JP Radar Kediri - Inovasi dalam dunia fesyen terus berkembang. Salah satunya lewat teknik ecoprint yang kini makin digemari masyarakat. Berbeda dengan batik tulis atau cap, ecoprint menggunakan bahan alami seperti daun dan bunga untuk menciptakan motif di atas kain. Hasilnya, kesan alami pun sangat terasa.
“Untuk ecoprint, saya memakai daun lanang,” tutur Suminar Wati, pemilik brand Batik Suminar kepada wartawan Jawa Pos Radar Kediri.
Baca Juga: Budikdamber, Solusi Cerdas Beternak Ikan dan Menanam Sayur di Lahan Sempit. Bagaimana Caranya?
Daun lanang yang digunakan tidak hanya diperoleh dari kawasan Gunung Wilis, namun juga didatangkan dari Jombang. Melalui berbagai teknik penempelan, daun tersebut diproses menjadi motif batik ecoprint yang unik. Tak berhenti sebagai kain semata, Suminar kemudian menyulapnya menjadi beragam busana menarik.
“Kalau cuma jadi kain saja, kesannya kurang menarik. Maka saya olah jadi busana,” tambah perempuan asal Desa Sekoto, Kecamatan Badas tersebut.
Kain ecoprint bermotif daun lanang itu dibuat menjadi berbagai item fashion seperti outer, blazer, rok, hingga dress. Untuk menciptakan tampilan yang berbeda, Suminar memadukan kain ecoprint dengan bahan batik lain serta mengombinasikan berbagai warna dalam satu busana. Hasilnya, pakaian terlihat modern namun tetap bernuansa etnik.
Baca Juga: Berawal dari Hobi, Atin Soliestiyono Kini Pasarkan Karyanya di Pameran Hingga CFD di Kediri
Setiap desain yang dibuatnya juga mempertimbangkan kenyamanan pengguna, baik yang berhijab maupun tidak. Misalnya, rok midi diberi belahan samping untuk gaya kasual, yang bisa disesuaikan dengan pemakaian legging bagi pengguna hijab.
Pada bagian atas, biasanya digunakan kain lurik yang dipadukan dengan blazer ecoprint. Sedangkan untuk model dress, ia menambahkan detail seperti lengan lonceng dan kerah rebah, lengkap dengan dasi pita yang mempermanis tampilan. Kombinasi ini menjadikan busana karyanya cocok dikenakan untuk acara formal maupun santai.
Sentuhan alam pada kain serta desain kekinian menjadikan karya Suminar bukan sekadar fashion, tapi juga representasi cinta pada budaya dan lingkungan.
Editor : Jauhar Yohanis