Banyak yang bilang, hidup adalah pilihan. Saya setuju. Dan, demikian pula dengan diksi. Diksi adalah pilihan. Tepatnya, pilihan kata. Bila merujuk pada KBBI-kamus besar bahasa Indonesia-diksi adalah pilihan kata yang tepat. Selaras dalam penggunaannya.
Tujuannya untuk mengungkapkan gagasan. Muaranya adalah memperoleh efek tertentu, seperti yang diharapkan.Tentu saja diksi sangat terkait dengan manusia sebagai subjek. Diksi muncul ketika manusia melakukan aktivitas bahasa verbal. Baik lisan maupun tulisan. Konkretnya, diksi adalah kemampuan dan proses memilih kata yang paling tepat, selaras, dan sesuai konteks untuk menyampaikan sebuah gagasan. Agar makna yang ditangkap pendengar atau pembaca sama persis dengan apa yang dimasudkan si subjek. Entah itu orator maupun literator. Lengkap dengan nuansa emosi di baliknya.
Diksi jelas terkait dengan kosakata. Semakin banyak perbendaharaan kosakata yang kita miliki semakin mudah memilih diksi. Hanya saja, diksi tak cuman soal banyaknya kosakata yang kita miliki. Melainkan juga mempertimbangkan aspek ketepatan dan kesesuaian.
Apakah pas menggunakan kata itu pada situasi tertentu? Pada audiens tertentu? Atau, dengan melihat status dan posisi sosial si narator?
Contohnya, bila kita menyebut kata mati, pantaskah itu ditujukan untuk orang? Atau, adakah kata lain yang lebih pas? Atau pula, ditempatkan pada situasi tertentu dengan audiens tertentu pula?
Tentu, kata mati tak bisa kita gunakan semena-mena. Tanaman itu mati. Mungkin pas. Sapi itu mati setelah disembelih jagal. Juga pas. Tapi, bila kemudian menyebut seorang tokoh kehilangan nyawa kemudian menyebutnya dengan Bapak A mati, tentu kurang pada tempatnya. Diksi meninggal dunia atau wafat lebih tepat.
Baca Juga: TITIK NOL, Pasar
Konkretnya, diksi berfungsi menciptakan beberapa hal.Yaitu mencgah kesalahpahaman, membangun tone atau suasana percakapan atau perbincangan, serta memancing respon psikologis.
Diksi yang tepat bisa mencegah munculnya ambigu, makna ganda, yang membingungkan khalayak. Sekaligus menentukan apakah perkataan atau kalimat yang dibuat bernuansa formal, santai, atau emosional dan meletup-letup. Pokoknya, memilih kosa kata seperti itu ibarat mencampur warna ketika membuat lukisan. Agar bisa menggambarkan nuansa tanpa disertai kesalahan tafsir.
Lalu, apa sebenarnya tujuan tulisan ini membahas soal diksi? Tentu saja terkait gaya pemimpin dan pejabat negeri ini dalam berorasi, berpidato. Sebab, ada pejabat yang sangat berapi-api. Ada pula pemimpin yang sangat berhati-hati. Ada yang terstruktur, ada pula yang ngawur.
Dalam memilih diksi ketika berorasi, seorang pemimpin sebisa mungkin mempertimbangkan situasi dan berempati. Tentu berempati dengan khalayak luas yang dia pimpin. Tidak sekadar memedulikan dirinya sendiri atau kelompok pendukungnya. Toh, apapun asal golongan atau partainya, ketika menjadi pemimpin dia adalah ‘bapak’ semua warga negara.
Agar bisa kaya diksi, tentu sang pemimpin itu harus mau mendengar. Mau mendengarkan. Seperti kata orang bijak, orator yang baik adalah seorang pendengar yang baik. Bila dia tak mau mendengar orang lain, jangan harap dia bisa menjadi orator yang baik pula.
Justru, yang bisa terjadi adalah sebaliknya. Orasi dari pemimpin yang enggan banyak mendengar akan bersifat defensif. Membantah, meng-counter, menuding. Mirip model orasi seorang presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Gaya orasi yang seperti itu alih-alih menimbulkan simpati. Justru akan banyak memunculkan antipati.
Baca Juga: Cermin dan Pemimpin
Bagaimana dengan diksi yang digunakan para pemimpin bangsa ini ketika berorasi? Mungkin, banyak yang setuju bila Presiden pertama kita, Bung Karno, adalah orator yang ulung. Pemilihan kosakatanya pas untuk membakar semangat. Puitis, dan kaya akan metafora. Sering memunculkan idiom maupun akronim baru. Tak mengherankan, sebab sang Proklamator memang hidup di tengah situasi pergulatan bangsa mempersiapkan, merebut, dan mempertahankan kemerdekaan.
Tentu, beda lagi dengan Soeharto. Sang Bapak Pembangunan-hadiah yang dilabelkan MPR waktu itu-adalah antitesis Soekarno. Tutur bahasanya terkontrol. Tone-nya monoton dan datar. Menggunakan eufemisme, kata yang dihaluskan. Kata-kata seperti ‘diamankan’ dan ‘disesuaikan’ lahir dari orasi bapak Orde Baru ini. Menggantikan kata ‘ditangkap’ dan ‘naik harga’.
Era SBY-Soesilo Bambang Yudhoyono-beda lagi. Orasinya sangat hati-hati. Seakan takut menyinggung orang lain. Diksi yang digunakan sangat akademis. Seakan ingin mendinginkan suasana.
Jokowi? Sosok ini adalah orator yang jauh dari atmosfir ‘berapi-api’. Berusaha mengesankan gaya santai dengan menggunakan bahasa sehari-hari. Bahkan, seperti berusaha ‘menutupi’ latarbelakangnya yang lulusan perguruan tinggi ternama, UGM. Dengan diksi yang mikro. Atau mengarah ke hal-hal teknis. Seakan mengajak rakyatnya untuk benar-benar berpikir praktis, kerja, kerja, kerja!
Bagaimana dengan gaya orasi Presiden Prabowo, pemimpin bangsa sekarang ini? Seperti apa penggunaan diksinya?
Saya mencoba mengumpulkan berbagai pendapat pengamat komunikasi politik, ahli linguistik, serta pakar pidato. Menurut mereka, gaya pidato presiden saat ini sangat khas. Sangat mewakili latar belakang militer serta visi politiknya. Banyak ahli yang menyebut diksi yang digunakan sang Presiden dipilih untuk membangun narasi besar tentang nasionalisme, ketegasan, dan persatuan.
Beberapa pola pemilihan kata sang Presiden didominasi diksi patriotik dan egaliter. Berusaha membangkitkan memori sejarah dan rasa cinta tanah air.
Saat berorasi sang Presiden melakukannya dengan spontan, menggelegar. Sayangnya, terkadang juga ambigu. Ketika merespons moment-moment sensitif, diksi sang Presiden seakan bersifat umbrella term, terlalu luas. Contohnya kata ‘kelompok huru-hara’ atau ‘tindakan anarkis’ digunakan. Namun tidak disertai batasan spesifik, yang memunculkan tafsir ganda di benak masyarakat. Setujukah Anda?(*)