Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Portal Kampus Lifestyle Khazanah Opini RK Institute Internasional Seni & Budaya

Gosip

Mahfud • Kamis, 2 Oktober 2025 - 17:31 WIB

  

ikon titik nol
ikon titik nol

Lady Whistledown boleh saja fiktif. Sosoknya ada di serial Bridgerton, serial yang bisa disaksikan di salah satu saluran streaming. Tentu saja, seperti halnya Lady Whistledown, semua sosok dan kisah di serial itu adalah fiksi belaka.

Namun, bagi saya, justru kunci dari jalinan cerita di film drama romantis berlatar masa Regency di London, Inggris itu adalah sosok pembuat gosip tersebut. Dia-dengan Lady Whistledown Newspaper-nya selalu menjadi penghias serial tiga season tersebut. Bahkan, hingga Ratu Charlotte-nah, yang ini tentu saja bukan sosok fiktif-sampai memerlukan untuk membongkar siapa sosok di balik penulis gosip di kerajaannya itu.

Apa yang dilakukan Lady Whistledown hingga membuat penguasa bingung seperti itu? Sederhana saja. Dia menulis semua hal yang terjadi di kerajaan. Intrik, skandal, dan hal-hal yang bagi sebagian orang remeh tapi ketika menjadi tulisan sangat mengundang perhatian.

Penulisnya, adalah sosok yang berbaur dengan masyarakat karena memang bagian dari community. Dia yang sepanjang hidupnya tak dipandang dan tak dianggap. Seakan-di keseharian-si penulis ini adalah no body, bukan siapa-siapa. Namun, ketika menuangkan fakta kecil ke dalam tulisan di selembar kertas menjadi yang paling dicari dan ditunggu, meskipun juga dibenci.

Kisah tentang Lady Whistledown itu memang berlatar era Regency, di tahun 1800-an. Namun, eksistensi seorang Whistledown bisa termanifestasikan sepanjang masa. Bagaimana bahwa isu, skandal, dan gosip adalah sesuatu yang sangat menarik untuk dikupas. Selalu ditunggu meskipun juga dicerca dan dihujat.

Jangan heran bila koran-koran kuning, tabloid-tabloid gosip adalah  media massa ‘kasta kedua’ tapi memiliki pembaca dan penikmat yang tinggi. Dulu, di Indonesia, ada tabloid Monitor yang menampilkan berita-berita gosip. Hingga akhirnya dibreidel karena terpeleset survei yang dianggap intoleran.

Siapa di balik tabloid Monitor? Apakah seorang penggosip? Jangan salah, sosok di belakang layar tabloid tersebut adalah seorang Arswendo Atmowiloto. Jurnalis yang punya kredibilitas yang tak bisa dipandang sepele.

Ketika di tangan seorang jurnalis, gosip tentu saja tak sekadar rasan-rasan. Karena ketika menjadi bahan berita, gosip akan menemukan konfirmasinya. Artinya, akuntabilitasnya menjadi naik kelas. Tak lagi hanya berdasarkan pada asumsi dan sudut pandang si penggosip saja. Tapi ada cek dan ricek, ada konfirmasi, ada keseimbangan pemberitaan. Tentu saja, inilah yang menjadi pembeda dari ‘tabloid’ Lady Whistledown.

Sayangnya, ini yang tidak atau kurang ditangkap oleh media-media massa saat ini. Kekuatan konfirmasi tak mampu difungsikan sepenuhnya. Media massa, baik cetak maupun online, banyak yang terjebak dalam isu dan gosip semata. Tanpa ada upaya untuk memperjelas ada apa di balik kasus tersebut. Media massa-cetak maupun online-larut dalam hingar bingar media sosial. Yang seringkali langsung lolos tanpa ada penyaringan cek dan ricek.  

Media massa seakan hanya jadi kepanjangan tangan media sosial. Tanpa ada upaya konfirmasi yang serius, pendalaman, dan analisa terhadap satu peristiwa.

Maka, jangan heran bila kemudian fungsi media massa banyak yang digantikan oleh sosok-sosok personal yang hadir dalam bingkai podcast atau konten perbincangan semacam Densu, Denny Sumargo. Seringkali program milik selebritas itu mampu menjadi penggalang dan penggiring opini yang efektif.

Terbaru, adalah ‘drama’ tentang perseteruan tetangga di salah satu perumahan di Kota Malang. Yang satu adalah seorang dosen dan tokoh agama (meskipun pada akhirnya menjadi mantan dosen) sedangkan satunya adalah pemilik rental yang juga seorang mahasiswa doktoral di salah satu universitas negeri di Kota Malang.

Awal ‘gosip’ itu muncul, semua media massa memberitakan hanya berdasarkan pada video viral. Tanpa ada upaya untuk melakukan konfirmasi dan pendalaman. Jadinya, berita yang muncul baik di media-media massa juga nyaris seragam. Lebih banyak mendiskreditkan sosok tetangga yang mantan dosen.

Namun, semua berubah ketika sang tetangga itu ditampilkan di podcast Densu. Fakta-fakta yang belum terungkap dimunculkan seluruhnya. Apa yang selama ini jadi anggapan umum dimentahkan dengan data baru. Dan, itu semua keluar dari acara yang jelas bukan dari media mainstream. Hasilnya, opini publik pun berbalik arah.

Tapi, tentu saja saya tak ingin berlarut-larut tenggelam dengan gosip tersebut. Hanya, sebagai penegasan, bahwa gosip bisa menjadi berita yang bagus bila disertai dengan konfirmasi berimbang dan pendalaman. Harus ada netralitas yang dijaga. Namun, bukan berarti mengorbankan fakta-fakta yang ada. Netralitas adalah menempatkan posisi sesuai fakta yang ada. Tidak dibuat-buat dan tidak direkayasa.

Bagi kalangan media, hal ini sangat penting dilakukan. Bila tidak, jangan kaget bila peran-peran yang mereka emban selama ini akan diambil alih oleh akun-akun podcast seperti milik Densu itu. Yang terbukti mampu menempatkan isu dan gosip dengan tepat. Menggali dan memperdalam untuk mencari fakta yang tersembunyi.

Editor : Mahfud
#media massa #Tabloid #gosip