Nekat Mencoba pun Bisa Berujung Laba
Tak pernah terbayang bagi Tria Winda Liana bisa menjadi wirausahawan sesukses sekarang. Dia kini dikenal sebagai pengusaha dengan banyak cabang toko gitar. Suatu kesibukan yang sebenarnya tak pernah dia cita-citakan.
Tria kecil selalu ingin menjadi seorang guru. Ketika lulus SMA, alumnus SMAN 1 Pare itu memilih melanjutkan pendidikan di Universitas Negeri Surabaya (UNESA).
Karena begitu ingin menjadi guru, dia memutuskan mengambil jurusan Pendidikan Matematika.
“Saya melihat guru SD atau SMP itu disukai murid-muridnya. Saya juga ingin seperti itu, ingin menyumbangkan ilmu dan kenal lebih banyak orang,” akunya.
Siapa sangka, sekarang dia justru berbisnis. Perjalanan panjangnya merintis karir bisnis dimulai dari prinsip berani mencoba. “Kalau enggak kita mulai, kita enggak tahu bakal kayak gimana ke depannya,” katanya.
Perempuan asal Desa Semambung, Kecamatan Kayenkidul, Kabupaten Kediri, itu percaya bahwa keberanian memulai sesuatu yang belum pernah dilakukan bisa jadi pintu pembuka kesempatan.
Jauh sebelum dikenal sebagai pelaku usaha di bidang alat musik, Tria sudah terbiasa berjualan sejak SMP.
“Dulu basic-nya memang jualan. Waktu SMP teman saya bisa bikin bros, saya yang jualin ke teman-teman. Jadi saya bagian marketing-nya,” kenang perempuan yang akrab disapa Tria itu.
Memasuki masa SMA, Tria mulai menawarkan pulsa kepada teman-temannya. Itu dia lakukan untuk menambah uang saku sekaligus melatih kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.
Tria memang tertarik pada matematika dan cukup nyaman bersosialisasi. Kemampuan berhitung dan berkomunikasi itu kemudian menjadi modal yang terus terbawa ketika dia mulai serius menekuni dunia usaha.
Begitu kuliah, kemampuan berniaganya justru semakin berkembang. Tren marketplace yang mulai tumbuh dia manfaatkan untuk mencari berbagai barang yang dibutuhkan teman-temannya.
Baginya, selama ada permintaan dan bisa dia penuhi, ada peluang yang dapat dia ambil.
Titik perubahan dalam perjalanan usahanya datang ketika Tria mulai mengenal pria yang kini menjadi suaminya, Deny Setyo Utomo.
Saat itu, Tria masih menjalani kuliah sembari berjualan dan memberikan les privat. Deny pun menangkap potensi yang ada di diri Tria.
“Awalnya saya dimodali Rp 500 ribu. Suami saya waktu itu melihat potensi marketing dan penjualan saya, kemudian dibukakan toko di Sidoarjo,” ungkap bungsu dari tiga bersaudara itu.
Toko itu awalnya belum memiliki konsep yang jelas. Beragam produk dia jual. Mulai dari tas, sepatu, pakaian, tumbler hingga aksesori.
Hingga beberapa bulan kemudian, sebuah pertemuan justru membawa Tria ke dunia yang sama sekali tidak dia kenal sebelumnya.
“Waktu itu teman suami punya usaha gitar di Surabaya. Saya diajak ke tokonya, terus kepikiran kayaknya bisa dititipkan di toko saya,” jelas putri pasangan Masruchin dan Ponimah itu.
Tanpa memiliki latar belakang musik, Tria memberanikan diri mengambil beberapa gitar untuk dijual di tokonya.
Dimulai dari tiga sampai lima gitar saja. Tak disangka justru respons pembeli cukup positif. “Ternyata lumayan laku. Akhirnya saya tambah lagi, tambah lagi. Sampai akhirnya hampir sepuluh dan terus bertambah,” ungkapnya.
Dari pengalaman tersebut, Tria mulai berpikir untuk mencari jalur pengadaan yang lebih efisien. Yakni dengan menyasar sentra produksi gitar di Solo, Jawa Tengah. Tepatnya di kawasan yang dikenal sebagai Kampung Gitar.
Di sana, dia bisa mendapat gitar langsung dari perajinnya. Sejak 2018, bisnis gitarnya perlahan berkembang.
Tria tidak lagi hanya menjadi reseller dari produk orang lain. Melainkan mulai membangun jaringan usaha sendiri.
Toko yang awalnya menjual berbagai macam barang pun mulai fokus sebagai toko alat musik saja. Bersama suaminya, dia mulai berekspansi setelah melihat pasar yang semakin terbuka.
“Setelah customer mulai banyak, saya sama suami berpikir kayaknya bisa buka cabang. Dulu namanya Urika Raya, sekarang kami ganti menjadi Urika Musik,” tutur Tria.
Berawal dari sebuah toko di Sidoarjo, kini beranak pinak menjadi beberapa cabang di sejumlah daerah. Di antaranya Pasuruan, Malang, serta di Pare, Kabupaten Kediri, yang mulai beroperasi sejak 2023 lalu.
“Kalau sekarang totalnya ada enam cabang. Yang di Pare juga alhamdulillah masih jalan sampai sekarang. Awal buka antusiasnya lumayan karena toko gitar di sana memang tidak banyak,” terang Tria.
Kini, dia tak hanya mengandalkan produk dari Solo. Seiring berkembangnya usaha, Tria dan suaminya mulai mencoba memproduksi gitar sendiri.
Pertimbangan kapasitas produksi, biaya, sekaligus kualitas jadi pendorongnya. Di sisi lain, Tria juga memperluas pemasaran dengan menggandeng komunitas serta terlibat di berbagai kegiatannya.
“Kalau dari perjalanan saya, mungkin mulai dulu saja. Walaupun itu hal baru, kita harus mulai. Karena kalau cuma ngomong tapi enggak berani mulai, ya enggak akan tahu hasilnya seperti apa,” pesan Tria, kepada sesama perintis usaha di luar sana.
Editor : Andhika Attar Anindita Sumber : Radar Kediri