Mengapa ada hari khusus untuk Kartini? Mengapa tidak untuk tokoh perempuan lain yang juga punya andil besar pada pengakuan terhadap emansipasi? Sebut saja sosok semacam Dewi Sartika, sosok yang mendirikan Sekolah Isteri, jauh sebelum sekolah Kartini didirikan?
Atau, kenapa tidak memilih Rohana Kudus? Seorang jurnalis perempuan pertama Indonesia yang juga mendirikan sekolah. Serta memperjuangkan nasib perempuan melalui tulisan dan tindakan nyata?
Atau lagi, Mengapa bukan hari Cut Yak Dien? Hari Cut Meutia? Hari Laksamana Malahayati? Hari Martha Christina Tiahahu. Mereka dengan gagah berani mengangkat senjata melawan rezim imperialis-kolonialis Belanda?
Seberapa penting peran Kartini dalam mengangkat derajat perempuan Indonesia? Hingga membuat tanggal lahirnya dirayakan secara khusus?
Ya, memang, diakui atau tidak, penetapan Hari Kartini menjadi salah satu diskursus sejarah yang menarik. Ada yang pro, dan ada pula yang kontra. Penetapan 21 April menjadi penanda kebangkitan perempuan dalam soal emansipasi sering memicu perdebatan.
Baca Juga: Ajudan
Lho, mengapa berdebat? Tentu saja karena ada yang tidak setuju. Ada yang menyebut, memberikan perayaan khusus pada sosok Kartini terlalu berlebihan. Sebab, banyak perempuan lain yang kiprahnya tidak kalah atau bahkan lebih mentereng. Misalnya? Ya nama-nama di bagian awal tulisan ini.
Bagi yang kontra, penetapan Kartini menjadi hari yang khusus terlalu Jawasentris. Sebab, Dewi Sartika yang orang Sunda atau Rohana Kudus yang orang Sumatera Barat pun melakukan sesuatu yang ‘istimewa’. Bahkan lebih praktis dibanding Kartini yang dituding hanya sekadar ‘berkeluh-kesah’ dengan surat-suratnya yang ditujukan ke sahabat-sahabatnya di Negeri Belanda.
Belum lagi, ada kecurigaan mereka yang kontra terhadap keotentikan surat-surat Kartini yang kemudian dibukukan menjadi ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ itu.
Baca Juga: Bojone Hobi Cangkruk lan Ngepruk
Mengapa curiga? Itu tak lepas dari sosok yang mengumpulkan dan membukukan. Sosok itu adalah Jacques Henrij Abendanon. Seorang meneer Belanda yang menjadi Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Nah, di sinilah sumbernya. Para kritikus menuding Belanda sengaja ‘membesarkan’ nama Kartini dengan beberapa sebab. Yaitu, karena dianggap mewakili sosok bumiputera yang moderat, kooperatif, dan intelektual. Wajar, sebab sosok perempuan lain seperti Cut Nyak Dien adalah pemberontak di mata mereka.
Kebetulan pula, di masa itu Pemerintah Kolonial Belanda tengah menerapkan politik etis alias politik balas budi. Maka, menjadikan buku Door Duisternis tot Licht-judul Belanda dari buku Habis Gelap Terbitlah Terang-adalah pilihan tepat sebagai propaganda.
Sebenarnya, masih banyak lagi narasi mereka yang kontra pada penetapan perayaan khusus Kartini sebagai tonggak emansipasi. Termasuk ke-skeptis-an mereka yang tak setuju dengan fakta bahwa Kartini adalah sosok bangsawan yang dipingit. Juga tak mampu melawan sistem poligami. Nah, bagi mereka yang berpandangan feminisme garis keras, hal tersebut benar-benar tak mencerminkan sosok pejuang kesetaraan gender. Bagi sebagian orang, upaya Kartini hanyalah ‘sebatas wacana’ di kertas. Pada akhirnya dia harus tunduk pada sistem feodal yang dia kritik.
Lalu, sependapatkah Anda dengan alasan mereka yang kontra itu? Ah, tentu saja semua orang bebas berpendapat. Asalkan, tentu saja, tidak memaksakan sebagai yang terbenar. Bisa jadi analisa oleh mereka yang kontra itu ada benarnya. Tapi, tidak menutup kemungkinan juga memiliki celah kekeliruan.
Yang harus kita pahami bersama adalah, diskursus soal Hari Kartini bukan untuk menjatuhkan sosok pahlawan tersebut. Namun, lebih sebagai otokritik. Bahwa sebenarnya banyak sosok seperti Kartini yang dilahirkan oleh bangsa kita. Yang juga seharusnya mendapat ‘panggung’. Jasa-jasa mereka yang besar juga harus kita apresiasi.
Toh, terlepas apakah Kartini layak menjadi hari khusus yang dirayakan, dia tetap saja memiliki sesuatu yang layak dipuji. Terutama perannya sebagai seorang pemikir. Idenya tentang persamaan hak, anti-feodalisme meskipun dia akhirnya terperangkap dalam cengkeraman nilai itu, pendidikan, dan kritik pada kolonialisme tergolong radikal pada zamannya. Yang menjadi referensi dan inspirasi kuat bagi tokoh pergerakan seperti Budi Utomo atau mahasiswa Indonesia lain.
Baca Juga: Kuliah, Pergaulane Salah Kaprah
Sayangnya, justru kita tidak memahami substansi sosok Kartini tersebut saat ini. Perayaan-perayaan yang kita lakukan cenderung tak substantif. Terjebak pada seremonial dan simbolisasi. Melenceng dari esensi perjuangan dan pemikiran Kartini.
Kita terjebak merayakan Kartini pada urusan pakaian, sanggul dan kebaya. Okelah, itu merupakan salah satu upaya pelestarian budaya. Namun, tahukah kita bahwa Kartini di banyak suratnya sering mengeluhkan tentang pakaian adat itu. Dia menganggap pakaian adat kebangsawanan yang rumit dan ketat justru membatasi ruang gerak fisik dan kebebasan berekspresi perempuan.
Yang lebih penting, perayaan bernuansa simbolik seperti itu menafikkan aspek intelektualitas dan literasi. Dua hal yang sebenarnya diperjuangkan oleh Kartini. Dia memang tidak berjuang mengangkat senjata. Melainkan menggunakan pena dan buku untuk menghantam ketidakadilan. Nah, berapa banyak kita rayakan Hari Kartini dengan lomba menulis esai kritis, diskusi dan bedah buku, atau kampanye literasi?
Intinya, terlepas dari diskursus apakah Kartini layak dijadikan hari khusus, perayaannya harusnya dilakukan dengan substansial. Menjadi momentum mengevaluasi isu perempuan. Soal akses pendidikan di pelosok, perlindungan dari kekerasan, serta kesetaraan-kesetaraan yang lain.
Setujukah Anda? Atau, memang Hari Kartini merayakannya dengan antre sejak pagi di salon-salon? Coba kita tanyakan pada Meeneer Abendanon!(*)
Editor : Shinta Nurma Ababil