Gengsi

Mahfud • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 15:22 WIB
Titik Nol Opini
Titik Nol Opini

Bila kita meminum sebotol air minum dalam kemasan merek tertentu, apakah itu berarti kita butuh minum karena haus? Atau hanya sekadar ingin minum dengan merek yang sudah kita anggap paling nge-branded?

Ah, ada-ada saja pertanyaannya. Ya pasti minum karena butuh! Karena haus!

Nah, bila itu jawabannya, mengapa harus mengambil merek tertentu? Mengapa tidak merek sembarang? Atau, minum air rebusan di rumah? Bukan mendapatkannya dari merek air minum kemasan yang kita fanatiki?

Ya karena merek itu berkualitas. Kandungan mineralnya, atau apalah namanya, bagus. Membuat tubuh kita bisa sehat, segar, dan bugar!

Baca Juga: Anak Muda dan Gaya Hidup Hedon: Ketika Nongkrong dan Tren Jadi Bagian dari Keseharian

Waduh, bukankah mbah-mbah kita, moyang kita, dulu minum dari air rebusan? Bahkan, ada yang langsung mengambilnya dari sumur. Faktanya, mereka kerap berumur panjang hingga mendekati seratus tahun. Dan, tetap fit!

Itu mungkin contoh kecil bagaimana sekarang ini sulit untuk memisahkan antara kebutuhan dengan keinginan. Kadang, kita seperti sangat butuh. Padahal, apa yang kita harapkan itu cuma keinginan. Kalaupun tidak dituruti ya tidak apa-apa.

Contohnya? Ya minum itu tadi. Kalau memang butuh minum agar tidak dehidrasi, ya sembarang air-asalkan layak-bisa diminum. Kalau adanya air kemasan, ya sembarang merek tak masalah. Bukannya kita pilih harus merek ‘A’ harus merek ‘C’ atau lainnya. Ketika butuh minum, ya minum aja.

Sayangnya, semakin ke sini kita kerap terjebak dalam jebakan ingin itu. Bila kita ingin ngopi, ya harus dari gerai merek ternama yang harga per cup kecil bisa puluhan ribu. Sedangkan bila pesan kopi di warung-warung kampung paling banter Rp 5 ribu sudah satu cangkir.

Baca Juga: 8 Tips Gaya Hidup Minimalis, Rumah Rapi dan Tenang Dijamin Bikin Pemiliknya Nyaman

Demikian pula bila kita berpakaian, berkendaraan, bersepatu, dan ber-ber yang lain. Harus sesuai dengan standard keinginan. Bukan karena memenuhi kebutuhan.

Apakah itu salah? Bisa ya, bisa juga tidak. Tidak salah bila memang kita mampu untuk memenuhi keinginan itu. Namun, bisa menyengsarakan bila kita memaksakan memenuhi rasa ingin tersebut.

Lalu, apa sebenarnya perbedaan kebutuhan dan keinginan? Simpel. Kebutuhan adalah tuntutan yang harus dipenuhi. Contoh sederhananya adalah makan, minum, pakaian, dan rumah. Sementara bila keinginan adalah cara individu dalam memenuhi kebutuhan. Biasanya dipengaruhi oleh lingkungan sosial, kepribadian, atau bahkan kultur.

Kebutuhan bersifat universal. Artinya, orang memang butuh hal yang disebut sandang, pangan, papan. Dan, itu bisa terbatas. Artinya, bila tiga itu terpenuhi ya sudah. Kalau lapar maka butuh makan. Setelah makan, ya sudah, jadi kenyang.

Sedangkan keinginan, sebenarnya tidak esensial untuk kelangsungan hidup. Kalau kita tidak minum air merek ‘A’ toh juga tidak apa-apa. Tidak mati, asalkan masih tersedia air, meskipun dari sumur. Selain itu, keinginan sifatnya sangat tidak terbatas.

Intinya, kebutuhan sangat terkait dengan sesuatu yang biologis. Perut lapar, ya secara biologis harus ‘dipuaskan’ dengan makan. Apapun makanan itu. Yang penting ada yang masuk ke lambung, dicerna, dan menjadi energi.

Sedangkan keinginan, ini terkait dengan faktor psikologis. Rumitnya, sekarang ini sudah sulit dibedakan apakah yang kita lakukan benar-benar terkait kebutuhan biologis atau ‘kebutuhan’ psikologis. Penyebabnya karena manusia adalah makhluk sosial. Yang punya hirarki kebutuhan. Bisa jadi yang dulu tidak butuh sekarang dibutuhkan. Manusia membuat standarnya sendiri kebutuhan apa yang dia harus penuhi.

Abraham Maslow pun menyadari itu. Dia merumuskan piramida kebutuhan. Nah, makin tinggi, kebutuhan biologis itu berganti menjadi keinginan psikologis dan sosial.

Paling dasar hanya ada makan, minum, dan tidur. Inilah yang menurut Maslow kebutuhan paling murni. Implementasinya pada sandang, pangan, dan papan.

Nah, makin ke atas makin bias. Kebutuhan safety, rasa aman, bisa subjektif. Bisa berbeda antara satu orang dan orang lain. Belum lagi nanti bila ada kebutuhan penghargaan atau aktualisasi diri. Nah, ini yang makin membagongkan, eh, membingungkan.

Thorstein Veblen punya teori bernama Conspicuous Consumption, teori konsumsi mencolok. Menurutnya masyarakat modern sering membeli barang atau jasa bukan karena kebutuhan fungsional. Melainkan hanya memuaskan keinginan memamerkan status sosial dan kekayaan. Contohnya, ya makan di restoran mahal atau estetik yang bisa difoto dan dipamerkan.

Yang seperti bukan lagi terkait apa yang kita konsumi karena use value, kegunaan. Melainkan sekadar simbol atau  mkan pada benda tersebut. Seperti, memilih beli kopi di gerai tertentu yang harganya Rp 50 ribu dibanding kopi sachet yang Rp 2 ribu. Nah, teori ini yang disodorkan oleh Jean Baudrillard.

So, itu  menjelaskan mengapa ketika ekonomi dalam kondisi tidak baik-baik saja seperti sekarang tapi kafe-kafe dan tempat nongkrong yang tidak murah justru ramai. Penuh dengan para Gen Z.

Ada teori yang menggambarkannya sebagai Lipstick Effect. Intinya, ketika krisis orang berhenti membeli barang mewah nan mahal. Gantinya, membeli yang berskala kecil sebagai pelipur lara. Bagi Gen Z, lipstick itu adalah segelas es kopi susu kekinian, makan artisan, dan pengalaman nongki di kafe estetik.

Masih ada lagi teori-teori yang bisa menjelaskan fenomena ini, tetap njajan di kafe estetik meskipun ekonomi mencekik. Ada Doom Spending, fenomena psikologis Gen Z yang pesimistis akibat berita buruk tentang ekonomi, inflasi, atau harga-harga yang melambung tinggi. Pelariannya adalah kesenangan instan seperti nongkrong di kafe untuk ‘menjaga kewarasan’.

Ada lagi The Latte Factor. Kebiasaan menghabiskan uang dalam jumlah kecil, tapi rutin. Ya seperti beli kopi ke kafe setiap hari. Sebab, hal itu tidak membebani pengeluaran secara instan.

Atau, ada istilah yang paling pas lagi. FOMO! Fear of missing out. Takut ketinggalan trend. Gen Z, dan bahkan yang generasi di atasnya, mendapat tekanan dari medsos. Akhirnya membeli social currency, mata uang sosial, dengan ke kafe-kafe. Mereka berusaha menghilangkan ketakutan akan isolasi sosial, FOMO!

Apalagi kemudian dikombinasikan dengan you only live once (YOLO), maka tak perlu berpikir panjang menghabiskan Rp 50 ribu untuk segelas kopi. Toh, hidup hanya sekali!

Maka, lirik lagu Jogja Hiphop Foundation ini sangat relate dengan kondisi sekarang ini. Judulnya, Kecap No 1. Penggalannya adalah seperti ini,

‘Rezekimu ra bakal cukup, dinggo ngragati gayamu, opo wareg mangan gengsi, gengsi dikecapi tep ra enak didilati.” (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri).

Editor : Shinta Nurma Ababil
gengsi fomo Gen Z gaya hidup opini