Karir Ilham Raya Saputra sebagai atlet taekwondo memang kurang bersinar. Dia belum pernah membawa medali dari ajang pekan olahraga provinsi (porprov). Namun, tangan dinginnya sebagai pelatih kini mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi hingga tingkat nasional.
Ilham mengaku terlambat saat menggeluti taekwondo. Dia baru mengenal olahraga bela diri itu saat duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah pertama (SMP). Namun, itu tak membuatnya kecil hati. Dia tetap menjalani latihan dengan tetap berharap bisa meraih prestasi setinggi-tingginya.
Namun, dia memang kurang beruntung. Saat porprov 2015, dia belum bisa berangkat lantaran ada seniornya yang bisa lebih diandalkan. Dia pun harus ikhlas tetap turun di porprov meski di cabang olahraga (cabor) lain.
“Saya ikutnya di atletik, waktu itu turun di lari 800 meter dan estafet 4x400 meter,” ceritanya sembari menyebut dirinya tak bisa membawa pulang medali di cabor tersebut.
Kebetulan, cabor atletik memang membutuhkan atlet untuk turun di nomor itu. Lantaran Ilham dinilai memiliki postur yang cocok, akhirnya dia ditarik ke atletik. Apalagi, saat itu latihan atlet taekwondo dan atletik memang berbarengan pada pagi hari di Stadion Brawijaya, Kota Kediri.
Kisah Ilham bersama cabor atletik hanyalah sebatas porprov. Setelahnya, pria berusia 28 tahun itu kembali ke taekwondo lagi.
“Saya gagal di pra-PON (pra-pekan olahraga nasional), dari situ kayaknya nggak bisa lagi (untuk menekuni atlet), jadi saya akhirnya jadi pelatih,” ungkapnya.
Perjalanannya menjadi pelatih itu dimulai saat dirinya masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Tepatnya saat dirinya duduk di bangku kelas XII. Nah, langkah awalnya dimulai dengan mengambil lisensi kepelatihan.
“Syaratnya kan minimal 17 tahun, lalu sabuk hitam, saya waktu itu sudah sabuk hitam,” jelas pria lulusan SMA Negeri 8 Kota Kediri tersebut.
Setelah mengantongi lisensi, Ilham langsung menerjuni dunia pelatih. Karirnya dimulai dengan menjadi pelatih di AGS Taekwondo Club. Yakni klub milik pelatihnya dulu, Joko Ariyanto. Di sini, Ilham mulai menukangi atlet-atlet yang tengah bersiap untuk kejuaraan provinsi (kejurprov).
“Saya latih porprov pertama itu di tahun 2017,” lanjutnya.
Kala itu, dia bercerita ada orang-orang yang meremehkan kemampuannya sebagai pelatih. Hanya saja, Ilham tak mau ambil pusing dengan pendapat orang lain. Sebaliknya, itu membuatnya semakin terpacu.
“Saya semakin semangat untuk membuktikan kalau saya bisa. Dan waktu itu atlet saya dapat emas,” kenangnya.
Nyatanya, jalannya sebagai pelatih memang berjalan mulus. Pada 2022 lalu, Ilham terpilih menjadi pelatih terbaik di ajang kejuaraan provinsi (kejurprov). Namanya yang semakin dikenal itu pun membawanya ke pekan olahraga pelajar nasional (POPNAS).
“Saya jadi pelatih di POPNAS tahun 2023 di Palembang,” jelasnya.
Kini, Ilham sangat menyukai perannya sebagai pelatih. Bahkan dia tidak merasa kesulitan harus mendidik para atlet.
“Karena saya dulu juga atlet, saya tahu rasanya jadi atlet gimana, saya tahu kapan atlet saya mood-nya lagi buruk, kalau mood-nya baik gimana,” akunya.
Lebih dari itu, anak pertama dari tiga saudara itu juga merasa harus berterima kasih pada pelatihnya dulu. Pelatih yang selalu memberikan dukungan kepadanya saat masih berjuang menjadi atlet.
“Pelatih saya dulu itu juga inspirasi saya,” tuturnya.
Hingga saat ini, pesan dari sang pelatih itu juga selalu diingatnya.
“Jangan pernah lelah untuk berbagai pengalaman. Itu pesannya. Karena itu saya sekarang juga latih anak-anak di SD dan SMP (dalam ekstrakurikuler, Red),” tandasnya. (em/ut)
Editor : Mahfud