Sebuah wadah untuk ibu-ibu yang gemar membuat kerajinan. Khususnya tas anyaman. Kelompok tersebut sudah ada sejak April tahun lalu.
Berawal dari pelatihan, warga setempat akhirnya meneruskan usaha tersebut. Mereka memberanikan diri untuk melakukan produksi dan memasarkannya.
Beruntung, mereka mendapat respon positif dari pasar. “Awalnya dapat orderan dengan skala pesanan 30 hingga 50 tas,” ujar Purwanti, salah satu pengurus UMKM Petasan.
Pesanan tersebut awalnya hanya dari warga setempat. Namun, lama-kelamaan produk mereka semakin dikenal luas.
Tak hanya semakin luas penjualannya tapi juga jumlah tas yang dipesan. Yang awalnya hanya puluhan dalam sekali order kini berkembang menjadi ratusan.
Pengerjaan tas anyaman ini dilakukan oleh anggota UMKM Petasan. Jumlahnya ada sekitar enam orang.
Pesanan tas anyaman ini dikerjakan di kantor Bumdes Amerta. “Sementara masih menumpang di kantor Bumdes,” ungkap perempuan berusia 47 tahun ini.
Karena kantor Bumdes Amerta hanya dipakai setiap Senin maka pengerjaan tas anyaman ini dilakukan pada Selasa-Sabtu.
Namun jika sedang banyak pesanan, mereka membawa bahan untuk dikerjakan di rumah. Bahan baku yang digunakan untuk membuat tas anyaman ada dua jenis. Embos dan Jali.
Dari dua bahan tersebut, yang paling banyak dipesan tas anyaman dengan bahan embos. “Banyak dipesan karena harganya lebih murah,” kata Purwanti.
Untuk tas embos harganya mulai Rp 5 ribu hingga Rp 15 ribu. Sedangkan untuk harga tas Jali mulai harga Rp 25 ribu hingga Rp 80 ribu.
Selain bahan, bentuk motif tas juga mempengaruhi harga. “Selain mengerjakan pesanan, kami membuat tas untuk di stok di taruh di stan Nawasena yang berada di monumen SLG,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Andhika Attar Anindita