Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Portal Kampus Lifestyle Khazanah Opini RK Institute Internasional Seni & Budaya

Kumpeni

Mahfud • Jumat, 16 Mei 2025 - 09:15 WIB
Photo
Photo

Sebenarnya, berapa lama sih Belanda menjajah kita? Dalam banyak literatur sejarah, termasuk yang saya pelajari saat sekolah menengah, Indonesia dijajah Negeri Kincir Angin tersebut selama 350 tahun!

Artinya, bila dihitung mundur dari waktu proklamasi kemerdekaan pada 1945, Belanda sudah menguasai dan mengolonialisasi kita sejak 1595.

Benarkah? Ada baiknya kita belajar sejarah lagi. Kedatangan Belanda ke Indonesia-tentu saja saat itu belum ada nama Indonesia-ditandai dengan mendaratnya sang penjelajah bernama Cornelis de Houtman. Si Cornelis ini mendarat di Banten pada 1596.

Nah, bila mengacu pada catatan ini, angka 350 tahun tersebut sudah layak dipertanyakan. Sebab, Cornelis de Houtman pertama kali datang tidak dengan balatentara.

Itupun, dia datang setahun lebih lambat dari tahun yang  diperoleh berdasar hitungan di awal tulisan.

Belum lagi, masih berdasar buku sejarah yang saya pelajari waktu sekolah, ada tiga tahun masa penjajahan belanda sejak 1942. Kemudian, ada juga kekuasaan Perancis (1800-1811) dan Inggris (1811-1816) di sela-sela hegemoni Belanda terhadap pribumi Nusantara.

Fakta lain, Pemerintah Belanda tidak sepenuhnya berkuasa sejak Cornelis de Houtman menjejakkan kaki di Bumi Pertiwi.

Sebab, ada VOC (Verenigde Oostindische Compagnie-semacam perserikatan dagang Belanda) yang justru lebih dulu menguasai. Dan, serikat yang oleh pribumi disebut Kumpeni inilah yang lebih dulu mengeksplorasi Nusantara.

Si Kumpeni ini bukanlah perwakilan Kerajaan Belanda di Hindia Belanda. Melainkan  kongsi dagang yang bertujuan untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah dari Indonesia. Meskipun mereka memiliki kekuatan militer, tujuan utamanya adalah untuk menjaga hegemoni dagang mereka.

Juga, ketika Kumpeni berkuasa, masih banyak kerajaan-kerajaan di Nusantara yang berdiri berdaulat.

Hingga akhirnya VOC bangkrut dan wilayah dagangnya dikuasai oleh Pemerintah Kerajaan Belanda pada 1800.

Nah, apakah Belanda menjajah kita sejak tahun itu? Tunggu dulu, hingga 1816, kekuasaan di Indonesia dipegang bergantian oleh Perancis dan Inggris. Ini tak lepas dari situasi politik Eropa saat itu.

Masih ada lagi. Sejarah mencatat kerajaan Aceh baru menyerah pada Belanda pada 1905! Artinya, jaraknya hanya 40 tahun dari waktu Proklamasi Kemerdekaan. Nah lho...!

Lalu, dari mana angka 350 tahun Belanda menjajah Indonesia? Entahlah. Yang pasti, sejarawan Kuntowijoyo mengatakan bahwa sejarah adalah rekonstruksi peristiwa masa lalu yang dikontekstualisasikan pada kehidupan kekinian dan masa datang.

Sejarah bukan cuman cerita masa lalu. Juga proses pemahaman dan reinterpretasi peristiwa yang telah terjadi.

Sederhananya, sejarah hanya persoalan cara membaca peristiwa yang terjadi di masa lampau. Reinterpretasi si pembaca sejarah juga sangat berpengaruh. Termasuk siapa yang berkepentingan. Dalam hal ini tentu saja terkait rezim berkuasa.

Ada yang bilang, angka 350 tahun itu digunakan untuk membakar semangat masyarakat saat itu. Agar bergelora mengangkat senjata melawan penjajah Belanda. Apakah ini benar, ya siapa yang tahu?

Yang pasti, dalam banyak hal sejarah memang bergantung pada interpretasi orang atau kelompok. Termasuk pula soal kepentingan-kepentingan yang ada di seputar isu sejarah itu. Terutama kepentingan para pemenang alias rezim yang berkuasa.

Tak luput juga sejarah berdiri atau terbentuknya wilayah-wilayah seperti Kota dan Kabupaten Kediri.

Yang sangat bergantung pada interpretasi sang perumus sejarah. Bila si perumus mendasari interpretasinya pada hal yang objektif, mungkin tidak akan banyak melenceng. Namun, bila kemudian ditumpangi kepentingan tertentu, termasuk kepentingan politik, ya bisa runyam ceritanya.

Contohnya, menentukan usia Kota Kediri hingga ribuan tahun adalah sesuatu yang jauh dari objektivitas.

Sebab, di usia seperti itu dulu tidak ada yang namanya kota atau kabupaten. Karena berdirinya kota atau kabupaten jelas sangat terkait dengan proses administrasi pemerintahan atau kenegaraan.

Sementara, usia ribuan tahun seperti yang dirayakan selama ini, mungkin benar untuk terbentuknya satu wilayah permukiman.

Yang jadi cikal bakal terbentuknya komunitas, kemudian berkembang menjadi dusun, desa, hingga kerajaan.

Itupun, pendasaran pada satu prasasti tertentu pun belum tentu benar. Apalagi jika prasasti itu tidak pernah ditemukan secara langsung di lokasi yang dianggap menjadi cikal bakal wilayah.

Lalu, apakah sejarah itu bisa dikoreksi? Jelas bisa. Kembali lagi karena sejarah adalah terkait interpretasi dalam membaca fakta masa lampau.

Interpretasi yang paling mendekati objektif yang harus dicari. Toh, di beberapa daerah lain juga sempat ada koreksi tentang hari jadi tersebut.

Tinggal mereka yang berkepentingan apakah bersedia mengembalikan sejarah menjadi fakta yang paling mendekati objektif ataukah hanya untuk kepentingan propaganda semata?(penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri).

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#radar kediri #opini artikel