KEDIRI, JP Radar Kediri- Usaha kerajinan yang digeluti oleh Agung ini setidaknya sudah berjalan sekitar enam tahun.
Namun, jauh sebelum itu dia telah jatuh cinta dengan kesenian jaranan. Itu pula yang menginspirasinya melestarikan sekaligus mengumpulkan pundi-pundi rupiah dari kesenian tersebut.
Pria asal Desa Klampisan, Kecamatan Kandangan ini mulai membuka usaha kerajinan barongan sejak tahun 2019.
“Sekitar delapan bulan sebelum pandemi Covid-19,” cerita Agung tentang usaha pembuatan barongan yang ditekuninya tersebut.
Agung bercerita bahwa ketika awal membuka usaha kerajinan barongan ini sempat waswas. Sebab tidak lama usahanya dijalankan kemudian terjadi pandemi Covid-19.
Namun keteguhan dan ketelatenannya membuat usaha tersebut masih berjalan hingga saat ini. “Alhamdulillah masih bisa terus berjalan hingga saat ini,” imbuhnya.
Pria yang kini berusia sekitar 29 tahun menjelaskan bahwa terjunnya ia di kerajinan barongan ini bermula ketika ikut temannya melihat pertunjukan seni jaranan.
Dalam pementasan kesenian jaranan tersebut, terdapat adegan membawa barongan. Dari situlah muncul rasa keingintahuannya cara membuat barongan.
Dengan berbekal belajar melalui video di youtube, Agung penuh mencoba membuat barongan hingga bisa.
Dalam belajar membuat barongan, setidaknya dia membutuhkan sekitar satu bulan. Dia bereksperimen dengan berbagai jenis kayu. Mulai dari kayu cangkring, waru, dan pule.
Alasan kenapa menggunakan jenis kayu tersebut, karena selain mudah ditemukan namun juga tekstur kayunya yang empuk. “Kayu jenis ini mudah untuk dipahat,” ungkap Agung.
Selain menggunakan kayu, bahan tambahan lainya adalah kulit kerbau dan tong bekas. Dua bahan ini digunakan untuk membuat bagian jambangnya. Pengerjaannya masih menggunakan peralatan seadanya.
“Untuk harga kami mematok 1,5 juta rupiah, itu termasuk aksesoris pelengkap barongan,” kata Agung.
Dalam pemasaran, Agung yang merupakan anggota karang taruna mendapatkan bantuan dari teman-teman komunitasnya.
Tidak heran jika kerajinan barongan buatannya tidak hanya dikenal oleh warga Kediri saja. Namun hingga wilayah Kalimantan.
Editor : Andhika Attar Anindita