KASUS penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang sapi di wilayah Kediri sudah merebak kemana-mana. Awalnya, peternak sapi lebih optimistis menghadapi penyakit ini. Berangkat dari pengalaman, ada banyak sapi yang sembuh setelah terkena Aphthovirus.
Salah satu upaya peternak sapi mencegah serangan penyakit tersebut adalah memastikan kondisi kandang bersih. Dan penanganan yang tepat saat sapi kena PMK. Sedangkan pemerintah daerah menganjurkan untuk diberikan vaksin. Tujuannya agar kekebalan tubuh pada hewan ternak semakin terjaga.
Serangan awal, banyak ternak yang berhasil disembuhkan. Namun belakangan, peternak mulai kewalahan. Penyebaran penyakit itu sangat cepat. Sementara pemberian vaksin tersendat karena jumlahnya lebih sedikit dari populasi sapi di wilayah Kediri Raya. Populasi sapi di Kediri masuk tiga besar di Jawa Timur (Jatim).
Baca Juga: Susu Sapi Lokal
Karena PMK ini sulit dikendalikan, banyak sapi yang akhirnya mati. Situasi itu membuat pemerintah daerah bergerak cepat. Mengambil kebijakan dengan menutup pasar yang menjadi tempat lalu lalang sapi dari luar daerah. Tidak ada informasi tentang cegatan lalu lalang sapi dari luar masuk ke Kediri.
Dampak terbesar dari kasus ini adalah terjadinya panic selling. Membuat mereka akhirnya menjual sapi dengan harga murah. Petani rela jual rugi yang penting ada pemasukan untuk ditabung. Harga sapi semakin anjlok akibat cerita para blantik.
Dalam kondisi normal saja, peternak hanya menjual sapi dengan harga Rp 12 juta. Biasanya bisa laku di atas Rp 15 juta. Jika sapi sudah ada indikasi PMK, harganya pun diobral hanya Rp 5 juta saja. Situasi ini telah menguras tabungan peternak yang mengandalkan sapinya untuk dijual pada momen hari raya.
Baca Juga: Duri di Kampung Inggris
Di tengah merebaknya kasus PMK, kran imporpun akhirnya dibuka. Pemerintah berencana akan melakukan impor dari Brazil. Jumlahnya, sebanyak 200 ribu ekor. Keinginan impor itu seperti meneguhkan prediksi pemerhati peternakan sapi dan peneliti di Indonesia dua tahun lalu (2023).
Karena Indonesia sudah tidak bebas PMK maka negara-negara luar bisa impor dengan harga murah. Selain Brazil, alternatif lainnya adalah India.
Sebelumnya, Indonesia hanya bisa impor dari negara yang bebas PMK yakni Australia dan New Zealand. Karena di dua negara itu harga lebih mahal maka nilai impornya juga terbilang fantastis.
Baca Juga: Belajar Memanajemen Bencana
Jika kran impor dibuka ini menjadi tantangan besar bagi peternak sapi. Selain sirkulasi harga akan berubah, peternak juga harus siap–siap untuk menghadapi penyakit PMK yang lebih rentan. Peternak harus bisa survival agar tetap dapat untung.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel