Misi Barunya Kini Mencetak Atlet Baru
Sudah dua tahun sejak Siti Aisyah memutuskan vakum sebagai atlet taekwondo. Namun, keputusan itu tak membuatnya serta merta meninggalkan dunia yang membesarkan namanya itu. Dia memilih jalur lain. Keluar dari arena, Siti Aisyah memulai catatan barunya sebagai pelatih. Dan misinya sekarang adalah mencetak atlet yang bisa mempersembahkan medali untuk Kota Kediri.
Perempuan yang akrab disapa Ais ini belum benar-benar melepaskan diri sebagai atlet taekwondo. Saat ini, dia sedang mengikuti open turnament yang digelar di Kota Surabaya. Keikutsertaannya itu semata-mata karena dia ingin merasakan kembali atmosfer pertandingan.
"Ada rasa kangen, pengen ngerasain lagi adrenalinnya," cerita perempuan berusia 24 tahun tersebut.
Seiring waktu, diakuinya ambisinya dalam kompetisi sudah tak sebesar dulu. Ais juga belum punya rencana untuk mengikuti kejuaraan lagi ke depannya. Termasuk ajang pekan olahraga provinsi (PON) di tahun depan. Itu karena dia tak ingin memaksakan diri.
Baca Juga: Kisah Inspiratif Narsun, AgenBRILink di Jawa Barat yang Sukses Lindungi 7 Ribu Pekerja Informal
Bila memang mampu, dia akan mengejarnya. Begitu sebaliknya. Toh, Ais punya misi tersendiri saat ini. Yakni berprestasi sebagai pelatih.
Sejak vakum sebagai atlet pada 2024 lalu, Ais mengambil keputusan besar dalam karirnya sebagai taekwondoin. Tak lagi menjadi atlet, melainkan pelatih.
Keputusan itu bermula dari tawaran yang dia dapatkan dari pelatih senior di Kediri, Joko Arianto dan Agung Yulianto, yang juga pendiri AGS Taekwondo Club.
"Saya ditawari mau nggak melatih di AGS. Kebetulan saya ingin berhenti, maksudnya berhenti jadi atlet. Jadi saya mau," beber perempuan asal Kabupaten Probolinggo itu.
Keputusannya vakum sebagai atlet dipicu padatnya aktivitas Ais sehari-hari. Sebab, dia harus menjalani pendidikan profesi sebagai bidan. Dia harus berpindah-pindah lokasi praktik setiap dua bulan. Rutinitas itu membuatnya tak lagi bisa fokus untuk menekuni karir atletnya.
Baca Juga: Kisah Inspiratif : Dari Bawang Goreng, Suryani yang Disabilitas Hidupi Anaknya yang Juga Disabilitas
"Saya vakum karena capek dan ingin istirahat," ungkap pemuda yang menjalani pendidikan di Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Surabaya itu.
Kondisi itu yang mendorongnya menerima tawaran menjadi pelatih. Meskipun tanggung jawab baru itu harus dia jalani saat dia masih harus pulang-pergi dari Surabaya ke Kediri dan sebaliknya.
Tetapi dengan menjadi pelatih, setidaknya Ais masih bisa menyesuaikan jadwal melatihnya. Berbeda dengan atlet yang harus menyesuaikan program latihan yang telah dipersiapkan.
Menjajaki aktivitas baru sebagai pelatih juga berarti berbagai pengalaman baru kini ada di depannya. Misalnya, saat menghadapi perubahan mood dari anak didiknya. Tak jarang, emosinya memuncak setiap kali atlet binaannya tidak menuruti perintahnya.
"Saya itu dikenal sebagai pelatih yang galak, sudah di-branding sama anak-anak," candanya.
Kendati demikian, menurutnya hal itu memang diperlukan. Pasalnya, anak didiknya mayoritas masih berusia di bawah 15 tahun. Seringkali para atlet tidak serius saat menjalani latihan. Karenanya, dia memilih sikap 'galak' agar atlet bisa berlatih dengan sungguh-sungguh.
"Biasanya saya gertak biar mereka semangat kembali, tetapi kadang juga saya ajak bercanda. Ya menyesuikanlah," kata perempuan yang telah bergelut di dunia taekwondo selama lebih dari sepuluh tahun ini.
Bagi Ais, prestasi tak bisa didapatkan secara instan. Butuh konsistensi dalam prosesnya. Karenanya, sebagai pelatih, dirinya juga berusaha menjaga semangat para atletnya agar tak kendor. Pengalamannya sebagai atlet membuatnya tahu apa yang harus dilakukan demi mengejar prestasi.
Berbicara prestasinya, Ais sendiri sudah dua kali berpartisipasi dalam ajang pekan olahraga nasional (PON). Dia ikut berkompetisi sebagai atlet taekwondo di nomor pertandingan poomsae.
Pada PON pertamanya, dia sukses mempersembahkan medali perunggu untuk Jawa Timur. Sayangnya, keikutsertaannya pada gelaran PON keduanya belum membuahkan hasil maksimal.
Kini, kiprahnya sebagai atlet memang tak sementereng dulu. Namun, dia punya misi baru yang lebih besar di dunia taekwondo; melahirkan atlet-atlet baru untuk mencetak lebih banyak prestasi.
"Target saya saat ini, atlet-atlet saya di POPDA (pekan olahraga pelajar daerah, Red) dan Porprov (pekan olahraga provinsi, Red) tahun depan bisa mempersembahkan medali pertama untuk Kota Kediri," harapnya. (emillia susanti/ais)