Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

(A)kal (I)mitasi

Mahfud • Jumat, 13 Juni 2025 | 18:15 WIB
ilustrasi
ilustrasi

 Masyarakat kita memang sangat pandai menyerap kosa kata asing menjadi sangat meng-Indonesia. Tak percaya? Coba lihat akronim ATM. Bila merujuk pada bahasa asalnya, singkatan itu memiliki kepanjangan sebagai auto  teller machine. Bila diartikan sesuai kata per kata, dalam bahasa Indonesia adalah mesin teler otomatis.

Namun, lidah dan pendengaran kita sudah sangat-atau bahkan-telanjur familiar dengan ATM. Maka, munculah penerjemahan ‘bebas’ yang tak menghilangkan penyingkatan ATM. Apa itu? Anjungan tunai mandiri! Nah lho!

Tepatkah? Boleh diperdebatkan. Pasti, yang ingin mendebat juga punya dasar atau alasan. Toh, kata itu sudah menjadi bagian dari kamus besar bahasa Indonesia (KBBI).

Nah, penerjemahan secara sangat longgar itu kini terjadi pada AI, artificial intelligence. Yang secara makna bisa berarti kecerdasan buatan. Namun, bagi kebanyakan kita, akronim AI sudah sangat familiar. Maka, dicarilah pengartian yang tidak berbeda dengan dua kata itu.

Jadinya? Simsalabim….ketemunya adalah Akal Imitasi! Lho?

Tepatkah? Sekali lagi, sangat terbuka untuk berdebat. Saya juga yakin, mereka yang beradu argument tentang pengartian kata AI ke dalam bahasa Indonesia juga punya dasar dan alasan kuat. Entah kuat secara teoritis atau kuat  versi pokoke.

Namun, dalam pandangan saya, mengartikan AI sebagai akal imitasi adalah satu hal yang mencari mudahnya. Yang tidak ingin menghilangkan popularitas AI dengan kata lain.

Mungkin, bila kita mengartikan artificial intelligence dengan kecerdasan buatan, maka yang akan menjadi singkatannya adalah KB. Jelas, akronim ini meskipun sama-sama terdiri dari dua huruf jauh kalah populer dengan AI. Common sense! Masuk akal!

Meskipun, sejatinya, menyamakan artificial dengan imitasi adalah kurang pas. Dalam berbagai kamus bahasa Inggris terjembahan Indonesia, artificial lebih merujuk pada buatan.

Sementara, imitasi lebih merujuk pada imitation. Artinya, orang pengguna bahasa Inggris tidak menggunakan kata imitation untuk padanan artificial. Dari logika ini saja, sebenarnya-menurut hemat saya-mengartikan kata artificial dengan imitasi merupakan langkah kurang tepat.

Belum lagi menyandingkan intelligence dengan akal. Menurut saya, juga kurang pas. Ada nuansa yang membuat kecerdasan berbeda dengan akal. Cerdas, lebih bernuansa pada pola atau kemampuan berpikir. Sedangkan akal, lebih merujuk pada cara.

Ah, sudahlah. Toh frasa akal imitasi ini sudah kian marak digunakan. Toh, juga sudah banyak kalangan yang menerima tanpa reserve. Atau, yang tak peduli dan tak mau tahu. Yang penting, orang tahu kalau akal  imitasi itu ya artificial intelligence.

Ah, memang seperti itulah manusia. Kadang senangnya mencari mudahnya. Kalau ada yang mudah mengapa jadi dipersulit? Meskipun dalam beberapa hal, kalimat itu dibalik. Kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah?

Ah, sudahlah. Manusia memang senangnya mempersulit diri sendiri. Niatnya sih ingin mempermudah. Tapi, siapa sangka kesulitan yang justru dituai. Kasusnya, ya seperti si AI, akal imitasi ini.

Mengapa? Tentu semua bisa mengatakan, manusia membuat AI dengan tujuan memudahkan mereka. Membuah hidup yang lebih berkualitas. Membantu memudahkan semua urusan. Dari yang sulit menjadi simple. Membuat manusia sebagai pembuatnya bisa ongkang-ongkang. Sedangkan segala sesuatunya dilakukan atau dikerjakan oleh si akal imitasi tersebut.

Lho, bukankah memang seperti itu? Yap! Dalam satu sisi memang benar adanya. Kehadiran si akal imitasi bisa membuat banyak pekerjaan menjadi mudah.

Tapi, di sisi lain, kehadiran si akal imitasi ini justru membuat repot banyak orang. Banyak lapangan pekerjaan yang tertutup gara-gara si AI ini. Banyak pula bisnis yang gulung tikar karena kehadiran si pintar buatan itu. Bahkan, ada yang meramal, dalam beberapa tahun ke depan akan terjadi kiamat AI. Ketika peran manusia tergusur oleh kehadiran AI.

Akhirnya, muncullah perdebatan lagi. Ada yang pro AI. Ada yang kontra. Ada juga yang ingin ada pengaturan AI. Sisi kehidupan mana yang boleh memanfaatkan dan sisi mana yang tidak boleh.

Penulis, konten kreator, jurnalis, kartunis, pelukis, dan beberapa pekerjaan serta profesi lain disebut-sebut yang terancam. Kehadiran AI bisa menggantikan peran dan fungsi mereka. Anak sekolah menjadi bodoh gara-gara selalu mengerjakan tugas bertanya kepada si AI.

Jadi, siapa sebenarnya yang salah dengan rebut-ribut soal AI ini? Manusia, yang notabene adalah pembuatnya? Ataukah si AI yang sejatinya hanya berpikir dari data-data yang dimasukkan oleh manusia? Atau, justru yang ribut-ribut seperti saya ini yang salah? Ah, ada baiknya kita menunggu suara tokek berbunyi. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri).

 

 

 

Editor : Mahfud
#kecerdasan buatan #akal imitasi