Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ini Alasan Manchester United Selalu Mengenang Tragedi Munich Setiap Tanggal 6 Februari

Andhika Attar Anindita • Kamis, 6 Februari 2025 | 07:44 WIB
TRAGEDI MUNICH: Memorabilia pemain Manchester United yang menjadi korban tragedi Munich.
TRAGEDI MUNICH: Memorabilia pemain Manchester United yang menjadi korban tragedi Munich.

JP Radar Kediri - Tanggal 6 Februari 1958 menjadi tanggal keramat bagi fans Manchester United Football Club (MUFC). Bahkan, hari yang kelam bagi pecinta sepak bola di seluruh dunia.

Pasalnya, di tanggal ini terjadi sebuah tragedi menguras yang air mata. Pesawat British European Airways (BEA) yang membawa rombongan tim Manchester United mengalami kecelakaan di Bandara Munich-Riem, Jerman.

Insiden ini tidak hanya merenggut nyawa pemain-pemain berbakat setan merah. Tetapi juga meninggalkan luka mendalam dalam sejarah sepak bola.

Baca Juga: Marcus Rashford Resmi Gabung Aston Villa, Ini Catatan dan Harapannya untuk Manchester United

Lantaran terjadi di Munich, tragedi ini dikenal sebagai Tragedi Munich. Setiap tahunnya, skuad setan merah pasti memberikan momen penghormatan terhadap mereka yang menjadi korban tragedi ini.

Tim Manchester United saat itu dinakhodai oleh Matt Busby. Dia telah membangun skuad muda penuh talenta MUFC. Saking tersohornya, mereka dikenal dengan julukan The Busby Babes.

Tim muda tersebut baru saja kembali dari pertandingan perempat final Piala Eropa. Kala itu, MUFC melawan Red Star Belgrade di Yugoslavia atau yang sekarang dikenal menjadi Serbia.

Mereka berhasil lolos ke babak semifinal. Mimpi besar ada di depan mata. Menjadi tim Inggris pertama yang menjuarai kompetisi bergengsi tersebut.

Namun, saat perjalanan pulang ke Inggirs tersebut berubah menjadi petaka. Pesawat yang ditumpangi skuad MUFC itu harus singgah di Bandara Munich untuk mengisi bahan bakar sebelum melanjutkan penerbangan ke Manchester.

Sebenarnya, sudah ada pertanda buruk. Pesawat tersebut telah dua kali gagal lepas landas akibat masalah teknis. Namun percobaan ketiga tetap dilakukan.

Baca Juga: Manchester United Gaet Patrick Dorgu dari US Lecce, Ini Bocoran Nilai Transfernya

Padahal, cuaca sedang buruk. Landasan pacu bandara tersebut penuh salju. Namun, sang pilot tetap nekat berangkat. Petaka pun tiba. pesawat gagal mencapai kecepatan minimal untuk terbang.

Akhirnya pesawat menabrak pagar di ujung landasan. Kemudian menghantam sebuah bangunan. Sejurus kemudian si jago merah langsung mengamuk.

Dari 44 orang di dalam pesawat, 23 orang kehilangan nyawa. Termasuk delapan pemain Manchester United. Yaitu Geoff Bent, Roger Byrne, Eddie Colman, Mark Jones, David Pegg, Tommy Taylor, Liam "Billy" Whelan, dan Duncan Edwards.

Duncan Edwards padahal digadang oleh media Inggris dan internasional menjadi pemain paling moncer di eranya itu meninggal beberapa hari kemudian akibat luka parah.

Selain itu staf klub, jurnalis, dan awak pesawat juga menjadi korban dalam tragedi ini. Matt Busby sendiri mengalami cedera serius. Dia harus berjuang selama berminggu-minggu untuk pulih.

Kehilangan para pemain muda berbakat ini menjadi pukulan telak bagi Manchester United. Tim yang sebelumnya penuh harapan tiba-tiba berubah 180 derajat.

Baca Juga: Lisandro Martinez Cedera Lutut, Ini Tanggapan Pelatih Manchester United Ruben Amorim

Jimmy Murphy, asisten pelatih MUFC kala itu mengambil alih tanggung jawab sementara Busby dirawat. Dengan sumber daya terbatas dan bantuan pemain darurat, Murphy memastikan setan merah tetap bertanding hingga akhir musim.

Tragedi ini tidak hanya mengguncang klub tetapi juga seluruh dunia sepak bola. Dukungan mengalir dari berbagai penjuru dunia. Mereka kompak membantu Manchester United bangkit dari keterpurukan. 

Sepuluh tahun setelah tragedi tersebut, Matt Busby berhasil membangun kembali timnya. Pada tahun 1968, Manchester United mencatat sejarah dengan memenangkan Piala Eropa setelah mengalahkan Benfica 4-1 di final.

Kemenangan ini bukan sekadar prestasi olahraga tetapi juga simbol kebangkitan dari keterpurukan. Sekaligus penghormatan kepada mereka yang telah gugur dalam Tragedi Munich.

Baca Juga: Manchester United Pinjamkan Marcus Rashford ke Aston Villa, Berikut Bocoran Kesepakatannya

Untuk mengenang peristiwa ini, klub memasang "Munich Clock" di Old Trafford. Jam tersebut terus berdetak sebagai pengingat abadi akan tragedi tersebut dan semangat juang klub untuk bangkit.

Setiap tahun pada tanggal 6 Februari, keluarga besar Manchester United mengenang para korban dengan penuh penghormatan. Tragedi Munich adalah salah satu momen pilu dalam sejarah sepak bola.

Namun, dari tragedi ini lahir kisah heroik. Yaitu tentang perjuangan untuk keluar dari keterpurukan. Manchester United tidak hanya bertahan tetapi juga tumbuh menjadi salah satu klub terbesar di dunia.

Editor : Andhika Attar Anindita
#manchester united #klasemen premier league #mu #tragedi munich #manchester #MUFC #premier league