KEDIRI, JP Radar Kediri- Namanya panjang, Ahmad Zakkiyyunnuhaa Fishilia. Tapi sapaannya singkat, Zaki. Bahkan, oleh anak asuhnya dia cukup dipanggil Pak Jek.
Guru olahraga di SD Negeri 2 Pojok ini pembawaannya tenang. Ketika mendampingi timnya berlaga, seperti pelatih sepak bola lain, dia memang berdiri di pinggir lapangan. Tapi, tak ada teriakan emosional. Hanya mengamati dengan seksama jalannya pertandingan. Sesekali, baru memberi arahan ke pemain.
Toh, hasil yang dicapai boleh dikata lumayan. Terbaru, Pak Jek mengantar tim sepak bola wanita Kota Kediri menjadi peringkat ketiga dalam turnamen Piala Pertiwi. Hebatnya, itu adalah pengalaman pertamanya menangani langsung satu kesebelasan.
“(Sebenarnya) saya sudah ikut melatih sejak 2014. Tapi, sebagai asisten pelatih,” terang pria 39 tahun ini.
Berdasarkan pengalamannya, tidak mudah menangani tim sepak bola wanita. Harus pintar menempatkan diri. Karakter pemain bola wanita sangat beda dengan pesepak bola pria. Tak bisa langsung memberikan kata-kata keras, apalagi kasar.
"Cewek itu sensitif. Kalau cowok ada masalah dengan tim biasanya gelut terus selesai. Kalau cewek beda," jelas bapak dua anak ini.
Karena itulah dia harus pandai-pandai mendekatkan diri dengan pemain. Tak jarang, dia memosisikan sebagai ibu bagi para pemain. Di kesempatan lain bisa jadi menjadi figur ayah atau bahkan kakak. Semua itu agar para pemain merasa nyaman berada di tim.
"Banyak tantangannya. Kalau ada pemain yang ada masalah, ya harus ditanya apa masalahnya. Terus kalau pas datang bulan, biasanya pemain ini sudah disiapkan bermain tetapi terpaksa diganti kalau kondisinya tidak memungkinkan,” ceritanya.
Sebelum dipercaya menjadi pelatih kepala di tim Inter Putri Kediri, Pak Jek sudah memiliki Sekolah Sepak Bola (SSB). Namanya, SSB Bhinneka. Berdiri sejak 2007, SSB ini punya tim putra dan putri.
Awalnya, dia hanya berniat melatih anak didik dari sekolah tempatnya mengajar. Lama-lama anggotanya datang dari sekolah lain. Itulah alasan mengapa SSB-nya dia beri nama Bhinneka.
“Ya karena berbeda-beda itu,” ujar pria yang memang bercita-cita menjadi guru ini.
Semula, tidak ada tim putri di SSB-nya. Pak Jek baru membentuk pada 2017. Dia pun berusaha konsisten mempertahankan keberadaan tim putri ini. Meskipun anggotanya sering keluar masuk.
Baca Juga: Jadwal Lengkap Pertandingan Timnas Indonesia di Piala AFF U-19 2024
“Biasanya, kalau SSB putra itu anaknya yang bingung cari SSB. Kalau untuk putri itu malah SSB yang kesulitan cari anggota. Jadi, walaupun hanya dua orang tetap saya latih,” akunya.
Menurutnya, proses regenerasi pesepak bola wanita lebih sulit. Kadang, mereka berganti cabang olahraga yang digeluti. Karena itulah, keluar masuknya seorang pemain dianggap hal yang lumrah.
Di dunia sepak bola wanita, Zaki memiliki ambisi besar. Ingin terus memberi tempat bagi para wanita yang memiliki minat. Meski disadari sulit, Zaki tak ingin berhenti.
“Saya melihat ada peluang besar. Ketika ada pembinaan yang baik, potensi bisa masuk timnas lebih besar,” tutur pria yang saat ini harus menjalani pengobatan rutin karena penyakitnya.
Oleh karenanya, dia memiliki harapan besar terhadap pemerintah agar memberi perhatian terhadap sepak bola wanita. Zaki ingin ada lebih banyak kompetisi selain Piala Pertiwi dan Pekan Olahraga Provinsi.
“Kalau nggak ada pertandingan, tarkam saja nggak ada, ya mereka juga bingung latihan terus buat apa. Semoga lebih banyak event lagi agar timnas tidak berisi pemain naturalisasi,” harapnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah