Tri Priyo Nugroho, Mantan Pembalap Nasional yang Kini Getol Cetak Atlet Muda

Emilia Susanti • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 00:34 WIB
Tri Priyo Nugroho. (FOTO: Emilia/JPRK)
Tri Priyo Nugroho. (FOTO: Emilia/JPRK)

Terdorong Pengalaman Buruk yang Menimpa 

Pria ini dikenal sebagai mantan pembalap nasional. Titik prestasi yang dia lalui dengan penuh liku. Kini, hidupnya dia abdikan untuk mencetak atlet berprestasi yang dia cetak dari sekolah balap yang dia dirikan. 

Nugroho tiba-tiba menghentikan sesi interview. Dia meminta agar rekaman percakapan dijeda. Sesaat dia merasa ragu. Apakah cerita pahit yang dimilikinya itu bisa dikonsumsi publik atau tidak?

Kegambangan pria 48 itu sangat wajar. Cerita yang akan dia sampaikan itu memuat beberapa hal ‘buruk’. Khususnya dalam pembinaan atlet ketika dia menjadi andalan Jawa Timur, bahkan Indonesia.

Akhirnya, kisah pun berlanjut dari penuturan sosok yang kini menjadi ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Kabupaten Kediri itu.

Tapi, suasananya berubah. Menjadi lebih emosional. Perlahan, matanya tampak berkaca-kaca. Hingga tangis pun pecah saat dia mengisahkan kejadian paling pahit yang pernah menimpanya.

“Saya berangkat balap itu apa-apa sendiri. Perjuangan saya sampai saat ini itu tidak gampang. Jadi ketika masuk di situ (dunia balap, Red) saya menganggap akan ada orang yang membimbing. Ternyata malah memanfaatkan,” kenangnya, dengan mata berkaca-kaca.

Ya, bagi pria yang karib disapa Nugroho ini, kerja kerasnya berjuang dari nol seakan ‘diremehkan’ organisasi yang menaunginya. Banyak yang menjadi haknya justru tidak bisa dia rasakan.

“Kayak hadiah saya itu nggak dikasih,” lanjutnya.

Belum lagi, saat itu, uang seakan bisa membeli segalanya. Termasuk membeli slot atlet. Meskipun kemampuan bisa disebut biasa saja.

Pengalaman buruk itulah yang menjadi pelajaran paling berharga. Mendorongnya membina atlet dengan serius. Agar anak didiknya berprestasi melebihi dirinya.

“Dari situ, oh ya, nggak apa-apa, suatu saat kalau saya ngajari anak-anak di balapan, saya nggak akan pelit ilmu, saya akan kasih semuanya, kalau memang saya bisa saya akan bantu,” lanjutnya dengan emosi yang memuncak.

Nugroho memang memulai semuanya dari nol. Bukan lahir dari keluarga pembalap. Bahkan, hobinya itu ditentang oleh sang ibu.

Dasar masa-masa itu adalah fase bandel, Nugroho menerjang larangan itu. Dia tetap belajar menjadi pembalap.

“Motor pinjam teman, belajar itu pakai motor teman saya,” kenangnya mengulang kejadian di 1993-an.

Setelahnya, Nugroho memberanikan diri mengikuti kejuaraan. Tentu yang bersifat lokal terlebih dulu, semacam kejuaraan daerah (kejurda). Hebatnya, dia langsung juara tiga.

Motor pertama yang dia miliki diperoleh dari pemberian kerabatnya. Membuatnya kian bersemangat menggeluti olahraga ekstrem. Makin aktif mengikuti kejuaraan, yang sering dia juarai.

“Orang tua dan nenek itu nggak setuju tetapi diam pas tahu dapat juara,” ujarnya saat ditemui di rumahnya yang ada di Desa/Kecamatan Kras tersebut.

Karir Nugroho pun terus menanjak. Membuatnya dikontrak tim Yamaha di Surabaya pada 1994. Lalu tampil di Pekan Olahraga Nasional (PON) dua tahun berikutnya.

Meskipun sebatas ekshibisi, namanya jadi kian diperhitungkan. Tak lepas dari keberhasilannya meraih tiga emas.

“Setelah itu saya juara nasional grasstrack junior di 1997,” lanjut pembalap yang bolak-balik ikut nomor grasstrack, road race, serta motorcross ini.

Tentu saja perjalanan itu tak mulus. Dia kerap didera cedera. Tapi, semua itu tak membuatnya kapok.

“Jadi atlet ya harus berani nekat. Kalau risikonya mati ya mati. Kalau nggak (berani) mati ya bagaimana jadi pembalap sukses?” tegas pria asal Tulungagung tersebut.

Pada 2006 Nugroho mendirikan sekolah balap. Dia mengasuhnya meskipun masih aktif jadi atlet. Namun, lama-lama kewalahan. Akhirnya, dia putuskan menutup karir pembalapnya dan berganti membina atlet muda.

Menariknya, sekolah balap milik Nugroho tak melulu mengajar teknik balap. Juga ada attitude yang diajarkan. Semua atlet binaannya harus mandiri. Mulai mencuci perlengkapan pribadi hingga kebutuhan balap.

“Attitude itu nomor satu. Nggak peduli dia anak bos siapa, kalau di sini ya semuanya sama. Karena apa? Kalau misalnya dia sombong, nanti saat di sirkuit dia merasa bisa. Kalau gagal dia akan emosi. Karena itu attitude nomor satu,” urainya.

Kini, anak didiknya ada belasan orang. Datang dari berbagai daerah di Indonesia. Baginya, siapapun bisa menjadi pembalap profesional. Setidaknya berkaca dari pengalamannya sendiri.

“Saya memulainya dari nol. Motor masih pinjam, demi ikut kejuaraan saya pernah ikut balap liar. Jadi kalau anak ingin jadi pebalap profesional ya tidak boleh menyalahkan sana-sini, persoalannya ya ada di dirinya sendiri. Kembali lagi ke attitude,” tandasnya.(fud)

Editor : Andhika Attar Anindita
IMI Kabupaten Kediri Profil Tri Priyo Nugroho Mantan Pembalap Nugroho Ketua IMI Kabupaten Kediri Nugroho Motorcross