Bagi kita, berita tersebut menjadi tamparan kedua. Sebelumnya, data bahwa banyak pernikahan dini terjadi karena hamil di luar nikah sungguhlah memilukan. Karena pasangan itu semuanya masih anak di bawah umur. Masih berusia sekolah. Jika kemudian mereka ‘terpaksa’ menikah, tentu masa depannya menjadi terganggu.
Dua contoh persoalan di atas menjadi problem pelik yang harus segera dicari penyelesaian. Tentu saja, keterlibatan keluarga dan lembaga pendidikan menjadi hal yang sangat dibutuhkan. Keluarga dan sekolah harus bisa memberi contoh serta mengeliminasi hal-hal buruk yang akan terjadi pada anak-anak.
Soal korban tindakan cabul misalnya, sejak dini anak-anak harus diperingatkan. Bagaimana mereka mengambil sikap pada tindakan-tindakan yang menjurus pada perilaku menyimpang yang dilakukan orang dekat. Bila tak bisa melawan, mereka harus dikuatkan agar berani untuk melapor. Selain, tentu saja, pengawasan yang harus lebih ketat lagi yang dilakukan orang tua dan para guru di lembaga pendidikan.
Salah satu yang juga sangat penting dilakukan adalah membekali para remaja ini dengan pendidikan seks yang mumpuni. Mereka sudah harus diberi tahu bagaimana dan apa akibatnya bila melakukan hubungan seksual yang tidak pada tempatnya. Memberi pemahaman dengan bekal moralitas agama dan adat budaya ketimuran sangat diperlukan. Tak peduli di era milenial seperti sekarang ini, adat ketimuran dengan basis pendidikan agama masih sangat relevan. Khususnya untuk mencegah pergaulan yang semakin liar di kalangan pelajar.
Sudah bukan rahasia lagi bila para remaja itu memiliki pengetahuan tentang seks lebih banyak bukan dari jalur formal. Mereka mendapatkannya dari internet. Dari video-video dan film-fim yang semakin bebas dalam mengekspresikan ke-vulgaran itu. Bila kita melihat situs-situs film seperti Netflix, Disney Hotstar, Prime Video, dan lain-lainnya, banyak sekali film-film yang menunjukkan adegan intim dengan sangat gamblang. Meskipun ada peringatan usia, namun, hal itu tak efektif mencegah mereka yang belum cukup umur untuk menonton.
Kita tidak boleh hanya menyalahkan teknologi seperti itu. Yang harus dilakukan adalah membentengi mereka. Beri mereka pemahaman seluas-luasnya. Ajaran moralitas dengan dasar agama menjadi salah satu hal yang penting. Meskipun, harus dihindari kesan menggurui. Kalau perlu, semua pihak di keluarga dan sekolah harus mampu memberi contoh sikap dan pola hidup yang baik. Sudah saatnya kita meninggikan nilai-nilai moral dibanding hal-hal lain. Karena sepandai apapun mereka, bila tak dilandasi nilai-nilai moral, yang terjadi adalah potensi munculnya permasalahan sosial.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah