Berulang kali ucapan saya dikoreksi lawan bicara. Tidak sepenuhnya disalahkan memang. Tapi, terkesan sekali beliau-nya, yang menjadi lawan bicara saya, berusaha membetulkan apa yang saya katakan. Karena dianggap kurang tepat.
Salah satunya adalah ketika saya mengatakan AI. Bagaimana pengucapan saya? Ya sama seperti bunyi vokal itu dalam bahasa Indonesia, a dan i.
Ternyata, si lawan bicara mengulang. Sambil berkata begini, ooo ‘e ai’?. Juga sambil mengernyitkan dahi tanda berpikir lebih dulu. Tentu, maksud lawan bicara saya itu membenarkan bahwa penyebutan yang benar ya versi dalam bahasa Inggris. Karena merasa bahwa singkatan ‘AI’ itu dari artificial intelligence. So, mengatakannya pun harus pakai logat Inggris. A dibaca ‘e’ dan I diwakili ‘ai’.
Duh, hati saya kesal. Bukan karena merasa bodoh. Namun kecewa karena lawan bicara saya lupa, atau justru benar-benar tidak tahu, bila ada padanan frasa artificial intelegence itu dalam bahasa Indonesia.
Apa itu? Ya, bahasa Indonesia memiliki padanan pada frasa artificial intelligence alias AI. Singkatannya dibuat sama, A dan I. Namun kepanjangannya yang tentu saja berbeda. Bahasa Indonesia menyebut AI sebagai ‘akal imitasi’. Terjemahan dari kecerdasan buatan.
Terlepas setuju atau tidak, frasa itu sudah masuk dalam KBBI. Dan, seharusnya, sudah harus digunakan secara resmi. So, kalau menyebut AI, boleh kan, atau bahkan seharusnya, benar-benar sesuai dengan bunyi vokal a dan i. Tanpa harus melipat lidah seperti para bule di Inggris atau Amerika.
Itu satu. Lainnya? Ada ketika saya mematuhi perintah Bank Indonesia ketika menyingkat quick response code Indonesian standard dengan bunyi ‘Kris’. Eh, oleh si lawan bicara kembali dikoreksi. Oooo, ‘kiew ris’ ya... Duh!
Ada lagi, kali ini bukan pengucapan saya yang dikoreksi. Tapi, si lawan bicara yang bikin saya keki. Selalu melafalkan brand internasional dengan bahasa Inggris. Padahal, belum tentu seharusnya seperti itu. Misal, BYD kan tidak harus kita baca bi wai di kayak para bule. Toh, itu mobil dari Tiongkok. Sehingga, kalau mau persis ya baca pakai bahasa asal produsennya, biyadi. Kalau bule, bolehlah seperti itu. Tapi, kita kan orang Indonesia, mengapa tidak menyebut BYD seperti bunyi hurufnya?
Ada lagi? BMW! Orang Jerman tempat mobil itu berasal menyebut merek itu hampir serupa dengan penyebutan orang Indonesia. Tapi, kita yang orang Indonesia lebih sreg dengan mengucap bi em dobel yu. Ah!
Pertanyaannya, mengapa kita masih suka melafalkan sesuatu dengan bahasa Inggris? Atau disrempet-srempetkan seperti orang Inggris? Entahlah. Tapi, seharusnya kita sebagai bangsa memiliki karakter sendiri. Memiliki bahasa Indonesia yang ditekadkan menjadi bahasa persatuan sejak 1928. Kami, bangsa Indonesia berbahasa satu, bahasa Indonesia! Nah!
Sayang, di negeri sendiri bahasa Indonesia justru seakan menjadi bahasa kelas dua. Kalah pamor dengan bahasa cas-cis-cus-nya orang Inggris. Sampai-sampai, ada pula bahasa Indonesia yang diinggriskan, jujurly! Glodak!
Padahal, ada ungkapan yang menyebut bahasa menunjukkan bangsa. Kalau bahasa kita masih sering mengutamakan bahasa asing, di mana harga diri kita sebagai bangsa?
Jujurly, eh, jujur saja, saya tetap merasa bahwa peran bahasa sangat penting dalam semua aspek kehidupan kita. Terutama dalam level bernegara. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat ekspresi diri dan alat komunikasi saja. Bahasa juga menjadi alat integrasi dan adaptasi sosial serta alat kontrol sosial.
Itu fungsi secara umum. Ada pula bahasa dipandang dari kedudukannya. Yaitu menjadi bahasa nasional sekaligus bahasa negara. Bahasa nasional, seperti disinggung di bagian atas tulisan ini, ditegaskan dalam bentuk sumpah oleh para pemuda pada 1928. Kami, pemuda Indonesia berbahasa satu bahasa Indonesia. Kemudian status sebagai bahasa negara bersumber pada UUD 1945.
Bila kita uraikan lebih jauh, status sebagai bahasa nasional maka bahasa Indonesia memiliki fungsi yang sangat penting. Bahasa Indonesia adalah lambang kebanggaan, lambang identitas, serta alat pemersatu bangsa yang punya beragam suku ini. Selain itu, bahasa Indonesia juga menjadi alat penghubung antar-budaya. Melalui bahasa Indonesia inilah komunikasi antarmasyarakat dari Sabang sampai Merauke berjalan lancar tanpa kendala.
Nah, bila melihat agungnya fungsi dan peran bahasa Indonesia, masihkah kita menjadikannya sebagai bahasa yang medioker ketika berhadapan dengan bahasa-bahasa lain di dunia? Oh, ya tentu of course not ta?(penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)
Editor : Shinta Nurma Ababil