Bebal. Kata ini punya padanan bodoh. Sukar mengerti, tidak tajam pikirannya. Mereka yang dicap bebal juga akan mendapat predikat sebagai keras kepala, tak mau menerima nasihat, dan ogah diberi tahu.
Menariknya, sifat bebal kemudian diidentikkan dengan keledai. Hingga keluar ungkapan yang menyebut, hanya keledai yang terperosok ke dalam lubang yang sama hingga dua kali.
Lalu, benarkah keledai itu hewan bodoh? Entahlah. Hingga saat ini, belum ada bantahan dari sang hewan. Juga, belum ada somasi dari binatang yang serumpun dengan kuda ini. Justru yang membela adalah kita, para manusia. Karena ada yang membantah anggapan bahwa keledai itu bodoh.
Justru, keledai adalah hewan dengan kecerdasan tertentu, yang sangat unik. Hewan ini punya sifat tangguh dan sabar yang sangat tinggi. Yang sangat berhati-hati dan analitis dalam mengamati sesuatu. Sebelum memutuskan langkah apa yang dipilih.
Tak percaya? Tengok saja Partai Demokrat di Amerika Serikat. Partai yang melahirkan presiden besar macam JFK itu justru menjadikan keledai sebagai lambang partainya.
Lalu, apakah partainya Kamala Haris itu berisi orang-orang bebal? Tentu saja bukan. Konon, pendiri partai-Andrew Jackson-memilih keledai sebagai simbol kekuatan, ketekunan, dan kegigihan yang tak kenal lelah. Meskipun awalnya datang dari olok-olok lawan politiknya.
Jadi, mana yang bebal? Manusia atau keledai?
Ah, tentu saja tidak bisa disamakan. Sebab, bebal adalah kata sifat. Melambangkan sesuatu ciri khas dari karakter manusia. Seperti yang disebut di atas, bebal itu untuk mengartikan sifat orang yang keras kepala, tidak mau dinasihati, tidak mendengarkan perkataan orang lain, keras kepala, serta tidak tajam pikirannya.
Beda dengan hewan yang tidak memiliki volume otak yang cukup untuk berpikir dan berbudi daya, manusia justru sebaliknya. Kita dikaruniai akal pikiran. Yang bisa kita gunakan untuk berpikir, menganalisa, sebelum akhirnya memutuskan untuk melakukan apa.
Sayangnya, anugerah Tuhan itu kadang tidak kita gunakan. Kalah dan tenggelam oleh hawa nafsu. Akal sehat sering terkapar ketika berhadapan dengan hasrat syahwat. Bermodal nekat orang kerap melakukan tindakan bejat, tak berakal, tak bermoral. Keinginan lebih sering mengalahkan kebutuhan.
Anugerah berpikir yang dimiliki manusia sering hanya menjadi hiasan di dalam tengkorak saja. Tanpa bisa kita manfaatkan untuk melakukan hal yang lebih bermakna. Sedangkan tangan dan kaki kita justru diatur oleh nafsu angkara. Keinginan-keinginan yang tak memedulikan tata krama sosial maupun tata etika politik.
Paling sahih adalah melihat sikap dan sifat para wakil rakyat kita. Mereka yang mengklaim pembawa aspirasi kaum jelata justru melakukan tindakan yang melukai perasaan kaum papa. Di tengah kesulitan yang mendera di semua bidang, para wakil rakyat itu justru merasa tak salah dengan terus memamerkan kemewahan. Menunjukkan kerakusan dengan terus meminta fasilitas berlebih yang nilainya sangat fantastis.
Mereka minta tunjangan rumah. Dengan alasan tidak memiliki rumah di Ibu Kota. Padahal, gaji mereka sudah sangat fantastis. Yang bagi buruh angkut di Pasar Setonobetek tak sanggup untuk membayangkan.
Anehnya, mereka itu-para wakil rakyat itu-datang dari orang yang sudah kaya. Dengan harta yang berlimpah. Seandainya tidak kaya, tidak mungkin mereka mampu mebiayai upaya menuju gedung dewan. Untuk membeli suara para jelata.
Nah, kok untuk membeli suara? Ah, seperti tak tahu saja. Kita memang punya sistem demokrasi yang menggelar pemilu setiap lima tahun. Tapi, siapa yang bisa menyangkal bahwa para pemilih banyak yang menyalurkan aspirasinya karena berdasar pada pemberian yang tak seberapa itu?
Bila seperti ini, siapa yang akhirnya bebal? Para wakil rakyat yang kita pilih yang pamer kekayaan itu? Atau kita yang memilih wakil rakyat hanya berdasar pada berapa rupiah dia membeli suara kita?
Pusing? Tak bisa menjawab? Atau ternyata memang kita yang benar-benar bebal? Yang tak bisa lepas dari kesalahan demi kesalahan? Lepas dari satu kefatalan ganti jatuh dalam kefatalan yang lain? Bebal karena tak mampu memanfaatkan tonggak reformasi demi kemaslahatan semua para jelata?
Ah, ada baiknya kita berdiskusi dengan para keledai yang ternyata tidak bebal itu.(*)
Editor : Mahfud