JP Radar Kediri - Di era serba digital seperti sekarang, ancaman kejahatan siber semakin nyata dan merata, tidak hanya menyerang perusahaan besar, aksi kejahatan digital juga mulai menyasar masyarakat umum, termasuk di kota-kota berkembang seperti Kediri.
Fenomena ini menjadi perhatian serius seiring dengan semakin tingginya penggunaan internet dan perangkat digital di berbagai lini kehidupan.
Berbagai modus penipuan daring kini semakin beragam, mulai dari undangan digital palsu, phising melalui email dan SMS, hingga pencurian data pribadi lewat aplikasi tak resmi, banyak warga yang tanpa sadar menjadi korban karena kurangnya pemahaman tentang keamanan digital.
Keamanan siber kini menjadi isu penting yang perlu dihadapi bukan hanya oleh pemerintah atau lembaga teknologi, tetapi juga oleh masyarakat secara luas. Minimnya literasi digital membuat banyak pengguna internet mudah tertipu dan membagikan data pribadi tanpa disadari. Hal ini membuka celah besar bagi pelaku kejahatan siber untuk beraksi.
Berdasarkan data dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat 122,79 juta anomali trafik internet dari Januari hingga Agustus 2024, serangan ini didominasi oleh malware (59,26%), aktivitas trojan (18,20%), dan akses tidak sah ke sistem (8,28%).
Baca Juga: Spotify Semakin Canggih! Ini Fitur Baru yang Bikin Dengarkan Musik Makin Nyaman
Sedangkan menurut AwanPintar.id, Indonesia mengalami lebih dari 2,4 miliar serangan siber selama semester pertama 2024, ini berarti rata-rata terjadi sekitar 13,7 juta serangan per hari atau 158 serangan per detik
Pada semester kedua 2024, mengalami sekitar 3,2 milliar serangan siber, dengan rata-rata 17,6 juta serangan per hari dan 204 serangan per detik.
Literasi Digital Masih Rendah
Seiring dengan transformasi digital di Kediri, mulai dari penggunaan layanan publik berbasis aplikasi hingga transaksi keuangan digital, kebutuhan akan edukasi keamanan digital juga meningkat.
Masalah utama dalam menghadapi kejahatan siber adalah rendahnya kesadaran akan pentingnya perlindungan data pribadi.
Masih banyak masyarakat belum mengetahui cara mengenali link mencurigakan, mengelola password dengan aman, atau mengaktifkan fitur keamanan seperti verifikasi dua langkah.
Baca Juga: Era Baru Industri Kreatif! Peran AI Generatif dalam Musik, Film, dan Desain Digital
Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa memperparah tingkat kerugian akibat kejahatan digital, baik secara ekonomi maupun psikologis, peran sekolah, perguruan tinggi, komunitas, dan pemerintah sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan budaya sadar digital dan aman berinternet.
Ancaman kejahatan siber bukan lagi sesuatu yang jauh dan tidak nyata, siapa pun yang terhubung ke internet, apapun perangkat yang digunakan, bisa menjadi target.
Maka dari itu, langkah preventif seperti edukasi digital, peningkatan literasi teknologi, dan kebiasaan berinternet yang aman harus segera diterapkan secara luas.
Penulis: Fikri Raihan Pratama, Mahasiswa Magang Universitas Pembangunan “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT).
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira