Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mental Tempe

Mahfud • Kamis, 5 Maret 2026 - 12:05 WIB

Logo Titik Nol Opini
Logo Titik Nol Opini

Anda suka tempe? Atau, pertanyaannya diubah, apakah Anda tahu tempe? Sudah pasti jawabannya ya! Terlepas suka atau tidak suka. Tapi, saya yakin mayoritas orang Indonesia menyukai makanan yang satu ini. Meskipun, banyak yang bilang, tempe adalah makanan rakyat kebanyakan, rakyat jelata.

Sayangnya, justru kebanyakan orang lebih ‘mementingkan’ keberadaan kerupuk dibanding tempe. Bila ada sajian, di rumah maupun di warung, kita akan mudah bertanya, krupuknya mana? Dibanding harus mempertanyakan kenapa tidak ada tempe di antara lauk pauk yang disediakan.

Padahal, tempe itu benar-benar luar biasa. Menjadi lauk papan atas dalam urusan nutrisi. Bahkan, di negerinya Paman Sam sono-yang saat ini lagi bikin ontran-ontran dengan memborbardir Iran-tempe sangat populer. Menjadi makanan kelas atas, terlebih bagi para penganut vegetarian.

Apa luar biasanya tempe? Jelas dari kandungan nutrisinya. Memang, dari serangkaian kandungan nutrisi tempe masih kalah dibanding daging sapi maupun daging ayam. Tapi, selisihnya tidak besar. Duo daging itu ada di urutan satu dan dua. Sedangkan tempe masuk tiga besar.

Kandungan protein misalnya, tempe memiliki kadar 20 gram per 100 gram. Sedangkan daging ayam di urutan top dengan 31 gram dan daging sapi setelahnya dengan 26 gram.

Itu bila urusan protein. Bila diperbandingkan ukuran kualitas dan kesehatan secara umum, tempe masuk dalam jajaran top 2. Di bawah ikan yang memiliki protein tinggi, lemak Omega-3, serta rendah lemak jenuh. Sementara tempe disebut memiliki kadar protein tinggi, tinggi serat yang tidak dimiliki daging maupun telur, nol kolesterol, serta kandungan zat yang bernama Isoflavon. Nah, yang disebut terakhir itu merupakan zat antikanker!

Pokoknya, tempe sebagai lauk boleh dibilang is the best! Alasannya, karena hasil fermentasi tempe ramah bagi pencernaan. Mudah diserap tubuh. Dan, jadi senjata anti-penuaan melalui kandungan isoflavon. Singkatnya, tempe adalah superfood!

Tapi, mengapa di kalangan tukang makan tempe masih kalah oleh krupuk? Setidaknya secara emosional dan persepsional? Entahlah. Mungkin, kita masih menyenangi makanan yang kandungan nutrisinya sejatinya rendah. Namun bisa enak di lidah. Atau, lidah kita yang sangat terlatih dengan berbagai perasa buatan yang kandungan kimiawinya tinggi. Menganggap itu lebih menyenangkan.

Atau, itu gambaran mental kita? Lebih menyenangi sesuatu yang terasa enak meskipun mengandung banyak potensi penyakit. Seperti saat memilih pemimpin, kita menyenangi yang populer karena sebab-sebab sepele. Sedangkan dari sisi kualitas kepemimpinan justru tak menyehatkan dalam kehidupan bermasyarakat dalam jangka panjang. Ah, entahlah.

Yang pasti, kita juga salah kaprah dalam memandang tempe ini. Sesuatu yang sangat bermanfaat tapi jadi cerminan sikap dan tindak-tanduk kacangan alias tak berkualitas. Sudah sering kita mengecap orang yang tidak kuat dari sisi mental sebagai orang bermental tempe!

Lho, mengapa bisa tempe jadi cerminan orang bermental jelek? Mudah menyerah dan gampang patah semangat?

Mungkin, ini gara-gara penampilan tempe secara fisik. Makanan ini dianggap memiliki tekstur lunak. Mudah hancur jika mendapat tekanan sedikit saja. Sehingga, orang yang bermental seperti tempe tidak tahan banting. Mudah menyerah melawan sedikit tekanan. Serta, gampang goyah pendirian.

Mungkin, alasan itu yang mendorong proklamator kita, Bung Karno, menggunakan istilah mental tempe ini untuk memacu semangat perlawanan terhadap penjajah. Ingin rakyat Indonesia menjadi bangsa yang berani, berdiri di kaki sendiri, dan tak diinjak-injak kolonialisme. Presiden pertama Republik Indonesia itupun selalu berkoar, “Kita jangan menjadi bangsa tempe!”.

Berhasilkah Bung Karno? Di kala itu, dia mampu membawa kebanggaan tersendiri bagi bangsa yang baru merdeka. Tak ingin didikte negara barat yang dianggapkanya kolonial, Soekarno membikin poros sendiri. Sehingga sosoknya benar-benar diperhitungkan oleh dunia.

Lalu, apakah sekarang itu terjadi? Posisi kita di percaturan politik Internasional? Sudahkah kita berdikari dengan politik bebas aktif seperti yang dikoarkan rezim Orde Baru?

Atau, secara ekonomi, perkasakah kita? Seberapa tangguh daya tawar perdagangan atau perekonomian kita terhadap kekuatan ekonomi dunia macam Tiongkok, Jepang, Amerika, atau Uni Eropa? Ketika Negara Super Power ‘Amerika’ menerapkan aturan tarif yang seenaknya sendiri, bagaimana positioning kita? Atau, jangan jauh-jauh, masihkah kita merdeka secara ekonomi di negara kita sendiri?

Jujur, di percaturan politik Internasional kita seakan jadi figuran. Meskipun, para petinggi negara ini tentu menolak anggapan itu. Tapi, fakta yang terjadi tak bisa menutupinya.

Memang, bagaimana bisa kita berdaya di percaturan dunia bila di dalam negeri sendiri kita masih terkoyak-koyak oleh berbagai permasalahan yang menyentuh kemakmuran masyarakat? Begitu ringkihnya kita menghadapi tantangan zaman. Penggerak ekonomi masih membutuhkan yang namanya bansos dengan secara variasinya. Kita masih suka disuapi. Atau, memang pemerintah kita menghendaki mereka terus menyuapi masyarakatnya? Agar jauh dari kemandirian? Ah, entahlah.

Yang pasti, di dunia pertempean, kita yang mengklaim sebagai pemilik makanan super ini justru kian tertinggal. Tempe di negara Barat, baik itu di Amerika maupun Eropa sudah menjadi makanan berkelas. Mereka menjualnya dalam beragam jenis. Bahkan yang sudah siap saji segala. Beli tempe dalam rupa irisan yang terbungkus rapi. Bisa disimpan lama. Kemudian, bila ingin makan tinggal memasukkan microwave.

Atau, ada juga yang dijual dalam keadaan berbumbu. Ada rasa teriyaki atau buffalo wings. Pokoknya, mereka justru mampu mengemas tempe menjadi makanan sehat dan berkelas. Sementara kita, masih disibukkan dengan mencari kerupuk meskipun ada tempe yang benar-benar merupakan superfood. Ah, memang kita masih bermental tempe.(penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

Editor : Shinta Nurma Ababil
#Pemikiran #opini #mental #tempe #mental tempe