Kota Kediri menyandang status sebagai Kota Terkaya di Indonesia sejak beberapa tahun lalu. Tolok ukur status ini tidak lepas dari produk domestik regional bruto (PDRB) per kapita Kota Kediri yang jauh lebih tinggi dari kota lain di Indonesia.
Apakah faktanya Kota Kediri benar-benar kaya? Jika yang dilihat PDRB per kapita 2024 lalu, nilainya sebesar Rp 565,84 juta! Angka tersebut didapat dari total jumlah PDRB Kota Kediri tahun 2024 atas dasar harga berlaku yang sebesar Rp 168,75 triliun, dibagi dengan jumlah penduduk.
PDRB dihitung dari nilai total barang dan jasa yang diproduksi di Kota Kediri selama setahun. Faktanya memang produksi barang dan jasa di Kota Kediri tahun lalu mencapai ratusan triliun.
Jauh lebih tinggi dari kota-kota lain di Jatim. Bahkan di Indonesia sekalipun. Yang menjadi masalah, PDRB senilai ratusan triliun itu mayoritas ditopang oleh produksi PT Gudang Garam yang memang beradadi Kota Kediri. Persentasenya sebesar 79,64 persen.
Karenanya, PDRB per kapita warga Kota Kediri yang mencapai Rp 565, 84 juta tidak mencerminkan kondisi kesejahteraan warga Kota Kediri. Melainkan, pendapatan sebesar itu hanya dinikmati segelintir orang saja di Kota Kediri. Selebihnya, masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Pada tahun 2024 lalu, sedikitnya ada 19.240 penduduk miskin di Kota Kediri. Seiring dengan pelemahan ekonomi yang belum kunjung teratasi, bahkan di tingkat nasional, bukan tidak mungkin jumlah warga miskin tersebut terus bertambah.
Apalagi PT Gudang Garam Tbk yang menjadi penopang perekonomian di Kota Kediri trennya juga terus menunjukkan penurunan. Indikasinya, laba Gudang Garam yang tahun 2023 lalu masih sebesar Rp 5,3 triliun turun menjadi Rp 1 triliun tahun 2024 lalu.
Penjualan rokok Gudang Garam juga terus turun selama beberapa tahun terakhir. Jika 2023 lalu Gudang Garam masih mampu menjual hingga 61,4 miliar batang, tahun 2024 tinggal 53,1 miliar batang. Tahun ini pun dipastikan akan terus turun jumlahnya. Seiring pelemahan kondisi ekonomi yang masih terus berlanjut.
Jika Gudang Garam sebagai penopang perekonomian di Kota Kediri menunjukkan tren yang terus menurun, ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah. Kontribusi Gudang Garam yang demikian besarnya tidak bisa dianggap remeh. Perlu langkah strategis yang harus segera diambil untuk memastikan perekonomian daerah tetap bergairah.
Secara matematika, pertumbuhan ekonomi Kota Kediri menunjukkan angka yang lebih baik saat tidak menyertakan Gudang Garam di dalamnya. Namun, faktanya penurunan produksi Gudang Garam selama beberapa tahun terakhir berdampak pada pengurangan tenaga kerja yang tidak sedikit. Pekerja yang masih bertahan juga mengeluhkan pengurangan pendapatan yang signifikan dampak dari pengurangan produksi.
Kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Pemerintah daerah harus segera menelurkan kebijakan baru untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Menggenjot perkembangan UMKM yang selama ini memberi kontribusi positif untuk perekonomian.
Tidak masalah kehilangan status sebagai Kota Terkaya, toh selama ini memang hanya sebagian kecil masyarakatnya saja yang kaya. Yang menjadi masalah adalah ketika penambahan jumlah warga miskin tidak terkendali. Bantuan sosial yang selama ini jadi andalan tidak akan bisa jadi jurus sakti lagi. (*)
Editor : Mahfud