KEDIRI, JP Radar Kediri- Berawal dari hobi, Swasti Farida mengembangkannya menjadi sebuah usaha yang menguntungkan.
Warga Tugurejo itu dikenal karena produk rajutannya. Tak hanya laku hingga ke luar kota. Produknya juga kerap jadi oleh-oleh hingga ke mancanegara.
Swasti Farida sebenarnya merupakan seorang pendatang. Perempuan asal Sidoarjo ini pindah ke Desa Tugurejo karena ikut suami.
Sebagai ibu rumah tangga, dia selalu mengantarkan anaknya sekolah. Kebetulan masih PAUD.
Baca Juga: Abon Ayam dan Sapi Buatan Perempuan Asal Sonorejo Grogol Kediri Ini Banyak Diminati Pembeli
“Sambil menunggu anaknya, ibu-ibu PAUD ini sambil merajut. Saya belajar dari mereka,” cerita Swasti.
Sejatinya, dia belajar merajut untuk hobi saja. Awalnya dia hanya membuat tas dan dompet. Hasil rajutannya itu kemudian dibawa temannya untuk dijual.
“Dan kerajinan buatan saya laku, tentu saja saya senang,” ungkapnya. Perempuan 42 tahun ini makin semangat untuk meningkatkan produksi.
Bahkan dia tidak segan untuk mencoba menambah jenis produknya. Sesuai dengan kebutuhan pasar.
Baca Juga: Bantal Menyusui dan Alas Tidur yang Nyaman. Dua Hal yang Harus Dipersiapkan Menyambut Kelahiran Bayi
“Karena saya suka kerajinan untuk produk baru ini saya lihat referensi di YouTube,” ujar Swati. Setelah dijadikan usaha, Swasti langsung mendapatkan orderan dari tetangganya.
Dia mendapat pesanan 20 tas yang digunakan untuk suvenir umrah. Tas buatannya terbuat dari bahan-bahan premium. Benang yang digunakannya milk cotton.
Benang tersebut memang jauh lebih lembut dibandingkan lainya. Tidak hanya menjadi bahan beraneka tas. Namun juga disulap menjadi dompet dan sepatu bayi.
Produknya diberi nama Swateh. Penjualannya dilakukan secara online maupun offline. Uniknya kebanyakan pembelinya dari luar kota. Bahkan produknya juga dipasok toko oleh-oleh yang berada di Australia.
Berjalan sejak 2016, kini Swati memiliki lima rekanan. Sebab jika dikerjakan sendiri dia tidak sanggup. “Jadi ada yang membuat gantungan kunci, tas, dan topi,” kata Swati.
Produk rajutan dari brand Swateh ini juga bisa didapatkan di Festival Kuno Kini. Di stan terdapat aneka gantungan kunci. Harganya mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 30 ribu.
Baca Juga: Warga Desa Bedali Ngancar Kediri Ini Manfaatkan Serat Nanas Jadi Kerajinan Tangan
Dukung Ekonomi Kreatif, Pemdes Rutin Gelar Pameran
Pemdes Tugurejo sangat mendukung geliat usaha mikro kecil menengah (UMKM) warganya. Apalagi desa ini berada tak jauh dari Monumen Simpang Lima (SLG) Gumul.
“Ada banyak potensi UMKM yang bisa dikembangkan,” ujar Kepala Desa Tugurejo Agung Witanto.
Salah satu bentuk dukungannya dengan menyelenggarakan bazar UMKM setiap tahun. Biasanya kegiatan ini dilaksanakan bersama dengan bersih desa.
Dengan begitu, kegiatannya bisa berjalan efektif. “Agar pengeluaran untuk nanggap hiburan bisa dihemat. Pelaksanaannya kita barengkan,” ucapnya.
Dengan adanya bazar tersebut produk dari masyarakat bisa semakin dikenal dan berkembang. “Antusiasme warga sangat besar, jadi tidak sia-sia dilaksanakan bazar UMKM,” kata Agung.
Bentuk dukungan lain adalah dengan menghidupkan koperasi wanita. Sehingga para pelaku UMKM tidak mengandalkan rentenir untuk menggerakkan usahanya.
“Jadi setiap program bisa saling bersinergi sehingga bisa sama-sama berkembang,” tutur Agung.
Pihaknya juga rutin mengadakan pelatihan-pelatihan. Baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten. Mulai dari pelatihan pengemasan produk hingga pemasaran online.
Editor : Andhika Attar Anindita