Manusia adalah penguasa bumi. Premis yang tak bisa dibantah. Bahkan, Islam menyebut bahwa manusia diturunkan di dunia ini-salah satunya-sebagai khalifah. Sebagai pemimpin.
Siapa yang dipimpin? Bukankah jumlah manusia miliaran orang? Kalau semua berstatus pemimpin, siapa yang dipimpin? Lalu, siapa memimpin siapa?
Tentu saja makna khalifah di kalimat itu tak sesederhana tersebut. Mengandung makna kehakikian. Hakekatnya, semua manusia adalah pemimpin. Menjadi wakil Tuhan dalam mengelola bumi, lingkungannya. Menggunakan sepenuhnya untuk kemakmuran bersama. Dengan akal dan budi yang juga turut diberikan oleh Tuhan.
Intinya, sebagai khalifah di bumi, manusia menjaga tempat ini. Menghindarkan dari kerusakan. Menjaga keberlangsungannya. Menyiapkan agar bisa dimanfaatkan oleh anak cucu hingga akhir masa dunia.
Mengapa manusia diberi kuasa sebesar itu? Seperti yang disinggung di atas, semua karena manusia diciptakan dengan akal budi. Sedangkan makhluk-makhluk Tuhan lain di bumi ini tak dilengkapi dengan hal itu. Singa si raja rimba pun hanya mampu mengedepankan nafsu dan naluri. Atau, hewan yang oleh Charles Darwin dianggap kekerabatannya paling dekat dengan manusia, kera, tak bisa berlaku seperti manusia. Tapi, manusia bisa bertingkah seperti kera.
Pertanyaannya sekarang, mampukah manusia mengemban amanah yang sangat berat itu? Bila mendasarkan pada fakta bahwa bumi masih tetap bertahan hingga sekarang ini, yang menurut sains sudah 4,5 miliar tahun, boleh jadi fungsi sebagai khalifah itu berhasil. Namun, bila melihat berbagai kejadian yang menyertai, bisa jadi peran manusia sebagai pemimpin tak sepenuhnya berhasil.
Acuannya? Tentu berbagai perang dan konflik di berbagai belahan bumi. Perang besar, yang disebut Perang Dunia, juga sudah dua kali terjadi. Dengan fatalitas yang sangat besar dan massif.
Ironisnya, konflik yang terjadi itu tak hanya antar-manusia, antar-pemimpin bumi. Juga antara manusia dengan makhluk lain yang tak berakal budi. Sepertinya, kita terlalu serakah untuk menguasai bumi ini. Menganggap semua sumber daya yang ada, boleh dieksploitasi tanpa batas. Semuanya atas nama kemakmuran manusia, sang pemimpin.
Maka, jangan heran bila kemudian manusia harus berebut lahan dengan gajah-gajah. Konfliknya pun sangat massif. Keserakahan manusia memanfaatkan lahan yang sebenarnya jadi habitat gajah membuat hewan itu terusir. Terancam punah. Dan, sayangnya, meskipun berbadan besar dan kuat, toh gajah itu tetap kalah dengan manusia yang punya akal budi dan kelicikan yang tak terkira.
Simak saja yang terjadi di Taman Nasional Tesso Nilo. Taman nasional ini ada di dua kabupaten di Provinsi Riau. Di Pelalawan dan Indragiri Hulu. Merupakan satu dari sedikit hutan basah dataran rendah yang tersisa. Yang berupaya dijadikan taman nasional untuk menjaga ekosistem dan keanekaragaman hayati. Terutama gajah, karena memang tempat ini dikenal sebagai habitat hewan berbelalai ini.
Tapi, apa yang terjadi? Atas nama perut, manusia melawan. Taman ini diprotes. Sebab, dianggap mengganggu kebun-kebun sawit yang mereka jadi pekerjanya. Jadi, mereka pun dengan gagah berani mengusir gajah, yang padahal sudah dijaga personel TNI. Gajah pun terpaksa ikut minggir dulu.
Dilematis? Bagi yang mementikan kepentingan perut sesaat, mungkin iya. Penting mana menghidupi anak bini dengan memberi ruang hidup bagi gajah? Oh, entahlah. Mungkin, mengekor Ebiet G Ade, bisa ditanyakan pada sawit yang bergoyang?
Sawit? Ini pula yang jadi problem. Tanaman ini sebenarnya sangat bermanfaat. Komoditas yang punya banyak kegunaan. Bisa jadi minyak sawit yang mampu memenuhi kebutuhan industri dan rumah tangga. Atau, bisa pula menjadi alternatif bahan bakar minyak pengganti BBM fosil. Meskipun, hingga saat ini belum ada upaya konkret mewujudkannya.
Sawit juga bisa menyerap banyak pekerja, banyak tenaga kerja. Artinya, semakin banyak perkebunan sawit yang dicetak, semakin banyak mulut yang bisa disuapi.
Wajar bila kemudian Presiden kita sempat mengatakan bahwa sawit adalah sesuatu yang harus dilakukan. Kalau perlu, penanaman sawit bisa menggeser hutan basah yang ada. Toh, menurut Presiden, sawit juga pohon. Punya akar dan daun. Bisa menyerap karbon dan mengeluarkan oksigen. Juga mengikat tanah sehingga tidak tergerus air. Artinya, versi Presiden, membabat hutan dan mengganti dengan sawit bukanlah deforestasi. Melainkan mengubah dari hutan heterogen menjadi hutan homogen.
Benarkah? Banyak ahli lingkungan yang tak sepaham. Dalihnya, kemampuan sawit dalam menyerap karbon tak ada secuil dari hutan heterogen. Demikian pula dalam produksi oksigen serta pengikat tanah. Belum lagi soal keanekaragaman hayati.
Setuju yang mana? Entahlah. Sebab, hati ini jadi kian pilu melihat banjir yang menerjang bagian barat Pulau Sumatera. Aceh dan Sibolga diluluhlantakan oleh banjir dan tanah longsor. Yang, di antaranya, ada ribuan log kayu hasil tebangan entah siapa, yang ikut membanjir. Apakah kita masih layak disebut khalifah di muka bumi? Ataukah perlu gajah-gajah di TNTN yang kita suruh menggantikan status itu? Mari kita tanya pada rumput yang bergoyang. (*)
Editor : Mahfud