Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kisah Inspiratif Riza Alifa, Atlet Sepatu Roda Peraih Empat Medali di Porprov Jatim

Emilia Susanti • Sabtu, 4 April 2026 | 07:00 WIB
Riza Alifa, atlet sepatu roda.
Riza Alifa, atlet sepatu roda.

Muhammad Riza Alifa sukses memborong medali dari ajang pekan olahraga provinsi (porprov) kemarin.

Ya, atlet sepatu roda itu berhasil membawa pulang satu medali emas dari nomor pertandingan individual time trial (ITT) 200 meter putra.

Lalu dua medali perak dari nomor speed 1.000 meter putra dan 500 M+D team sprint putra. Dan terakhir, satu medali perunggu dari nomor beregu relay 3.000 meter putra.

“Saya sebenarnya turun di lima nomor. Tapi di nomor 10.000 meter team belum rejeki,” cerita pemuda berusia 19 tahun itu.

Prestasi yang ditorehkannya bisa dibilang mengesankan. Namun dibalik itu, ada proses panjang yang harus dilalui olehnya. Alias tidak instan.

Baca Juga: Kisah Panjang Bek Persik Kediri Yoga Adiatama Menembus Liga 1, Semua Mimpinya Ditulis di Dinding Kamar

 Lebih dari itu, atlet yang kerap disapa Riza itu bahkan pernah mengalami cedera. Terparah adalah saat mengalami retak bahu dan dislokasi bahu.

“Kalau yang namanya cedera atau jatuh di cabor (cabang olahraga) sepatu roda itu hal yang biasa. Kan kalau pengen sukses berawal dari jatuh dulu,” kata pemuda yang saat ini telah menjadi mahasiswa di Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri.

Sementara itu, Riza pertamakali mengenal cabor sepatu roda sejak duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar (SD).

Kala itu, sepatu roda memang menjadi aktivitas yang nge-tren di kalangan anak-anak.

Riza bergabung klub sepatu roda tersebut pun untuk hobi saja. Di sisi lain, orang tuanya juga memberi dukungan penuh.

“Untuk menjauhkan dari gadget juga kan kak,” tambahnya.

Seiring berjalannya waktu, Riza mulai aktif mengikuti berbagai kompetisi. Namun, di saat yang bersamaan, dia mengaku pernah bosan menggeluti dunia sepatu roda.

Lalu dia pun mencicip cabor renang dan taekwondo saat dirinya sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).

“Tetapi di renang saya cuman bertahan satu bulan aja. Terus nyoba taekwondo malah seminggu aja, saking kerasnya. Akhirnya balik ke sepatu roda,” kenang Riza.

Fakta menariknya, perjuangan para atlet cabor sepatu roda ini termasuk besar. Bagaimana tidak.

Baca Juga: Legenda Persik Kediri Johan Prasetyo Sedih Dukungan Suporter Tak Sebesar Dulu

Pasalnya, dia dan atlet sepatu rodanya harus rela menjalani latihan hingga ke Solo. Itu terpaksa dilakukan lantaran sarana dan prasarana yang kurang memadai di Kota Kediri. Khususnya di GOR Jayabaya.

“Di sini nggak ada lintasan. Di GOR itu nggak bisa karena biasanya bentrok dengan drag race sama push bike. Lalu juga biasanya dipakai jongging. Jadi nggak bisa,” bebernya.

Karenanya, latihan biasanya terpaksa dilakukan di Solo atau Sidoarjo yang memiliki lintasan sepatu roda.

Namun demikian, itu tidak dilakukan setiap hari. Melainkan saat menjelang kompetisi tertentu.

“Untuk latihan di Kediri biasanya fisik kak. Latihan fisik kami ngikut cabor penthatlon. Selain fisik, biasanya juga latihan teknik,” ceritanya.

Menurutnya, latihan para atlet sepatu roda masih terus berjalan hingga saat ini. Hanya saja belum ada informasi lebih lanjut mengenai kejuaraan. Baik kejuaraan provinsi maupun nasional.

“Untuk porprov selanjutnya saya tidak bisa turun lagi. Tetapi jika ada perubahan regulasi batasan usia, mungkin saya masih bisa turun,” tandas Riza. (em/tar)

Editor : Andhika Attar Anindita
#atlet kota kediri #atlet berprestasi #koni kota kediri #atlet sepatu roda #sepatu roda