JP Radar Kediri - Khamzat Chimaev, petarung tak terkalahkan asal Chechnya-Swedia, kini berada di ambang pertarungan terpenting dalam kariernya. Setelah mencetak sejumlah kemenangan impresif, ia dijadwalkan menantang juara kelas menengah UFC, Dricus Du Plessis, pada gelaran akbar UFC 319 yang akan digelar pada 17 Agustus 2025 di Chicago.
Laga ini disebut-sebut sebagai duel terbesar tahun ini dan menjadi debut perebutan gelar dunia bagi Chimaev.
Latar Belakang Pertarungan
Du Plessis, pemegang sabuk saat ini, telah mengonfirmasi bahwa kesepakatan verbal telah tercapai dengan pihak Chimaev.
Presiden UFC, Dana White, juga menyatakan dukungannya atas pertarungan ini, bahkan menyebut Chimaev sebagai lawan yang paling layak saat ini untuk perebutan gelar.
Perjalanan Gemilang Chimaev
Chimaev memiliki rekor luar biasa dengan 14 kemenangan dan tanpa kekalahan. Ia dikenal karena gaya bertarung agresif dan dominasi di atas matras.
Banyak pertarungannya berakhir dengan KO atau submission pada ronde pertama, termasuk kemenangan cepat atas Robert Whittaker melalui face-crank submission hanya dalam waktu 3 menit 34 detik. Dominasi semacam ini menjadikan Chimaev sebagai ancaman serius di divisi middleweight.
Tensi Panas di Luar Oktagon
Selain fokus pada perebutan gelar, Chimaev juga tengah terlibat konflik pribadi dengan Paulo Costa. Costa menuduh Chimaev mengirim pesan pribadi kepada kekasihnya, yang membuat suasana semakin memanas.
Ia bahkan berencana hadir langsung di UFC 319 untuk menantang Chimaev secara terbuka. Meski belum ada tanggapan dari Chimaev, tensi di luar oktagon semakin membumbui duel utama nanti.
Prediksi dan Komentar Tokoh UFC
Mantan juara UFC, Israel Adesanya, mengomentari duel ini sebagai “pertarungan penuh kekacauan.” Ia menilai Chimaev punya peluang besar untuk menang di awal pertarungan, namun jika laga berlangsung hingga ronde-ronde akhir, keunggulan stamina Du Plessis bisa menjadi penentu.
Potensi Dampak Pertarungan
Jika berhasil mengalahkan Du Plessis, Chimaev tak hanya akan merebut gelar kelas menengah, tetapi juga semakin mendekat ke status legenda UFC. Sementara itu, bagi Du Plessis, mempertahankan gelar dari petarung tanpa cela seperti Chimaev akan menjadi bukti dominasi dan daya tahan sejati seorang juara.
UFC 319 dipastikan akan menjadi panggung megah yang mempertemukan dua gaya bertarung paling berbahaya saat ini. Kemenangan salah satu dari mereka tak hanya berarti sabuk, tapi juga simbol supremasi baru di kelas menengah. Akankah Chimaev melanjutkan rekornya yang sempurna, atau Du Plessis yang mempertahankan tahtanya? Kita tunggu jawabannya di bulan Agustus nanti.
Author : Muhammad Farhansyah - PSDKU Polinema Kediri
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira