Apa sih panik itu? Coba buka KBBI. Kita pasti menemukan definisi denotatifnya kata itu. Yaitu, perasaan takut, bingung, gugup secara tiba-tiba.
Hanya itu? Tunggu, masih ada kelanjutannya. Seringkali melanda secara massal!
Artinya, antrean panjang masyarakat di penjuru tanah air di SPBU-SPBU yang terjadi malam hari menjelang pergantian bulan Maret ke April sebagai bentuk kepanikan? Iya! Sangat jelas masyarakat dilanda kepanikan. Takut bakal terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak alias BBM.
Lho, mengapa masyarakat berasumsi harga BBM naik? Jelas, situasi terkini di perang Ameria-Israel vs Iran jadi pemicu. Masyarakat tahunya adalah perang itu membuat distribusi minyak mentah tersendat. Konon, selat Hormus-yang saat ini dipersempit aksesnya oleh Negara Para Mullah itu merupakan jalur utama distribusi minyak dunia. Jadi, kalau kapal tanker pemuat minyak mentah gagal melintas maka harga naik adalah keniscayaan.
Baca Juga: Mental Tempe
Faktanya? Harga BBM di negara kita tidak naik. Pemerintah pun sudah menegaskan itu. Toh, tetap saja antrean mengular terjadi di pom-pom bensin di seluruh tanah air. Jadi, mengapa kita gampang panik? Bahkan oleh alasan yang harusnya bisa kita nalar terlebih dulu.
Bila ingin membedah itu, yaitu mengapa kita gampang panik, terus terang, agak njlimet juga. Tak cukup ruang tulis opini yang hanya dibatas maksimal 800-an kata. Sebab, membedah panik harus masuk di, minimal, tiga bidang ilmu sekaligus. Weleh..weleh...weleh...!
Lha iyes sudah pasti itu. Membahas panik harus dari tiga sudut pandang. Psikologis, sosiologis, dan antropologis. Apalagi ketika mencoba memahami kepanikan yang terjadi seperti antrean di pom bensin itu.
Dari perspektif psikologi, panik dipandang sebagai respons ketakutan yang intens dan mendadak tanpa adanya ancaman yang nyata dan proporsional. Dalam sudut pandang ini, panik lebih merupakan terganggunya mekanisme tubuh. Terutama sistem saraf. Karena itu ada istilah panic disorder. Terjadi secara berulang dan spontan.
Tapi, menurut saya, kepanikan seperti yang terjadi terkait isu-isu di masyarakat lebih mudah dijelaskan dari aspek sosiologi maupun antropologi. Karena dari kacamata sosiologi, panik adalah fenomena kolektif. Bukan fokus pada apa yang dirasakan satu orang. Melainkan bagaimana ketakutan itu menyebar di masyarakat.
Nah, menurut sosiologi ini, panik ada tiga jenis panik. Moral panic, structur disintegration, dan social contagion. Yang pertama, istilah itu dipopulerkan oleh Stanley Cohen. Merujuk kondisi masyarakat yang merasa nilai sosial mereka terancam oleh fenomena tertentu. Sedangkan yang kedua, panik terjadi ketika rutinitas sosial terputus dan individu kehilangan kepercayaan pada institusi yang seharusnya melindungi mereka. Nah, tidak asing dengan situasi ini?
Baca Juga: Merasa Miskin tapi Ajukan Bansos Selalu Ditolak
Namun, yang paling pas untuk menjelaskan tentang tabiat kita yang suka panik seperti antre di SPBU semalaman adalah penjelasan ketiga, penularan sosial. Panik menjadi proses emosi yang menular dengan cepat dalam kerumunan. Padahal seringnya dipicu oleh informasi yang tidak jelas atau bahkan rumor. Namun, semua itu sudah bisa memicu orang untuk melakukan tindakan irasional massal. Contohnya ya seperti panic buying of petroleum itu.
Teori inilah yang juga bisa menjawab pertanyaan istri saya, yang temannya langsung membeli beraneka ragam senter, makanan instan, berkotak-kotak lilin, serta keperluan sehari-hari lain tepat ketika perang di kawasan Persia terjadi beberapa waktu lalu. Alasannya, akan terjadi perang dunia ketiga. Akan terjadi pemadaman listrik secara global. Akan terjadi krisis energi yang disebabkan oleh perang yang dipicu ulah Amerika-Israel mulai mengintimidasi Iran itu.
Waduh, sepanik itukah teman istri saya dalam menanggapi rumor dan berita yang tak jelas sumbernya? Bukan sulap bukan sihir, tapi memang seperti itu!
Jelas, kepanikan semacam itu adalah penyakit sosial. Yang mampu menular dengan cepat. Yang diterima oleh orang lain dengan dampak serupa. Otak mereka merespon informasi yang memunculkan ketakutan, kepanikan, kemudian melakukan sesuatu yang sangat irrasional.
Pertanyaannya adalah mengapa? Waduh, sulit untuk menguraikan. Banyak teori yang bisa menjelaskan. Tapi, butuh pembahasan panjang dan juga, diskusi yang intens.
Namun, secara sederhana hal itu bisa terjadi karena ketidakstabilan struktur sosial. Ketika massa tak lagi punya kepercayaan yang kuat terhadap hirarki sosial.
Saya juga melihat hal itu dari sisi antropologi. Yaitu hampir hilangnya kultur Nusantara, atau budaya asli masyarakat Indonesia. Sebab, dari sudut pandang ini panik bisa dilihat dari pengaruh kebudayaan dalam memaknai krisis.
Baca Juga: Miskin
Coba kita ambil dari kultur Jawa, salah satu budaya Nusantara. Secara filosofi, budaya Jawa memiliki pendekatan yang mendalam dalam menghadapi situasi yang bisa memicu kepanikan. Salah satunya adalah aja kagetan, aja gumunan. Jangan mudah kaget, jangan mudah heran. Inilah filosofi yang secara langsung melarang perilaku panik.
Aja kagetan, jangan mudah terkejut. Sebab, panik adalah reaksi spontan terhadap sesuatu yang baru atau mendadak. Budaya Jawa melatih mental agar tidak gampang kaget. Kita harus mampu memproses informasi dengan logika terlebih dulu. Sebelum bereaksi secara emosional.
Sedangkan aja gumunan menyuruh kita agar tidak gampang heran atau terpesona. Ini berkaitan dengan menjaga prespektif bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah wajar. Semua bisa terjadi. Semua pasti ada solusi.
Sayangnya, falsafah seperti itu sudah tidak lagi kita gunakan. Kita sudah tergiur dengan kemajuan teknologi, kemudahan interaksi, serta kenyamanan hidup yang diakibatkan oleh hal-hal semu keduniawian. Kita terlalu menganggap diri kita pandai. Mampu membuat AI yang bisa mengatur dan mengontrol segalanya. Nah, giliran mendapat informasi kita tak mampu melihatnya secara akurat dan objektif.
Padahal, masih banyak lagi falsafah Nusantara yang bila kita ugemi, kita lakukan, akan menghindarkan diri dari rasa panik seperti itu. Misal filosofi eling lan waspada, tatag teteg tanggon, alon-alon asal kelakon, serta manunggaling rasa lan cahya yang merujuk pada ketenangan batin. Pertanyaannya, mengapa kita masih mudah terombang-ambing kepanikan? Mari kita tanyakan pada Donal Trump, sambil bertanya kapan dia benar-benar mau menghentikan perang yang telah dia picu. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)
Editor : Shinta Nurma Ababil