KEDIRI, JP Radar Kediri- Salah satu desa di Kecamatan Grogol ini punya potensi ekonomi yang cukup menjanjikan.
Seperti yang dilakukan Siti Kholifah, 53, pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Desa Sonorejo.
Usahanya di bidang kuliner itu berawal dari keinginannya membuat bekal praktis untuk anaknya.
Usaha pembuatan abon ayam dan abon sapi itu dia rintis sejak 2017. Seiring waktu, usaha rumahan yang awalnya hanya sampingan itu kian berkembang.
Kini dia bisa memasarkan produknya di swalayan hingga luar negeri. “Awalnya jualan abon ini hanya sebagai sampingan saja, karena pada saat itu masih jualan bakso,” kata Siti.
Dia mengatakan, awalnya abon buatannya itu dia pasarkan dengan cara dipajang di gerobak baksonya.
Akibat Pandemi Covid-19, penjualan baksonya pun meredup. Ditambah Pasar Gringging tempatnya berjualan saat itu tutup karena perbaikan. Dari situ, dia memilih beralih memproduksi abon.
“Selama pandemi, karena ada larangan keluar rumah, abonnya justru banyak pesanan,” ungkapnya.
Skala produksinya pun bertambah. Dari yang awalnya hanya 10 kilogram ayam untuk sekali produksi, kini bertambah hingga 20 kilogram.
Abon ayam buatannya itu dia jual dengan rentang harga Rp 20 – 50 ribu. Sedangkan untuk abon sapi dijual dengan harga Rp 35 – 95 ribu.
Kini, abon rumahan yang masih diproduksi secara manual itu semakin naik level. Abon yang merek ‘Dragon’ itu sudah masuk pasar swalayan hingga luar negeri.
Membuat abon buatannya semakin dikenal masyarakat luas. Meski produksi rumahan, namun Siti sangat mengutamakan kualitas.
Dia mencontohkan, abon ayamnya dibuat dari dada ayam segar tanpa kulit serta rempah-rempah berkualitas.
Seluruh proses produksinya yang masih manual itu meliputi penyuiran, pencampuran bumbu, penggorengan, hingga proses pengemasan.
“Produk ini bisa bertahan lebih dari delapan minggu, asal tidak terkena cahaya matahari secara langsung,” terang Siti.
Editor : Andhika Attar Anindita