Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Bolu Ketan

Mahfud • Selasa, 23 Juni 2026 | 13:31 WIB
Titik Nol Opini
Titik Nol Opini

Apaan sih bolu ketan? Coba cari di resep-resep digital. Eh, yang ada justru bolu ketan hitam. Yang, menurut buku resep digital itu bolu ketan adalah makanan khas Nusantara. Terbuat dari tepung ketan hitam.

 

Rasanya? Jelas legit, eh, ini yang dikatakan resep lho. Soal faktanya, ya mungkin nanti bergantung pada koki atau chef-nya. Semakin mahir sang chef kian legit rasa sang bolu ketan.

 

Tapi, mengapa bolu ketan begitu viralnya? Menjadi istilah yang sangat popular di ruang digital kita. Video pendek berisi ungkapan, lagu, atau apapun yang terkait bolu ketan berseliweran di media sosial. Paling banyak ya di TikTok ataupun Instagram.

 

Sudah jelas, munculnya ungkapan bolu ketan tidak lahir di ruang kosong. Kehadiran si makanan ini di dunia maya jelas ada sebabnya. Bila terlihat ujak-ujuk alias tiba-tiba, karena algoritma media sosial memang khas dan unik. Hal sepele saja secara mendadak bisa menjadi hal besar dan viral!

 

Baca Juga: Bahlil Ungkap Penyebab Pemadaman Listrik Bergilir Akhir-akhir Ini, Akui Ada Kendala Pasokan Batu Bara

 

Tapi, apakah bolu ketan hal sepele? Saya rasa, tidak! Sebaliknya, ungkapan bolu ketan ini tidak sekadar lelucon belaka.  Meskipun banyak yang bilang bahwa kehadiran bolu ketan awalnya hadir dari konvergensi kultur komedi, musik, dan interaksi pengguna medsos seperti TikTok.

 

Ya, boleh jadi bolu ketan adalah komedi. Namun, lelucon itu menjadi satir, parodi, metafora dari kondisi kekinian yang menjepit di dunia nyata. Jepitan yang kian keras  inilah kemudian dibawa ke dunia maya. Bolu ketan pun menjelma menjadi bahasa slang. 

 

Bagi penulis, bolu ketan adalah cara warga akar rumput (baca; wong cilik) memandang hidup dan kehidupan. Sarana untuk menertawai diri sendiri. Memandang kesulitan hidup menjadi sebuah komedi.

 

Ah, dari mana ceritanya kok bolu ketan jadi satir kehidupan? Ya, Anda boleh tidak sepaham. Namun, sudah lama masyarakat bawah Nusantara-khususnya kultur Jawa-punya cara untuk memberi kritikan tapi bernuansa halus, sehalus tepung. Lawakan model Srimulat, guyonan khas ludrukan dan ketoprak adalah buktinya.

 

Ya, bolu ketan adalah simbol jeritan hidup. Kanalisasi dari keresahan akibat hambatan hidup yang kian meresahkan. Bolu ketan adalah kue kering yang bisa membuat tenggorokan tersumbat bila tak dibantu aliran air minum. Simbol dari kondisi seret seperti yang dirasakan saat ini. Seret rezeki, seret keadilan, bahkan hingga seret jodoh, ha ha ha. Simpelnya, ungkapan bolu ketan mengatakan secara halus bahwa ‘hidup sedang seret dan mencekik’. Sedang tidak baik-baik saja.

 

Baca Juga: Bahlil Tanggapi Harga Pertamax Naik, Pastikan Harga BBM Subsidi dan LPG Tetap Aman

 

Ah, wong kegetiran hidup kok dibuat lucu-lucuan? Inilah bentuk luar biasanya masyarakat kita. Meskipun dalam kondisi sulit, mereka tetap punya katarsis, penyaluran. Masyarakat kita punya mekanisme pertahanan psikologis yang unik. Bisa menertawakan diri sendiri. Tak perlulah mengeluh frontal dan terbelit depresi berkepanjangan akibat beban hidup. Kita lebih memilih menggunakan bolu ketan sebagai katarsis.

 

Tapi, ingat, bolu ketan bukan sekadar candaan menertawakan derita diri. Bolu ketan juga menjadi simbol perlawanan. Ibarat jeritan kucing hitam yang tertindas-menyuplik dari salah satu lirik lagu Iwan Fals-bolu ketan adalah kritik pada situasi sosial politik terkini.

 

Bolu ketan adalah satir politik. Tentang pembagian kue kekuasaan yang hanya menyentuk kroni-kroni politik. Kue kekuasaan berupa proyek strategis hanya dinikmati segelintir elit politik. Wujud dari oligarki dan nepotisme.

 

Kok bisa? Ya tentu bisa. Bolu ketan adalah kue yang lengket. Simbol bahwa kue kekuasaan hanya lengket di zona kekuasaan belaka. Tidak pernah, istilah Orde Baru, trickle down effect. Kue kekuasaan itu tidak sekalipun menetes ke bawah.

 

Baca Juga: Janji Bahlil Soal Harga BBM Disorot, Hari Ini Pertamax Resmi Naik Jadi Rp16.250 per Liter

 

Intinya, bolu ketan adalah protes halus pada beratnya tekanan ekonomi. Tentang seretnya daya beli. Tentang harga bahan pokok yang sangat fluktuatif. Tentang pemutusan hubungan kerja di mana-mana. Tentang pajak yang kian mencekik. Tentang rakyat jelata yang mendapat tekanan hidup yang berat.

Bolu ketan adalah algoritma. Bolu ketan adalah kode. Bahasa dunia medsos untuk protes ekonomi. Di kala regulasi tak memihak jelata. Ketika bansos kurang merata. Maka yang muncul adalah ungkapan ‘gara-gara bolu ketan’.

 

Sebagai satir hidup, bolu ketan juga menjadi sarana kritik tersembunyi. Agar kritik atau hujatan itu lolos sensor. Bisa dianggapsebagai candaan biasa. Padahal, bagi yang mengerti, bolu ketan yang dimaksud memiliki makna tertentu. Misal, memaknai bolu ketan sebagai akronim dari botak lucu kek set**.

Apapun, bolu ketan adalah fenomena viralisme. Bukti konkret bagaimana budaya popular menciptakan ruang diskursus baru. Tak peduli isu itu datang dari lokal semata.

 

Bolu ketan juga bukan cumin tren musiman tanpa arti. Bolu ketan adalah instrument sosial. Dari secuil kue asli Nusantara itulah jelata sedang me-record, menertawakan realitas sosial politik, menertawakan bagi-bagi kekuasaan yang lengket di atas dan seret di bawah.

 

Kalau ada yang mengatakan ah, itu kan cuma utak-atik gatuk, boleh-boleh saja. Kalau ingin bukti, mari bersama kita makan bolu ketan untuk menu MBG, Mas Bahlil G…….(penulis adalah  wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

Editor : Shinta Nurma Ababil
#Mbg #bahlil lahadalia #Menteri Bahlil Lahadahlia #bahlil #bolu ketan