Desil

Mahfud • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 14:33 WIB
Titik Nol Opini
Titik Nol Opini

Kata ini jadi sangat seksi beberapa hari terakhir. Kerap dibicarakan. Jadi bahan perbincangan. Menjadi bahan candaan. Banyak diburu untuk dicari dan dilihat.  Bukan karena dia nama cewek yang bertubuh seksi dan berwajah rupawan. Justru karena si desil ini tak bertubuh dan tak berwajah.

Nah, siapa eh, apakah desil itu? Apa ada beda dengan desimal? Ataukah sama?

Kalau mencari pertautannya, desil dan desimal bak saudara kandung. Keduanya diambil dari kata latin decem yang berarti ‘sepuluh’.

Bedanya, desimal merupakan turunan kata latin decimus. Yaitu sistem angka yang berbasis sepuluh. Sedangkan desil itu ‘anaknya’ decilus. Sama-sama bahasa latin tapi punya pengertian berbeda.

Arti harfiah desil adalah bagian yang dibagi sepuluh. Pada dasarnya desil adalah istilah statistik. Digunakan untuk mengelompokkan data. Data yang telah diurutkan itu kemudian dibagi menjadi sepuluh bagian. Menjadi desil 1,2,3 hingga 10.

Baca Juga: Apa yang Jadi Penentu Desil Bansos? Sensus Ekonomi 2026 Jadi Jawabannya

Oleh Badan Pusat Statistik, desil itulah yang digunakan untuk mengelompokkan ‘strata’ keluarga di tanah air. Sebagai pembeda tingkat kesejahteraan sosial ekonominya. Mereka yang miskin masuk kelompok desil bawah. Semakin ke atas semakin menjauhi kemelaratan. Hingga ada di puncak, desil 10, adalah kelompok orang yang kaya raya. Sangat kaya!

Mengapa harus memilah desil-desil segala sih? Bilang saja itu  keluarga miskin, menengah ke bawah, menengah ke atas, dan keluarga kaya. Ya tentu tidak semudah itu. Pemerintah yang berisi orang-orang pintar itu tentu punya alasan jitu. Setidaknya, konon, untuk memudahkan klasifikasi untuk memberi bantuan. Serta memilah siapa yang boleh menerima barang subsidi dan mana yang tidak boleh. Ah, pokoknya pasti ada kegunaannya, titik!

Lha, gitu aja kok dibilang seksi? Nah, inilah masalahnya. Seperti yang diuraikan di paragraf sebelumnya, status desil akan menjustifikasi si orang atau keluarga orang itu pada strata ekonomi yang punya hak tertentu ataupun tidak punya hak tertentu. Ringkasnya, yang tidak bertele-tele, desil akan menentukan siapa yang dapat bantuan sosial dan siapa yang tidak dapat. Desil akan membagi orang yang berhak mendapat subsidi pada barang-barang tertentu dan mana yang tidak. Inilah yang menjadikannya seksi sekali.

Baca Juga: Bahlil Tegaskan Kajian Larangan Desil 9-10 Beli Pertalite: Yang Kaya-Kaya Jangan Ambil Hak Rakyat

Ironinya, kita ini terjebak pada dualisme sifat. Pada saat berinteraksi sosial, ingin dipandang sebagai orang yang mampu. Sementara, ketika giliran pembagian bantuan, ramai-ramai ingin masuk ke kelompok miskin.

Ketika ada kabar bahwa BBM ‘penugasan’-ini kata lain yang mirip dengan istilah subsidi-hanya diberikan ke desil-desil bawah yang masuk kelompok miskin, hebohlah kita. Tergopoh-gopoh mengecek posisi desil. Sambil berharap-harap cemas masuk kategori yang dibolehkan mengonsumsi barang subsidi.

Ketika nyatanya banyak yang ‘tidak masuk akal’ hebohlah. Ada yang merasa tidak cocok masuk di desil tersebut, atau malah masuk desil yang tidak masuk akal. Terutama yang masuk desil paling tinggi. Desil 10!

Saya tidak ingin larut dalam perbincangan, mengapa bisa masuk desil ini? Mengapa masuk ke desil itu? Lho, saya kan bukan orang kaya?, dan lainya, dan lainnya. Saya hanya ingin mengatakan bahwa penyakit kita selama 81 tahun merdeka adalah ini. Masih berlomba-lomba menjadi orang ‘miskin’!

Ah, jangan menghina. Masak menjadi orang miskin jadi perlombaan? Masak ada sih orang yang senang dicap sebagai orang miskin? Coba kita cek fakta di sekitar kita selama ini. Masih adakah orang yang kita pandang mampu tapi ternyata protes ketika tidak mendapat bansos? Atau, tidak adakah orang yang punya mobil seharga Rp 300 juta lebih tapi masih antre mendapatkan kartu membeli bahan bakar penugasan dan subsidi?

Kalau memang tidak ada, berarti pernyataan saya di atas tak memiliki dasar pembenaran. Tapi, saya merasa, kok masih banyak ya orang seperti itu. Mungkin, termasuk saya.

Tapi, tak usah merasa malu (walaupun seharusnya menjadi sangat malu). Karena fenomena ini sudah ada sejak dulu. Buktinya, banyak teori yang menjelaskan. Baik dari ilmu sosiologi maupun pendekatan ekonomi politik.

Baca Juga: Cek Desil DTSEN di dtsen-form.bps.go.id untuk Hasil Terbaru, Sensus Ekonomi Berpengaruh

Salah satu teori itu adalah ‘Rational Choice Theory’. Pencetusnya adalah James S. Coleman. Intinya, teori ini menyebut bahwa manusia adalah aktor rasional. Selalu berpikir dan bertindak berdasarkan untung dan rugi. Ujung-ujungnya, agar bisa memaksimalkan kepuasan dan keuntungan pribadi.

Kita mengejar bansos, walaupun sebenarnya mampu, karena berfikir itu adalah sumber daya gratis. Intinya, kita berpikir, “Kenapa tidak mengambilnya jika menguntungkan?”.

Akhirnya, yang dilakukan adalah manipulatif. Memanfaatkan celah dari sebuah kebijakan negara agar tidak perlu kerja keras. Atau, memanfaatkan koneksi dan relasi untuk mendapatkan hal itu.

Sudah bukan rahasia lagi bila salah sasaran bansos di masyarakat bisa terjadi karena hubungan patron-klien di tingkat bawah. Mereka yang mendapat bansos padahal seharusnya tidak punya koneksi khusus dengan pihak yang punya otoritas lokal. Misal, kepala desa, kepala kelurahan, tokoh politik, hingga ketua-ketua RT. Akhirnya bukan hal yang sulit untuk membelokkan data dari bukan penerima menjadi penerima bantuan.

So, apakah ini makin menguatkan teori ‘Mentalitas Miskin’ (Welfare Mentality) yang sering dicapkan ke masyarakat bawah? Entahlah. Yang pasti, tidak semua orang akan berpikiran seperti itu. Sebab, seharusnya ada lagi satu kontrol agar bansos itu bisa tepat sasaran. Yaitu kontrol moral yang kuat.

Bila bansos secara masif disalurkan dan tanpa kontrol moral yang kuat, muncullah mentalitas aji mumpung. Rasa malu menerima bantuan yang bukan haknya bergeser oleh budaya materialistis. Bantuan negara dipandnag sebagai rezeki yang boleh diperebutkan siapa saja. Bukan lagi menjadi jaring pengaman khusus bagi kelompok rentan.

Tapi saya yakin banyak dari kita yang tidak berpikir seperti itu. Banyak yang punya rasa malu karena menerima bansos padahal mampu. Buktinya, kan banyak dari kita buru-buru melihat desil. Agar bisa menolak segala sesuatu yang bersifat bantuan untuk kaum rentan. Sambil berkata lantang “Saya masih mampu, tak butuh bansos. Berikan kepada mereka yang membutuhkan!”

Apakah seperti itu? Hanya desil-lah yang tahu!(penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri).

Editor : Shinta Nurma Ababil
desil 10 desil 9 cek desil desil bansos Desil