Berbagai bakat dan prestasi Berliana saat ini tidak disapat secara instan. Jika sebelumnya sempat takut bersosialisasi, kini hari-harinya justru harus bergelut dengan banyak orang.
“Kamu harus bisa mandiri. Bapak sudah nggak ada. Kakak-kakakmu nanti menikah dan punya keluarga sendiri. Jadi, kamu harus bisa mandiri,” kalimat dari sang ibu, Ismiyati, itu menjadi salah satu penyemangat Berliana Triya Fareza untuk berani keluar dari zona nyaman.
Nasihat tersebut perlahan mendorong perempuan asal Desa/Kecamatan Kras itu untuk mengembangkan kemampuan yang sebelumnya lebih banyak dia pendam.
Sebab, sejak kecil, dara yang akrab disapa Berliana itu bukan sosok yang mudah bergaul. Semasa SD, dia dikenal pendiam, pemalu, bahkan cenderung menghindari interaksi dengan orang lain.
“Dulu saya itu benar-benar pemalu. Kalau ketemu orang atau harus bersosialisasi, rasanya malu dan lebih memilih diam,” kenang Berliana.
Perubahan mulai dirasakan ketika dia duduk di bangku SMP. Berliana mengikuti ekstrakurikuler tari karena memang menyukai dunia seni. Dia sekaligus ingin melatih keberanian dan kemampuan bersosialisasi.
Dari tari, dia mulai mengenal panggung. Kesempatan tampil dalam berbagai kegiatan di Kediri membuatnya perlahan terbiasa berada di hadapan banyak orang.
“Awalnya memang deg-degan dan malu. Tapi karena sering tampil, akhirnya mulai terbiasa. Dari tari itu saya belajar bagaimana berani tampil dan bertemu banyak orang,” ujar perempuan kelahiran 2003 itu.
Bakatnya kemudian semakin berkembang setelah dia bergabung dengan sanggar tari. Berliana mendapat kesempatan tampil dalam berbagai kegiatan. Tidak hanya di Kediri tetapi juga hingga luar daerah.
Baca Juga: Mengenal Sosok AKBP Muhammad Wahyudin Latif, Bocah dari Kampung yang Menakhodai Polres Kediri
Menariknya, sifat yang dahulu membuatnya minder justru menjadi salah satu kekuatannya di atas panggung. Sang pelatih melihat Berliana memiliki senyum yang mudah muncul ketika tampil.
“Pelatih saya dulu bilang kalau saya itu senyum terus. Ternyata senyum itu justru bagus kalau di panggung, karena saat menari kan harus ada ekspresi,” kenangnya terkait kebiasaannya ketika berinteraksi dengan orang hanya dia balas dengan senyum karena malu.
Memasuki SMKN 2 Kota Kediri, ruang bagi Berliana untuk mencoba hal baru semakin terbuka. Tidak hanya tari tradisional.
Dia mulai mengikuti modern dance, jurnalistik, perfilman, fashion show hingga membuat konten.
Sebagai siswi jurusan multimedia, dia juga mendapat pengalaman membuat berbagai karya digital.
Tugas sekolah berupa konten dan YouTube menjadi pintu baginya untuk semakin serius menekuni media sosial.
“Di SMK itu saya mulai berani mencoba banyak hal. Ada tugas membuat konten, YouTube, kemudian dari situ saya merasa ternyata saya suka dunia seperti ini,” tutur Berliana.
Keberanian mencoba tersebut kemudian membawanya ke berbagai kompetisi. Salah satu yang menjadi titik penting adalah fashion show batik di sekolah pada 2018.
Dalam kompetisi tersebut, Berliana berhasil meraih juara pertama. Setahun berikutnya, dia kembali mendapatkan juara kedua pada ajang fashion show batik di sekolah yang sama.
“Awalnya ikut fashion show juga karena ingin mencoba. Ternyata ketika pertama ikut malah juara satu. Dari situ saya berpikir ternyata saya punya kemampuan dan bisa dikembangkan,” jelasnya.
Baca Juga: Mengenal Sosok Intan Ayu Idha Wulandari, Guru SMA dengan Segudang Prestasi
Prestasi Berliana kemudian berlanjut di sejumlah ajang. Pada 2019, dia meraih juara ketiga fashion show Netgood People, juara kedua Top Muslim Hijab di Bengkel Cafe, juara harapan tiga Top Model Merahputih, serta juara favorit Top Foto Model Njelgalery.
Di bidang seni pertunjukan, dia juga meraih juara pertama Beatricx Dance dalam Biznet Festival Kediri 2019.
Berbagai pencapaian tersebut menjadi pengalaman yang semakin mempertemukannya dengan banyak orang dan membuka jaringan baru.
“Buat saya, yang penting bukan cuma pialanya. Dari ikut lomba saya bisa ketemu banyak orang, dapat pengalaman, dan belajar bagaimana membawa diri,” ungkapnya.
Dari berbagai pengalaman tersebut, Berliana mulai memahami bahwa kemampuan yang dimiliki harus berani ditunjukkan.
Hal itu pula yang membuatnya terus mempertahankan aktivitas membuat konten sejak duduk di bangku SMK hingga sekarang.
Namun, ada satu hal yang ingin dia tekankan dalam aktivitas sebagai content creator. Bagi Berliana, membuat konten bukan semata mengejar popularitas.
Dia ingin menjadikan media sosial sebagai sarana untuk mengenalkan berbagai potensi daerah asalnya.
Mulai tempat nongkrong, wisata, hingga hal-hal menarik di Kediri coba dia angkat agar semakin dikenal masyarakat luar daerah.
“Saya ingin konten saya juga bisa mengenalkan Kediri. Jadi bukan cuma untuk diri sendiri atau sekadar mencari views,” paparnya. Semangat mengenalkan Kediri itu kemudian ikut dibawanya dalam berbagai aktivitas lain. Kini, selain menjadi content creator, Berliana aktif sebagai MC event dan wedding hingga makeup artist.
Baca Juga: Berawal Gambar Gunung Masa Kecil, Sosok Dedi Sasmito Telurkan Banyak Buku Penelitian Kelud
Dari berbagai oengalaman itu. Dia mulai mengembangkan sayap. Dunia MC mulai dia tekuni sekitar 2023.
Kesempatan pertama datang ketika seorang teman menawarinya menjadi pembawa acara dalam sebuah kegiatan besar.
“Sempat tidak mau karena itu acara besar dan saya belum pernah jadi MC. Tapi teman saya bilang dicoba dulu. Akhirnya saya beranikan diri,” katanya.
Keputusan untuk mencoba kembali membuka jalan baru. Setelah tampil dalam acara tersebut, Berliana mulai mendapat tawaran MC lainnya. Termasuk di Tulungagung dan Blitar.
Dari satu panggung ke panggung lain, dia kemudian dipercaya membawakan berbagai acara nonformal. Mulai wedding, ulang tahun, kegiatan sekolah, konser hingga acara yang menghadirkan musisi nasional.
“Setelah acara pertama itu ternyata ada tawaran lagi. Dari situ saya jadi berpikir, ternyata kalau berani mencoba memang bisa membuka peluang baru,” ujarnya. Kini, bungsu tiga bersaudaraitu justru terbiasa bertemu banyak orang. Aktivitas yang dijalani setiap hari membuatnya berada jauh dari sosok pemalu yang dulu bahkan enggan bersosialisasi.
Setiap panggung yang didapat pun dia manfaatkan sebagai ruang untuk terus belajar sekaligus membawa nama Kediri.
“Kalau saya dapat kesempatan tampil atau membuat konten, sebisa mungkin saya juga ingin membawa nama Kediri,” tegasnya.
Perjalanan Berliana menjadi bukti bahwa rasa malu bukan sesuatu yang harus membuat seseorang berhenti berkembang.
Justru ketika berani mencoba, kemampuan yang selama ini tersembunyi bisa menjadi pintu menuju berbagai kesempatan.
Nasihat sang ibu tentang kemandirian pun akhirnya tidak berhenti sebagai kalimat penyemangat.
Bagi Berliana, pesan tersebut menjadi dorongan untuk terus mencoba, belajar, sekaligus membuktikan kemampuan yang dimilikinya.
“Kalau ada potensi, keluarkan. Jangan malu-malu, karena di situ ada peluangnya,” pesannya.
Editor : Andhika Attar AninditaSumber : Radar Kediri