saja.

Pengelolaan perkebunan tebu dilakukan oleh ketua unit di bidang pertanian. Tercatat ada empat sampai lima warga yang dipekerjakan untuk pengelolaan lahan.

“Tugasnya mengatur administrasi dan mengelola lahan bersama warga,” ungkapnya. Perkebunan tebu tersebut berdiri di atas tanah seluas 300 ru.

Tepat di sampingnya ditanami jagung dan padi secara bergantian dengan luas 100 ru. Tanaman palawija tetap dipertahankan agar tak menghilangkan ikon komoditas desa.

Modal awal untuk tanam tebu sebesar Rp 7 juta. Tantangan utamanya berkaitan dengan cuaca. Terutama di musim hujan.

Firly mengatakan bahwa jika intensitas hujan tinggi maka kualitas tebu juga akan menurun. Alhasil tebu akan terasa lebih hambar.

Selain cuaca, hama tanaman juga masih menjadi tantangan. Terutama wereng dan burung untuk tanaman padi. Lalu, hama kumbang untuk tanaman tebu.

“Yang banyak itu hama wereng terus burung kalau untuk padi, kalau kumbang di tebu ada tapi masih jarang” ucapnya.

Selain hujan dan hama, Firly menyebut harga jual tebu juga menjadi kekhawatiran mengingat harga yang sering mengalami penurunan.

Untuk saat ini Bumdes masih memperhitungkan akan menjual dalam bentuk benih atau menjual dalam bentuk tebu tua siap panen.

“Usia tebu sekarang kisaran 4 bulan jadi masih dipikirkan akan tebang winih atau tebang panen, mau lihat harganya dulu,” jelasnya.

Hasil penjualan tebu dan palawija nantinya akan masuk menjadi Pendapatan Asli Desa setempat.

Editor : Andhika Attar Anindita
#papar #kediri #tanah kas desa #pertanian #tebu #minggiran