Eka Cahaya Ningrum merupakan salah satu pegiat olahraga asal Kediri yang ikut meramaikan event AirAsia Hyrox Jakarta 2026. Tak diduga, event ini justru membangkitkan ambisinya yang lama redup. Lewat Hyrox, jiwa atletnya seolah hidup kembali.
Bersama rekannya, Yoga Lucky Bimanggara, mereka turun di kategori double mix. Sekelas event olahraga yang diikuti banyak professional, mereka mampu menorehkan capaian cukup memuaskan. Keduanya berhasil finish dengan catatan waktu 1:22:29. Lebih cepat dari target awal, yaitu 1:33:00.
Bagi masyarakat umum, istilah Hyrox memang terasa awam. Hanya saja, bagi pegiat olahraga seperti Eka, Hyrox merupakan sebuah event kebugaran yang bergengsi. Mayoritas pesertanya datang dari kalangan elit. Pun banyak publik figur yang turut serta.
"Kemarin itu adalah event Hyrox pertama di Indonesia," kata wanita berhijab itu.
Baca Juga: Arief Wicaksono, Atlet Jujitsu Berprestasi Asal Kota Kediri Yang Berambisi Bawa Medali Emas
Karenanya, bisa mengikuti event Hyrox bak sebuah prestise tersendiri bagi Eka. Terlebih bisa finish lebih cepat dari target waktu yang ditentukan. Untuk menampilkan performa terbaik, berbagai persiapan sudah dia jalani selama kurang lebih tiga bulan.
Selain itu, dia bersama rekannya juga aktif mengikuti simulasi Hyrox yang diadakan di kota-kota besar. Seperti di Surabaya dan Yogyakarta.
Dia menerangkan, format perlombaan Hyrox diawali dengan lari sejauh satu kilometer. Setelahnya, setiap peserta akan memasuki workout station. Pada workout station pertama, peserta harus menaklukkan tantangan dalam menggunakan alat bernama SkiErg.
Station selanjutnya adalah sled push, sled pull, burpee broad jump, RowErg, farmer’s carry, sandbag lunges, dan terakhir wall balls.
"Hyrox itu memang gabungan antara strenght dan endurance. Jadi Hyrox itu ada delapan kali lari dan delapan station. Lari terus masuk station, nih. Misalnya SkiErg, terus lari lagi, lalu masuk station lagi, lari lagi, dan seterusnya," jelasnya.
Diakuinya, Hyrox merupakan kompetisi yang melelahkan. Sehingga, persiapan yang dilakukan memang harus matang. Pun memerlukan komitmen tinggi selama menjalani latihan. Dan yang tak kalah penting, mengenali kemampuan diri sendiri.
Fakta menariknya, keikutsertaannya dalam Hyrox bukan berasal dari keinginannya. Melainkan berawal dari ajakan rekannya.
Namun demikian, bukan berarti Eka tak serius dalam mengikuti kompetisi prestisius itu. Bahkan lewat berbagai latihan rutin yang dilakukan, tubuh Eka seperti menemukan 'jati dirinya' lagi.
"Hormon endorfinnya seperti muncul lagi," aku mantan atlet nasional itu.
Selebihnya, jiwa kompetitifnya juga mulai hidup lagi. Bahkan angan-angannya saat ini lebih besar. Adalah kembali ke dunia lamanya, lintasan atletik.
Bagi yang belum mengenalnya, Eka merupakan mantan sprinter Kota Kediri yang prestasinya sudah tak diragukan lagi. Baik di tingkat provinsi maupun nasional. Bahkan, dia juga sempat berpartisipasi dalam ajang SEA Games 2019 silam. Kompetisi itu sekaligus jadi penutup karir atletnya.
Baca Juga: Sulistyo Wibowo, Legenda Tenis dan Harapannya Pada Atlet Muda
Praktis, rutinitas Eka pun berubah. Tak ada lagi jadwal latihan rutin yang harus dilakoni setiap hari. Meski tetap rutin berolahraga, namun tujuannya kini sebatas menjaga kebugaran tubuh. Bukan lagi untuk sebuah kompetisi.
Karenanya, persiapan yang dilakukan untuk Hyrox seperti mengingatkan tubuhnya semasa menjadi atlet. Sialnya, itu membuatnya ketagihan.
Ambisinya pun tumbuh kembali. Dan salah satu yang dia bidik saat ini adalah menembus ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) pada 2028 mendatang.
"Pengennya bisa turun lagi, karena ini akan menjadi kesempatan terakhir untuk turun di PON," ujarnya.
Hal itu karena cabang olahraga (cabor) atletik di ajang PON punya regulasi tersendiri mengenai usia atlet. Batas usia maksimalnya ditetapkan 35 tahun.
Meski begitu, Eka tak serta merta bisa turun dalam ajang PON. Pasalnya, ada proses seleksi yang harus dilaluinya terlebih dahulu. Satu di antaranya, mengalahkan limit catatan waktu minimal dan maksimal yang harus dicapai oleh seorang pelari dalam nomor perlombaan tertentu.
"Saya akan mencoba mengejar lagi limit saya," ungkapnya, sembari menyebut dirinya akan turun dalam event Borobudur Marathon 2026.
Meski bermimpi kembali ke kompetisi nasional, Eka mengaku tak akan terlalu ngoyo untuk bisa turun dalam PON. Apalagi, dia sudah pernah merasakannya. Bahkan sudah mencapai ajang SEA Games. Hanya saja, dia merasa tetap ingin mencoba sekali lagi.
Baca Juga: Kisah Friska Meilani Triyana, Atlet Kabaddi Jawa Timur Asal Kabupaten Kediri
"Saya tidak berambisi harus ikut PON, tapi di kemudian hari, saya tidak ingin menyesal karena tidak mencoba. Setidaknya, kalau saya mencoba, saya tidak akan menyesal walaupun hasilnya tidak sesuai yang diharapkan," pungkas ibu satu anak tersebut. (emillia susanti/ais)
Editor : Andhika Attar Anindita