JP Radar Kediri- Di sudut sebuah jalan masuk ke Desa Sambirobyong, Kecamatan Kayen Kidul Kediri, terdapat sebuah pabrik sederhana tempat ratusan kilo tahu diproduksi setiap harinya. Pabrik tersebut milik Puji Lestari 35 tahun, ia bersama suaminya Anton telah menjalankan pabrik tahu tersebut sejak tahun 2017.
Pada awalnya, Puji memulai usaha tahu sejak tahun 2010 dengan menjadi pengecer tahu yang ia ambil dari pabrik tahu milik kakaknya di Blitar kemudian dijualnya di Pasar Pagu. Kala itu ia setiap hari harus menempuh perjalanan dua jam ke Blitar naik motor hanya untuk kulakan tahu dari kakaknya.
“Capek sekali dulu. Apalagi kalau permintaan pasar tinggi, pulang pergi Blitar setiap hari badan rasanya remuk,” kenang Puji
Setelah dua tahun berjualan, permintaan tahu kian meningkat, Puji akhirnya memutuskan membangun dapur produksinya sendiri. Ia mengakui awalnya ia hanya modal nekad dan hanya dibantu suami beserta dua orang terdekat. Hasil produksi juga sangat minim karena terkendala dana dan bahan baku.
Suatu ketika, Puji bertemu dengan seorang Bos Kedelai, orang itu memberikan pinjaman bahan baku produksi untuk Puji. Hal itulah yang menjadi titik usahanya bertumbuh dan semakin meningkat hingga sekarang.
“Dulu saya diberi pinjaman kedelai, bayarnya setelah tahu terjual. Untungnya saya pakai buat beli kayu dari situ pabrik mulai jalan. Beli bahan baku, produksi, sisanya buat kayu” ucap ibu anak dua tersebut.
Saat ini Puji memiliki 9 orang karyawan yang menjalankan produksi, tahu yang dibuat juga setiap harinya dapat mencapai 2,5 kuintal. Produksi tahu dilakukan setiap hari tanpa libur karena tahu adalah bahan pokok yang selalu dicari pembeli.
“Tahu itu bahan makanan pokok. Orang selalu cari, jadi kami kerja tiap hari,” ujarnya.
Tahu milik Puji dijual langsung di Pasar Pagu sejak pukul 03.30 hingga 09.00 pagi. Tahu tersebut biasanya diburu oleh pedagang sayur keliling dan toko-toko kelontong. Produk yang dijual Puji tak hanya tahu mentah, tapi juga berupa tahu bulat, tahu goreng, tempe gembos, dan sari kedelai.
Ampas tahu sisa produksi juga tak terbuang percuma, karena menjadi langganan peternak sapi yang menggunakan ampas tahu sebagai pakan.
Untuk bahan bakar, Puji hanya mengatakan hanya menggunakan limbah kayu, serutan, dan tongkol jagung yang didatangkan dari Blitar. Ia menolak menggunakan bahan bakar alternatif yang berpotensi mencemari udara seperti plastik atau ban.
“Kami tinggal dekat warga. Gak berani pakai plastik atau karet, takut udaranya jelek” tegasnya.
Dengan kapasitas produksi saat ini, omzet Puji berkisar antara Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta per hari. Momentum paling laris biasanya menjelang Ramadan, Lebaran, dan musim hajatan.
“Kalau harga ayam dan ikan naik, tahu pasti laku keras. Jadi alternatif masyarakat,” imbuhnya.
Sayangnya, hingga kini usaha tahu tersebut belum memiliki merek dagang resmi. Puji mengaku terdapat kendala dalam hal perizinan. “Urusannya ribet, jadi belum berani bikin brand. Padahal pengin juga punya nama sendiri,” katanya sembari tertawa kecil
Editor : Jauhar Yohanis