Jangan Asal Klik, Ini Cara Kenali Link Phishing atau Penipuan!

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 21:25 WIB
Ilustrasi phishing selalu periksa alamat website sebelum mengklik tautan.
Ilustrasi phishing selalu periksa alamat website sebelum mengklik tautan.

JP Radar Kediri - Belakangan ini penipuan lewat link palsu makin marak. Modusnya macam-macam, mulai dari pesan WhatsApp, SMS, sampai email yang mengaku dari bank atau instansi resmi. Padahal di balik tautan itu, ada jebakan yang siap mencuri data pribadi seperti username, password, sampai nomor kartu kredit.

Istilah untuk modus ini disebut phishing. Supaya tidak ikut jadi korban, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengenali link phishing sebelum terlanjur mengkliknya.

1. Cermati Susunan Domainnya
Hal pertama yang wajib diperiksa adalah alamat URL itu sendiri. Jangan buru-buru klik sebelum membaca baik-baik.

Baca Juga: Piala Presisden 2026 Dimulai Akhir Pekan Ini, Berikut Jadwal Pertandingannya

Penipu biasanya memanfaatkan trik typosquatting, yaitu mengganti huruf yang bentuknya mirip supaya mata kita tidak curiga. Misalnya angka "1" dipakai untuk menggantikan huruf "l", jadi "bca1ink.com", atau huruf "m" diganti kombinasi "rn" sehingga terlihat seperti "bankjatirn.co.id".

Trik lain yang sering luput dari perhatian adalah soal subdomain. Padahal, cara bacanya itu dari kanan ke kiri untuk tahu siapa pemilik aslinya. Contohnya link "bri.com.penipu.icu", pemilik aslinya bukan BRI, melainkan "penipu.icu". Sementara situs resmi biasanya menaruh nama mereknya persis sebelum akhiran ".com", ".co.id", atau ".go.id".

Baca Juga: Siap Hibahkan 5,5 Hektare untuk Hotel Haji, Bupati Kediri Dhito Cek Aset yang Akan Diberikan ke Kemenhaj

Satu lagi yang patut dicurigai, akhiran domainnya. Perusahaan besar jarang sekali pakai domain murahan seperti ".xyz", ".top", ".icu", ".info", atau ".cc". Kalau ketemu link dengan akhiran semacam itu mengatasnamakan bank atau instansi pemerintah, sebaiknya langsung waspada.

2. Manfaatkan Tools Pemindai
Kalau masih ragu, jangan langsung diklik. Coba salin dulu linknya, lalu cek pakai beberapa tools gratis berikut ini:

Baca Juga: Pemkab Kediri Bakal Putus Kontrak PPPK Paruh Waktu yang Kinerjanya Jelek, Saat ini sedang Persiapkan Perpanjangan

Google Transparency Report - nya Google, bisa dipakai buat mengecek apakah sebuah situs aman dikunjungi atau justru mengandung malware.
NordVPN Link Checker - buat cek reputasi dan tingkat keamanan sebuah URL secara instan.
VirusTotal - akan memindai link menggunakan puluhan mesin antivirus sekaligus, jadi ancaman yang tersembunyi pun bisa ketahuan.

3. Bongkar Link yang Dipendekkan
Sekarang banyak penipu yang sengaja menyamarkan link asli mereka pakai jasa pemendek URL, seperti bit.ly, tinyurl.com, s.id, atau cutt.ly. Tujuannya biar korban tidak curiga sebelum klik.

Cara mengatasinya gampang, tinggal salin link pendek itu ke situs seperti Where Goes atau CheckShortURL. Nanti akan ketahuan URL aslinya seperti apa, tanpa perlu buka link itu sendiri. Kalau ternyata mengarah ke alamat yang mencurigakan, mending diabaikan saja.

Baca Juga: Begini Status Gunung Kelud Kediri, Vulkanologi Minta Wisatawan Tak Dekati Kawah dalam Radius 1 Kilometer

4. Perhatikan Detail Lain dan Konteks Pesannya
Selain cek teknis, coba juga pakai logika saat menerima pesan semacam ini

Satu hal yang perlu diluruskan, ikon gembok atau "https://" itu sekarang bukan jaminan sebuah situs aman. Banyak penipu sekarang juga sudah pakai sertifikat SSL gratis biar situs phishing mereka terlihat meyakinkan.

Buat yang mengakses lewat laptop atau komputer, ada trik sederhana yaitu arahkan kursor ke tautan tanpa mengkliknya. Alamat URL yang sebenarnya bakal muncul di pojok kiri bawah layar browser.

Baca Juga: Empat Pemain Muda Bela Persik Kediri, Isi Slot Penggawa U23 Macan Putih

Yang tidak kalah penting, waspadai gaya bahasa pesannya. Phishing biasanya dibumbui rasa terdesak atau iming-iming hadiah, misalnya "Akun Anda akan diblokir dalam 24 jam, klik di sini untuk verifikasi" atau "Selamat, Anda menang undian, klaim hadiah di link ini". Kalimat semacam itu sengaja dibuat supaya orang panik dan buru-buru klik tanpa pikir panjang.

Bank, instansi pemerintah, maupun e-commerce resmi tidak pernah minta data sensitif seperti PIN, kode OTP, atau password lewat link di SMS, WhatsApp, apalagi email. Kalau sudah terlanjur klik link mencurigakan dan sempat memasukkan data pribadi, segera ganti semua password dan hubungi pihak bank untuk blokir rekening biar tidak makin dirugikan.

Penulis : Satria Sinak

Universitas Nusantara PGRI Kediri

 

 

Editor : Shinta Nurma Ababil
phishing modus mencuri penipuan Trik