Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kebenaran Vs Kepentingan

Mahfud • Kamis, 31 Juli 2025 | 19:33 WIB
Logo Titik Nol Opini
Logo Titik Nol Opini

Zero Day. Ini adalah judul satu film yang tayang di Netflix. Minseri enam episode. Itu di season pertama. Entahlah, melihat banyaknya pujian yang mengiringi film thriller politik dengan bintang utama Robert De Niro itu mungkinkah ada season 2? Ah, semua serba mungkin kalau terkait fulus.

Saya sih, sebenarnya, awalnya illfill dengan film ini. Begitu tahu rilis dan dengan premis yang oke-tentang kiamat syber di Negeri Uncle Sam-saya kurang berminat. Alasan saya, ini serial. Pasti cerita bertele-tele. Dibuat agar bisa berpanjang-panjang. Meskipun tak sebertele-tele sinetron kita, toh masih membuat saya kurang bisa menikmati.

Toh, nama besar Robert De Niro plus sederet aktor dan aktris beken lain membuat saya penasaran. Apalagi, ketika saya lihat jumlah episodenya ternyata cuman enam! Ah, ini pasti tidak terlalu bertele-tele. Begitu pikir saya.

Maka, tersentuhlah tombol play. Selesai episode 1, berlanjut ke 2, terus, dan terus hingga tuntas di episode 6. Ketika dengan gentle sang mantan Presiden US bernama George Mullen membacakan laporan akhir tentang komisi tentang kiamat syber yang dia pimpin. Menyebut keterlibatan anaknya-seorang anggota kongres-sebagai otak kejahatan, plus ketua DPR.

Apa asyiknya? Toh, sudah biasa film produksi Hollywood yang berujung happy ending. Menunjukkan jiwa patriot American, seorang Amerika. Yang menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun golongan.

Ya, saya setuju itu. Terlepas film ini memang relatif bagus untuk ukuran serial thriller politik yang dipenuhi intrik, pendasaran ceritanya memang reguler. Biasa. Namun, memang harus diakui, dibalut dengan suspense politik yang bikin penasaran. Banyak alur yang ‘tak terduga’. Berbelok dari perkiraan.

Tapi, saya bukan sedang menulis resensi film itu. Atau membuat ringkasan dan memunculkan spoiler. Toh, film-film seperti ini tak terlalu banyak memiliki penikmat. Hanya mereka yang benar-benar suka dengan genre thriller politik yang menyukai. Termasuk, sebenarnya, saya.

Lalu, apa tujuan saya membuat tulisan dengan narasi pembuka film yang-oleh beberapa reviewer-disebut menokohkan sosok presiden impian orang Amerika saat ini itu? Mencari pemahaman kita, sebagai manusia, tentang kebenaran.

Dalam satu sesi dialog antara tokoh mantan Presiden, George Mullent, dengan Presiden yang berkuasa, Evelin Mitcheel-diperankan lumayan apik oleh Angela Basset-ada yang menyinggung soal kebenaran.

Saat itu, Mullent menyampaikan soal hasil investigasi komite yang dia pimpin. Tentang siapa yang mendalangi peretasan syber yang membuat Amerika bak kiamat. Semua sistem mati. Memang hanya sebentar tapi membuat korban meninggal sangat besar.

Temuan komite khusus itu adalah keterlibatan orang penting di Amerika. Yaitu ketua DPR, Richard Dreyer beserta kroni-kroninya. Implikasi bila hasil itu dibuka adalah kekacauan politik. Termasuk terjerumusnya anak Mullent, Alexandra.

Sang mantan presiden tegas mengatakan, kebenaran adalah kebenaran. Yang harus diberitakan meskipun ada rasa sakit yang mengiringi. Sedangkan sang Presiden wanita itu justru punya pendapat lain. Kebenaran memang adalah kebenaran. Namun, bukan yang paling penting.

Inilah yang langsung membuat saya berdialog dengan batin saya. Ya, ternyata ini yang selama ini terjadi. Kebenaran adalah tetap kebenaran. Tapi, bisa jadi dia bukan sesuatu yang paling penting. Kebenaran bisa ditepikan. Itu kalau berisiko menghancurkan kepentingan yang lebih besar.

Setujukah dengan premis itu? Idealisme kita tentu menolak. Tapi, percayakah Anda bahwa ternyata situasi seperti itu banyak terjadi di sekeliling kita. Jangan jauh-jauh ke ranah politik yang sudah pasti hal seperti itu adalah sesuatu yang biasa. Mari kita tengok yang ada di sekitar kita dulu.

Apakah kebenaran-kebenaran tentang diri kita berani kita katakan terus terang? Itu kalau citra kita di mata anak-anak, istri, tetangga, menjadi kepentingan yang lebih besar.

Beranikah kita berterus terang bila mengancam keharmonisan keluarga? Atau berganti dengan berkompromi? Menyampaikan yang perlu diketahui? Kemudian menutupi sisi lainnya?

Ironinya, hal-hal seperti itu juga terjadi di lingkup lebih tinggi. Menjerat para elit di berbagai level. Mulai tingkat desa, kelurahan, kota, provinsi, hingga negara. Kebenaran kadang-atau bahkan sering-ditepikan. Atas nama kepentingan negara yang lebih besar. Seseorang yang bersalah pun bisa bebas demi untuk alasan itu.

Ah, politik memang penuh pencitraan. Paling penting adalah soal citra. Bukan lagi soal kebenaran. Kehidupan berbangsa tidak lagi disusun dari saling percaya berdasar kebenaran hakiki. Melainkan, diikat pada kepentingan yang harus dicapai.

Kita ingin negara makmur, maka kebenaran harus minggir demi tercapai hal itu. Ingin negara aman pun sama juga. Komitmen bernegara kerap kali harus mengalahkan kepentingan individu.

Harapannya sih, kepentingan yang diutamakan itu memang benar-benar untuk kemaslahatan bersama. Hilangnya kebenaran bisa jadi masih bisa dimaklumi. Sayangnya, bisakah kita yakin bahwa sesuatu yang penting, yang sampai menghilangkan kebenaran itu memang untuk kepentingan bersama? Bukan sekadar menutupi atau membela kepentingan pihak tertentu?

Ah, mencari kebenaran memang sulit. Bagi Anda, apakah kebenaran tak selalu penting? Dan kepentingan yang selalu benar? (*)

 

 

 

 

Editor : Mahfud
#zero day #kepentingan #kebenaran