Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Cermin dan Pemimpin

Mahfud • Kamis, 21 Mei 2026 | 15:33 WIB

  

Ilustrasi Titik Nol Cermin dan Pemimpin
Ilustrasi Titik Nol Cermin dan Pemimpin

 

Apa hubungannya antara cermin dengan seorang pemimpin? Seorang pemimpin hampir pasti memiliki cermin. Sementara, cermin tentu saja tak memiliki pemimpin. Karena cermin adalah benda mati.

Ah, jawaban asnul itu, asal nulis.

Atau, apakah pertanyaannya yang asna? Asal nanya? Toh, meskipun sama-sama kata benda, manusia dan cermin tentu saja tidak bisa dikomparasikan.

Titik Nol
Titik Nol

 

Memang, kaitan antara cermin dan manusia yang lebih pas memang hubungan antara subjek dan objek. Dalam banyak hal manusia selalu berposisi sebagai subjek. Sedangkan cermin hampir selalu menjadi objek. Termasuk objek kepemilikan manusia.

Nah, sebagai objek tentu saja cermin akan digunakan selayaknya fungsinya, bercermin. Cermin adalah tempat manusia melihat dirinya sendiri. Maka munculah kata sifat, cerminan. Artinya, salah satunya, sesuatu yang menjadi gambaran, bayangan, atau representasi keadaan sebenarnya.

Baca Juga: Peluru Tajam

Maka dua kata itu akhirnya bisa dijadikan satu frasa. Apa itu? Pemimpin adalah cerminan dari yang dipimpin. Frasa yang bisa menjadi ungkapan filosofis sekaligus sosiologis mendalam.

Pepatah pemimpin adalah cerminan dari yang dipimpin pun bukan datang tanpa sebab. Bukan ditulis asal-asalan. Melainkan memiliki ‘dasar’-nya. Dalam khazanah Islam bahkan ada atsar-riwayat yang disandarkan pada sahabat maupun tabiin-yang berbunyi, ‘sebagaimana keadaan kalian demikianlah kalian akan dipimpin.

Bila kita lebih dalam menggali khazanah ilmu, ada pula filsuf Islam abad pertengahan yang menyinggungnya. Dia adalah Ibnu Khaldun. Dalam kitab Muqaddimah ada isyarat tentang pepatah itu. Yang menganalogikan cermin dan wajah. Menurut sang filsuf, pemimpin adalah pantulan di cermin. Sedangkan masyarakat, atau yang dipimpin, merupakan wajah.

Tentu, saya tidak berada pada posisi yang layak untuk membantah itu. Justru saya sangat mengamininya. Apalagi bila ditelisik dari berbagai sudut pandang, frasa itu sangat, sangat, sangat benar.

Misal, coba kita keker, eh, teropong dari angle sosiologi-antropologi. Bagi ilmu sosiologi pemimpin adalah representasi nilai-nilai dominan di masyarakat itu. Memiliki akar budaya yang sama. Seorang pemimpin tumbuh, belajar, dan bersosialisasi dalam lingkungan yang sama dengan yang dipimpin.

Baca Juga: Lingkaran dan Setan

Maka, bila masyarakat tersebut permisif pada ketidakjujuran dan jalan pintas, besar kemungkinan pemimpin yang lahir dari rahimnya juga memiliki mentalitas serupa. Nah, ada yang mirip dengan kitakah?

Ada premis lain yang memperkuat hal itu. Masyarakat memilih atau mendukung pemimpin tentu berdasarkan apa yang mereka anggap baik. Bila kemudian muncul pemimpin dengan standar moral dan standar berpikir rendah, saya yakin masyarakat pemilih pun memiliki standar serupa!

Nah, jika kita masih suka berteriak-teriak tentang pemimpin yang bobrok moral, mungkin kita lupa bahwa ‘dia’-pemimpin itu-adalah akibat. Akibat dari sebab bahwa kita pun ternyata juga memiliki jiwa kebobrokan yang laten.

Masih membantah? Menyebut bahwa pemimpin itu lahir dari proses kecurangan yang sistematis dan terstruktur? Boleh saja. Dan itu sah-sah saja. Namun, perlu diingat bahwa kecurangan yang sistematis dan terstruktur itu tumbuh dalam masyarakat kita. Bila hal buruk tersebut bisa tumbuh kuat maka premisnya adalah masyarakat yang ada bersifat pasif, acuh tak acuh atau apatis, dan mudah disuap!

Dalam kondisi masyarakat yang seperti itu-acuh tak acuh, pasif, dan mudah disuap-maka pemimpin yang manipulatif dan koruptif akan sangat mudah langgeng berkuasa.

Ini juga cocok dengan hukum kausalitas, sebab akibat. Seperti yang diutarakan di atas, bahwa pemimpin adalah akibat. Sedangkan masyarakat adalah sebab. Jika masyarakatnya disiplin, kritis, berintegritas maka pemimpin yang dilahirkan pun bakal seperti itu. Seorang pemimpin yang korup, tak kompeten, akan cepat tumbang karena ditolak sistem.

Kembali pada filosofi yang disampaikan oleh Ibnu Khaldun, masyarakat adalah wajah. Sedangkan pemimpin adalah cermin. Jika wajah di cermin terlihat kotor maka kita tidak bisa marah kepada cermin. Satu-satunya cara adalah membersihkan wajah kita terlebih dahulu.

Harus diingat lagi, pemimpin itu tak jatuh dari langit secara acak. Mereka adalah produk dari lingkungan mereka sendiri. Jika kita menginginkan pemimpin yang jujur, cerdas, dan berintegritas, maka masyarakat yang harus lebih dulu membentuk diri menjadi pribadi jujur, cerdas, dan berintegritas. Tidak menjadi orang yang mudah disuap. Yang rela dibayar ratusan ribu demi pemimpin korup yang bisa menggarong triliunan rupiah uang rakyat.

Juga harus diingat, mengubah seorang pemimpin tak akan efektif tanpa mengubah kultur masyarakat yang dipimpin. Sekali lagi ini adalah hukum sebab akibat.

Pertanyaannya sekarang, masak sih ada masyarakat yang seperti itu? Yang melahirkan pemimpin tak kompeten, korup, dan berstandar moral rendah? Coba kita bersama-sama bercermin!(*)

 

Editor : Mahfud
#manipulatif #budaya #Nilai #pemimpin #korupsi