Apa sebenarnya patokan suatu daerah menentukan hari jadinya? Fakta empiris, yang bisa dilihat dari sejarah administrasi pemerintahan? Ataukah cikal bakal berdirinya daerah itu sejak awal?
Sulit menjawab? Bisa jadi. Karena soal penetapan hari jadi suatu daerah hingga kini belum ada konsensusnya.
Ada yang mendasarkan pada patokan catatan sejarah administrasi terbentuknya pemerintahan. Ada pula yang memilih mencari kilas balik babat alas suatu desa, satu komunitas.
Untuk alasan pertama, ada beberapa contoh. Sebut saja Kota Malang.
Kota tersebut mendasarkan hari jadinya pada keputusan Pemerintah Kolonial Belanda yang mendirikan gemente alias kota praja pada 1 April 1914.
Demikian pula dengan Kabupaten Jember. Yang juga mendasarkan hari ulang tahunnya pada Staatsblad nomor 322, tertanggal 9 Agustus 1928. Yaitu peraturan Pemerintah Kolonial Belanda terkait pendirian Kabupaten Jember.
Staatsblad itu berlaku efektif pada 1 Januari 1929. Yang dijadikan patokan hari ulang tahun mereka. Jadi, setiap 1 Januari, warga dan pemerintah Kabupaten Jember merayakan ulang tahunnya.
Tapi, ada pula daerah yang tidak mendasarkan hari jadinya dari kiprah politik pemerintah kolonial. Jakarta misalnya. Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) ini menganggap hari jadinya adalah ketika Sultan Fatahillah, Raja Demak, menyerang Sunda Kelapa pada 22 Juni 1527.
Saat itu, Sunda Kelapa merupakan daerah yang menjadi basis perdagangan Portugis.
Setelah berhasil mengambil alih Sunda Kelapa, Fatahillah mengganti namanya menjadi Jayakarta. Yang kemudian berubah menjadi Jakarta.
Maka, setiap tanggal itulah warga Betawi bersuka cita merayakan ulang tahun daerahnya.
Yang menarik adalah Hari Jadi Surabaya. Daerah ini sempat mengubah tanggal hari jadinya. Dari semula 1 April menjadi 31 Mei.
Mengapa? Ternyata, terjadi ‘pertempuran’ ide terkait kapan munculnya wilayah bernama Surabaya.
Awalnya, pemerintah setempat menetapkan 1 April sebagai tanggal hari jadinya. Dasarnya? Hampir sama dengan Kota Malang dan Kabupaten Jember, karena 1 April 1906 adalah saat ketika Pemerintah Kolonial Belanda membentuk Kota Surabaya.
Jadi, asumsinya jelas fakta empiris administratif. Yang merupakan dampak dari kebijakan politik pemerintahan.
Ternyata, ada yang menentang. Menganggap hal itu berbau kolonial. Akhirnya, di masa pemerintahan Wali Kota Soekotjo pada 1975, dicarilah alternatif lain. Hasilnya, ulang tahun Kota Surabaya menjadi 31 Mei 1293.
Apa dasarnya? Kemenangan Raden Wijaya atas bala tentara Tartar dari Mongolia.
Kemenangan itu, konon, terjadi di Ujung Galuh, tempat di mana Surabaya berada. Menurut yang setuju, kisah ini lebih heroik dan tidak kekolonial-kolonialan.
Lalu, mana yang benar? Kalau saya, lebih cenderung hari jadi yang melakukan pendekatan fakta sejarah empiris. Yang nilai objektivitasnya lebih kuat.
Contohnya, tidak ada yang bisa membantah staatsblad pembentukan gemente oleh pemerintah kolonial. Datanya ada dan akurat. Terlepas dari itu merupakan bentukan kolonial, tapi itulah fakta yang ada.
Toh, yang mereka rayakan ulang tahunnya adalah kota atau kabupaten? Nah, bila merujuk pada hal tersebut tentu saja data dan arsip tentang pembentukan kota atau kabupaten yang paling punya validitas tinggi.
Dibanding harus mengumpulkan fakta sejarah masa lampu yang justru belum tentu tepat detil-detil lokasinya. Sebab, harus membaca data dari prasasti atau kitab kuno yang kadang berbeda asumsi dan analisa setiap orang.
Bagaimana dengan Kediri?
Nah, Kediri memiliki dua wilayah yang berbeda pemerintah daerahnya. Kota Kediri dan Kabupaten Kediri. Dua-duanya memiliki hari jadi yang dasar sejarahnya berbeda.
Kabupaten Kediri memiliki usia yang ribuan tahun. Yaitu 1.221 tahun pada 2025 ini.
Dasarnya adalah pemberian tanah sima kepada tokoh adat pada 25 Maret 804. Fakta-fakta ini diambil dari prasasti Harinjing yang ditemukan di wilayah Desa Siman, Kecamatan Kepung.
Dulu, saya masih ingat, peringatan ini disebut sebagai hari jadi Kediri.
Mereka tak menggunakan istilah hari jadi kabupaten. Sebab, fakta sejarahnya memang prasasti Harinjing sebagai bukti adanya wilayah yang menjadi cikal bakal daerah bernama Kediri saat ini.
Sedangkan nama Kabupaten Kediri baru muncul pada 8 Agustus 1950. Berdasarkan Undang-Undang nomor 12 di tahun yang sama.
Kalau Kota Kediri? Ini menariknya. Pemerintah Kota Kediri punya hari jadi yang usianya juga ribuan tahun.
Tepatnya 1.143 tahun. Karena kota ini dianggap berdiri pada 27 Juli 879. Berdasarkan-menurut para perumusnya-prasasti Kwak.
Uniknya, Prasasti Kwak-yang ada dua-itu berada di Desa Ngaben, Magelang, Jawa Tengah. Yang konon-ada kisah tentang pembentukan wilayah bernama Kediri.
Okelah, kita percaya pada fakta sejarah yang tertulis di prasasti tersebut. Tapi, kalau itu yang digunakan, harusnya bukan hari jadi Kota Kediri. Melainkan hari jadi Kediri. Karena saat itu tentu tak ada strutur maupun sistem pemerintahan kota maupun kabupaten.
Bila menyebut Hari Jadi Kota Kediri, tentu saja yang lebih pas adalah kapan gementee Kediri didirikan. Nah, kalau ini ada catatan jelas yang tak terbantahkan. Yaitu pada 1 April 1906.
Berdasarkan pada staasblad nomor 148 yang bertanggal 1 Maret 1906. Alias satu bulan sebelum gementee Kediri mulai aktif.
Lalu, mana yang benar? Mari kita tanyakan pada rumput yang bergoyang. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira