JP Radar Kediri – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) tengah mengembangkan satelit generasi terbaru bertajuk Nusantara Earth Observation-1 (NEO-1), sebagai kelanjutan dari tiga satelit nasional sebelumnya yang telah lebih dulu mengorbit, yakni LAPAN-A1/LAPAN-TUBSAT, LAPAN-A2/LAPAN-ORARI, dan LAPAN-A3/LAPAN-IPB.
Peneliti Ahli Pertama Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Suraduita Mupasanta, menjelaskan bahwa satelit generasi keempat ini telah memasuki tahap pengujian komponen secara menyeluruh serta integrasi sistem. "Satelit terbaru yang saat ini sedang dikembangkan adalah NEO-1. Saat ini, satelit tersebut telah memasuki tahap pengujian dan integrasi," ujarnya.
Satelit Resolusi Tinggi, Direncanakan Meluncur Akhir 2026
NEO-1 dirancang sebagai satelit observasi bumi beresolusi tinggi, dengan target peluncuran pada akhir 2026. Kehadiran satelit ini diharapkan dapat memperkuat kemampuan Indonesia dalam melakukan pengamatan bumi secara lebih akurat, mendukung berbagai kebutuhan strategis nasional mulai dari pemantauan lingkungan, kebencanaan, hingga tata ruang wilayah.
Tiga Satelit Pendahulu Masih Beroperasi Meski Tak Semua Berfungsi Penuh
BRIN mencatat, ketiga satelit generasi sebelumnya sejatinya masih beroperasi hingga kini, meski tidak semuanya menjalankan fungsi utamanya secara maksimal. LAPAN-A1/LAPAN-TUBSAT, misalnya, diluncurkan menggunakan roket Polar Satellite Launch Vehicle (PSLV) C7 milik India pada 10 Januari 2007, dan meski masih dapat menerima perintah dari operator hingga sekarang, muatan kameranya sudah tidak lagi berfungsi.
Sementara itu, LAPAN-A2/LAPAN-ORARI, satelit eksperimental generasi kedua yang dikembangkan bersama Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) dan sepenuhnya dirancang-bangun di dalam negeri, diluncurkan menggunakan roket PSLV C30 pada 28 September 2015 dan tercatat masih beroperasi dengan baik hingga kini. Adapun LAPAN-A3/LAPAN-IPB dikembangkan lewat kerja sama peneliti Indonesia dengan Institut Pertanian Bogor (IPB).
Momentum 50 Tahun Perjalanan Satelit Indonesia
Perkembangan NEO-1 ini diumumkan bertepatan dengan perayaan 50 tahun perjalanan satelit Indonesia, yang digelar BRIN di Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan pentingnya kemandirian ekosistem antariksa nasional sebagai salah satu agenda strategis bangsa.
Arif Satria turut menyoroti rencana pembangunan bandar antariksa di Biak, Papua, yang menurutnya kelak tidak hanya berfungsi sebagai lokasi peluncuran satelit, tetapi juga menjadi simbol penting kemandirian ekosistem antariksa Indonesia. "Bandar antariksa bukan hanya lokasi peluncuran, tetapi merupakan simbol utama ekosistem antariksa nasional yang akan memperkuat kemampuan Indonesia dalam menyediakan layanan peluncuran satelit dari wilayah negara kesatuan Republik Indonesia," kata Arif Satria dalam kegiatan tersebut.
Arif menjelaskan, Indonesia sejatinya memiliki modal besar yang tidak dimiliki banyak negara lain, yakni posisi geografis di sekitar garis khatulistiwa. "Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang tidak dimiliki banyak negara yaitu posisi geografis di sekitar garis khatulistiwa. Keunggulan ini yang memberikan efisiensi peluncuran (ke luar angkasa) yang lebih tinggi sehingga menjadikan Indonesia memiliki potensi strategis sebagai salah satu pusat kegiatan peluncuran satelit di kawasan," ujarnya.
Dorong Ekosistem Industri Antariksa demi Daya Saing Global
Arif menambahkan, BRIN tidak hanya berfokus membangun kapasitas riset, tetapi juga mendorong tumbuhnya ekosistem industri antariksa nasional yang mampu menciptakan investasi, membuka lapangan kerja berketerampilan tinggi, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai ekonomi antariksa global. "BRIN tidak hanya membangun kapasitas riset, tetapi juga mendorong tumbuhnya ekosistem industri antariksa nasional yang mampu menciptakan investasi, lapangan kerja berketerampilan tinggi, meningkatkan daya saing industri nasional serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai ekonomi antariksa global," pungkasnya.
Pengembangan satelit generasi keempat ini turut sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045, yang menempatkan sektor antariksa sebagai salah satu bidang strategis yang diproyeksikan tumbuh pesat secara global di masa mendatang.
Baca Juga: Siap-Siap! Godzilla El Nino Ancam Indonesia, Ini Dampak dan Perkiraan Waktunya Menurut BRIN
Editor : Mahfud