Berbincang tentang Talenta Muda dengan Rendy Yuwono, sang Legenda Basket Kediri
Emilia Susanti• Rabu, 12 November 2025 | 01:08 WIB
Photo Tak Cuma Skill dan Attitude, Paling Penting adalah Niat
Dunia basket Kediri Raya-baik kabupaten maupun kota-boleh dibilang sedang redup. Tak ada prestasi saat Porprov Jatim tahun ini. Toh, legenda basket Kediri-Rendy Yuwono-yakin kejayaan itu akan diraih kembali.
Sosok itu, Rendy Yuwono, duduk di tribun VIP GOR Surya Universitas Kadiri. Menyaksikan pertandingan antara dua tim basket. Pembawaannya tenang. Menyaksikan dengan cermat pertandingan yang mempertemukan SMPN 1 Kota Kediri melawan SMPK Santa Maria.
“Sebetulnya anak Kediri itu talenta (basket)-nya banyak sekali,” ucap sosok yang punya nama Tionghoa Lie Gwan Ming itu.
Ucapan pebasket yang pernah memperkuat timnas di era 1980-an itu memang related dengan kondisi saat ini. Saat Kediri, baik kota maupun kabupaten, relatif kering prestasi dari cabor basket. Padahal talenta-talenta muda banyak tersedia.
Bagi Rendy, Kediri memiliki potensi besar untuk melahirkan atlet-atlet profesional. Tinggal bagaimana semua pihak yang berkepentingan bisa mewujudkan. Salah satunya adalah dengan menggelar kompetisi semacam itu. Sebab, jam terbang pemain akan semakin tinggi seiring banyaknya kompetisi.
“Semoga tahun depan (turnamen) tetap lanjut. Karena apa? Karena salah satu (tujuannya) untuk pemain adalah jam terbang,” kata pria yang ketika menjadi pemain berposisi sebagai guard tersebut.
Lebih dari itu, sebuah kompetisi menurutnya bukan sekadar menambah jam terbang pemain. Melainkan juga untuk para pelatih. Dengan adanya kompetisi, setiap pelatih juga makin terasah untuk membuat program latihan untuk anak didiknya.
“Dari segi pelatih, kesempatan untuk membuat program. Oh, program Wali Kota Cup itu bulan berapa? Saya harus membuat program untuk pemain kapan? Mbak Dina Cup, bulan apa sih? Oh sebagai pelatih aku harus membuat program untuk pemain kapan sih? Nah, (kalau seperti) itu bagus,” terangnya.
Tak hanya itu, keberadaan kompetisi juga sangat penting untuk perangkat pertandingan. Mulai dari wasit, pengawas pertandingan, hingga panitia. Kembali lagi ke soal jam terbang. Jam terbang juga akan bertambah.
“Buat wasit? Dapat honor. Oh ndak ndak, untuk wasit ya sama aja, dapat jam terbang,” ucapnya diselingi canda.
Rendy meyakini bahwa basket di Kediri bisa meraih lagi masa kejayaannya. Hanya saja, ada beberapa hal mendasar yang harus dimiliki oleh setiap atlet muda selain skill bermain. Yaitu soal niat. Menurutnya, hal itulah yang harus tertanam pada pebasket muda.
“Sebetulnya anak Kediri itu talentanya buanyak sekali. Tetapi balik lagi bukan hanya kerja keras pemain. Bukan hanya itu. Bukan hanya punya attitude yang bagus. Yang paling penting itu apa sih, niatnya hati,” tekannya.
Baginya, niat itulah yang akan membuat seseorang mampu berkomitmen. Sekeras apa pun latihan yang akan didapat akan tetap dilakoni. Meski tidak ada penawaran apapun. Bahkan menurutnya, niat itulah yang menjadi pembeda antara atlet zaman dulu dan sekarang.
“Niat itu itu keikhlasan hati. Niat, niat. Bedanya niat. Kalau dulu pelatih model apa pun, instruksi apa pun, dilakukan. Kalau sekarang, capek coach, ya to. Sekarang pemain, latihan fisik, cari alasan apa ini ya supaya nggak latihan fisik. Berarti niatnya, kembali lagi, niat itu keikhlasan hati yang paling besar. Jadi niat, kendala apapun akan diterabas. Itu aja,” tegasnya.
Kendati demikian, dia tetap berharap dunia basket bisa hidup seperti dulu. Berjaya seperti puluhan tahun silam. Serta menjadi momok bagi daerah-daerah lainnya. Menurutnya, masih ada banyak pihak-pihak yang mengharapkan basket kembali berjaya. Jika tidak, dia percaya tidak mungkin akan ada event-event basket seperti sekarang ini.
“Insya allah. Semua mendukung untuk berjaya lagi, kalau tidak mendukung buat apa ada ini (kompetisi, Red). Semua tujuannya supaya basket Kediri kedepannya ditakutin seperti dulu. Ya,” tandasnya.(fud)