Sosok Taufan Hidayat: Dokter, Peternak, dan Pemegang Lisensi Impor Domba Australia

Hilda Nurmala Risani • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 23:30 WIB
Taufan Hidayat, Dokter, Peternak, dan Pemegang Lisensi Impor Domba Australia. Karena Beternak Bisa Jadi Sarana Ibadah. (Hilda Nurmala/JPRK)
Taufan Hidayat, Dokter, Peternak, dan Pemegang Lisensi Impor Domba Australia. Karena Beternak Bisa Jadi Sarana Ibadah. (Hilda Nurmala/JPRK)

 

KEDIRI, JP Radar Kediri - Sebagai dokter, kesibukannya jelas tak bisa dielakkan. Toh, dia masih menyempatkan berkutat dengan hobi masa kecilnya, beternak. Hebatnya, hobi itu mengantarkannya menjadi pengusaha sukses yang dikenal banyak orang.

 

HILDA NURMALA RISANI, Kabupaten, JP Radar Kediri

 

Halaman belakang rumah di Dusun Ngadiloyo, Desa Ngadiluwih, Kecamatan Ngadiluwih ini sangatlah luas. Sekitar satu hektare-ran. Bisa menampung kandang yang juga luas. Isinya, kambing dan domba jenis dorper.

Baca Juga: Mengenal Sosok Intan Ayu Idha Wulandari, Guru SMA dengan Segudang Prestasi

Bagian paling belakang, setelah kandang berbentuk panggung setinggi satu meter, ada bangunan pendapa berbentuk joglo. Beratap genting dengan dinding semen di bagian paling belakang. Tempat memajang berbagai sertifikat dan penghargaan.

Di tengah pendapa ada meja panjang yang terbikin dari kayu tebal. Di kanan kirinya dilengkapi bangku panjang untuk duduk. Juga terbuat dari kayu tebal. Menjadi tempat bersantai pemilik maupun menjamu tamu.

Ada pula beberapa kamar  di belakang pendapa. “(Kamar itu) tempat singgah para siswa atau  mahasiswa yang sedang magang atau penelitian,” ucap sang pemilik rumah, memberi penjelasan.  

Pria itu adalah dr Taufan Hidayat. Seorang dokter umum yang juga seorang peternak kambing dan domba.

“Saya mulai beternak itu tahun 2011. Saat itu beternak sapi,” kenang sang dokter.

Baca Juga: Berawal Gambar Gunung Masa Kecil, Sosok Dedi Sasmito Telurkan Banyak Buku Penelitian Kelud

Bagi dokter umum yang berpraktik di RS Aura Syifa ini, beternak bukan sesuatu yang baru. Hobi yang dia tekuni sejak kecil. Saat itu dia sudah merawat kelinci, ayam, burung, dan hewan lain. Tak hanya dirawat tapi juga dikembangbiakkan.

Tapi, kala itu beternak hanya jadi hobi semata. Bukan pekerjaan yang ingin dia tekuni. Karena itulah selepas SMA dia memilih kuliah di fakultas kedokteran.

“Saya lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya tahun 2010,” terangnya.

Nah, meskipun berpraktik medis, hobi beternak itu ternyata tidak hilang. Yang dia tekuni adalah memelihara sapi. Kemudian merambah beternak kambing. Kebetulan mertuanya juga memiliki kegemaran memelihara kambing.

Baca Juga: Mengenal Sosok Ery Puspitasari, MUA dan Entrepreneur Muda Asal Kediri

Kebisaannya beternak didapat secara otodidak. Berdasarkan pengalamannya sejak kecil. Namun, akhirnya menjelma jadi bisnis yang menguntungkan pada 2014..

“Didorong keyakinan bahwa beternak merupakan salah satu sunnah Nabi dan ladang keberkahan,” tandasnya.

Baginya, sektor peternakan adalah bisnis yang tak pernah mati. Selalu dibutuhkan selama masih ada manusia. Banyak peluang yang bisa digarap. Mulai dari hulu hingga hilir.

“Terus dibutuhkan manusia sebagai sarana ibadah hingga kuliner,” terang pria 42 tahun itu.

Tentu saja jalannya tidak mudah. Awal, bahkan dia mendapat banyak cibiran. Diremehkan orang terdekatnya, termasuk teman sejawat. Sebab, jarang ada dokter yang mau terjuni dunia peternakan yang kumuh dan kotor. Lebih-lebih, Taufan adalah dokter manusia, bukan dokter hewan!

Baca Juga: Sosok Desainer Muda Iony Suprayogi: Merenda Gaun Cantik di Balik Kisah yang Patah

Toh, cibiran itu jadi cambuk. Membuatnya kian termotivasi. Ingin membuktikan bahwa beternak bisa sukses bila dikelola profesional.

“Saat itu banyak yang menyuruh saya mencarikan hewan untuk keperluan kurban dan akikah. Jadi, kenapa tidak saya punya terus saya jual saja?” ucapnya membeberkan pemikirannya saat itu.

Bagaimana dengan profesi dokternya? Tetap dia tekuni. Bahkan, pada 2018 dia sempat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) pada 2018. Meskipun akhirnya resign beberapa tahun kemudian.

“Saya ingin membuktikan bahwa seorang dokter yang sibuk di rumah sakit juga masih ada waktu untuk beternak,” tandasnya.

Tekadnya untuk mendatangkan konsekuensi. Di masa-masa awal berjalan tidak mudah. Tak hanya cibiran tapi juga kerugian karena ternak mati. Toh, itu justru  membarakan motivasi.

Baca Juga: Dari Staf WO, Sosok Nur Karima Kini Jadi CEO untuk Bisnisnya Sendiri

‘Doping’ terkuatnya adalah melihat ironi di masyarakat. Ketika peternakan banyak ditinggal anak muda. Mereka menganggap beternak identik kumuh dan sekadar sampingan. Stigma itulah yang dia hilangkan. Membuktikan bahwa sektor ini juga punya prospek bagus.

“Saya kemudian fokus membiakkan domba jenis dorper, asal Australia. Sebab, permintaan dagingnya meningkat pesat. Pertumbuhannya cepat, harganya tinggi, dan kualitas dagingnya lebih enak,” alasannya.

Domba dorper baru masuk tanah air pada 2017. Izin pelepasan bibit pun baru terbit 2020. Hebatnya, dr Taufan adalah satu dari tujuh orang Indonesia yang memegang lisensi impor langsung domba jenis ini dari Australia. Lisensi yang dia dapatkan sejak 2022.

Kini dia punya sembilan lokasi peternakan kambing dan domba di Kediri. Jumlahnya dombanya mencapai 3 ribu. Namun, bila terhitung dengan mitra di seluruh Pulau Jawa, bisa mencapai 15 ribu ekor.

Baca Juga: Sosok Amiruddin Sholeh Atlet Cerebral Palsy yang Menjuarai Berbagai Nomor Atletik

Setiap tiga bulan sekali dr Taufan mendatangkan seribuan ekor domba dooper dari Australia. Kemudian dia sebar ke para mitra.

“Saat ini pengiriman kami sudah sampai Palu, Medan, Lampung, Aceh hingga Ternate. Dengan volume pengiriman mencapai 200 ekor setiap kali kirim,” ungkapnya.

Tak hanya domba hidup, dia juga merambah sektor daging beku. Untuk konsumsi restoran dan hotel. Bahkan, sudah ada permintaan dari negeri jiran, Malaysia.

“Kami masih mengurus persyaratan administrasinya,” beber pria yang juga punya kandang di Australia untuk perawatan pra-impor ini.

Usai resign dari PNS, dr Taufan merintis program pendampingan bagi peternak pemula. Kini mitranya lebih dari 200. Tersebar di seluruh pulau Jawa. Akademi yang dia didirikan aktif membuka sekolah peternakan, pelatihan, hingga workshop. Pesertanya juga dari luar negeri. Peternakannya pun jadi jujukan studi banding instansi-instansi penting. Kemudian, juga memberi edukasi via YouTube yang dirintis sejak 2016.

Baca Juga: Sosok Angelina Vanessya Putri, Model dan Duta Batik Kota Kediri: Pengalaman Pahit saat TK Jadi Bekal Berharga

“Kuncinya adalah konsistensi menjaga kepercayaan konsumen,” ucapnya tentang kunci keberhasilan tersebut.

Kini, sang dokter kian dikenal sebagai pengusaha peternakan dibanding profesi asli. Bahkan masuk daftar 100 pengusaha sukses di era pandemi oleh media Indonesia Juga dokter preneur tingkat Provinsi Jawa Timur oleh IDI Jatim. “Pendapatan yang saya peroleh dari dunia peternakan ini bahkan tidak kalah mentereng dibanding profesi medis,” akunya.

Kini, banyak teman sejawat yang minta diajari untuk beternak. Karena itulah dia berpesan pada generasi muda, tak usah ragu jadi peternak. Sebab, tak melulu harus dengan modal besar. Terpenting adalah semangat, tekad, dan niat ikhlas beribadah.

Baca Juga: Terungkap, Ini Sosok di Balik Alphard Misterius yang Bikin Geger Bundaran HI

“Dengan mengelola peternakan secara profesional pasti menghasilkan juga sekaligus melatih kesabaran serta kasih sayang terhadap sesama makhluk hidup,” pungkasnya.

Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri
taufan hidayat domba dorper australia peternak dokter