JP Radar Kediri – Setiap datang bulan Suro dalam penanggalan Jawa, warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Kota Kediri selalu menyambutnya dengan penuh khidmat. Tradisi spiritual yang dijalani sejak lama ini menjadi momentum penting untuk menjalani tirakat, baik melalui puasa, doa bersama, maupun melakukan ziarah ke pendahulu mereka.
Puasa menjadi bentuk tirakat yang paling banyak dijalankan. Bagi warga PSHT, puasa di bulan Suro bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus, melainkan cara untuk menundukkan hawa nafsu, memperkuat kontrol diri, dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Ketua PSHT Cabang Kota Kediri, Agung Sediana (41), mengatakan bahwa puasa dan tirakat di bulan Suro bukan sekadar tradisi turun-temurun. Ia menyebut, ini adalah bagian dari proses membentuk karakter, memperdalam pemahaman spiritual, serta menanamkan nilai-nilai luhur yang menjadi landasan utama dalam kehidupan seorang warga PSHT.
“Tirakat ini bagian dari latihan batin. Kami diajarkan untuk tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga sabar, rendah hati, dan selalu ingat kepada Tuhan,” ujarnya.
Selain puasa, kegiatan lainnya yang rutin digelar adalah doa bersama dan selamatan pada malam 1 Suro. Acara ini biasanya diisi dengan pembacaan doa, zikir, dan renungan bersama. Tidak ketinggalan, bubur Suro selalu disajikan sebagai simbol kesederhanaan dan bentuk syukur atas segala nikmat yang telah diterima.
Menurut Agung, bulan Suro adalah saat yang tepat bagi setiap warga PSHT untuk kembali merenung dan menata niat. Tradisi ini menjadi pengingat agar tidak terjebak pada rutinitas duniawi semata, tapi tetap menyisakan ruang dalam hati untuk beribadah, berbudi pekerti luhur, dan menjaga hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.
Dalam konteks yang lebih luas, PSHT memaknai bulan Suro sebagai ruang refleksi bersama. Selain untuk penguatan pribadi secara spiritual, kegiatan ini juga mempererat ikatan antarwarga, memperkuat rasa persaudaraan, dan menjaga kelestarian nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para pendahulu.
Tirakat dan puasa Suro telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga PSHT. Di tengah era yang semakin modern dan cepat berubah, tradisi ini tetap dijaga agar tidak tergerus zaman. Bagi PSHT, menjaga warisan leluhur bukan berarti menolak kemajuan, tapi menjadikannya fondasi untuk melangkah ke masa depan dengan jati diri yang kokoh.
Editor : Jauhar Yohanis