Kedekatan Sosok Gus Riza Sahlan Siroj dan Warisan Teladan Kiai Said Aqil Siradj

Mahisa Ayu • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 18:21 WIB

 

Foto: Mahisa Ayu
Foto: Mahisa Ayu

‎KEDIRI, JP Radar Kediri – Konstelasi politik organisasi menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) kian menghangat. Berbagai dorongan dari arus bawah mulai bermunculan, membawa nama-nama figur potensial yang dinilai mumpuni memimpin jam'iyyah terbesar di Indonesia tersebut. Salah satu isu hangat yang menjadi perbincangan di tingkat akar rumput adalah menguatnya dorongan untuk kursi Rais Aam Syuriyah PBNU.

‎Di tengah hiruk-pikuk persiapan muktamar, perhatian publik NU tak lepas dari figur Kiai Said Aqil Siroj beserta lingkaran terdekatnya. Kedekatan para tokoh muda NU, termasuk figur Gus Riza Sahlan Siroj, dengan mantan Ketua Umum PBNU tersebut dinilai menjadi faktor krusial yang memperkuat kalkulasi dukungan dari arus bawah.

‎Kedekatan ini bukan sekadar relasi organisatoris biasa. Terdapat ikatan kekeluargaan dan sanad keilmuan yang kuat. Gus Riza Sahlan, yang merupakan salah satu cucu dari Kiai Said Aqil, mengungkapkan bagaimana figur sang kiai memberikan pengaruh mendalam terhadap tradisi berorganisasi dan nilai-nilai ke-NU-an di tingkat akar rumput.

‎"Bagi kami di lingkaran keluarga maupun organisasi, teladan dan pandangan Kiai Said selalu menjadi kompas. Nilai-nilai pilar keislaman serta keberanian beliau dalam menjaga keutuhan jam'iyyah menjadi warisan penting yang terus kita pegang," ujar Gus Riza saat memberikan pandangannya terkait dinamika Muktamar NU 35.

‎Arus bawah NU kerap melihat keteladanan Kiai Said Aqil melekat pada figur-figur muda yang tumbuh dalam pengalamannya. Hal inilah yang dinilai membuat arus dukungan dari tingkat cabang hingga wilayah mengalir deras, mengharapkan hadirnya kepemimpinan yang kokoh dan mengakar.

‎Figur mantan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj juga kembali menjadi sorotan dan dikaitkan dengan posisi Rais Aam PBNU. menjawab hal tersebut Gus Riza menyebutkan bahwa sebagai pucuk tertinggi kepemimpinan Syuriah NU dinilai bukanlah sebuah kursi jabatan yang pantas untuk diperebutkan atau diincar dengan ambisi pribadi.

‎"Yang namanya Rais Aam itu mengalir. Orang kok sudah ingin jadi Rais Aam, itu justru sudah tidak pantas menjadi Rais Aam," ujar Gus Riza Sahlan saat ditemui wartawan Jawa Pos Radar Kediri.

‎Menurutnya sikap tak berambisi itu dibuktikan langsung oleh Kiai Said. Beberapa bulan lalu, saat ditanya mengenai kesediaannya jika diusung menjadi Rais Aam PBNU, Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah tersebut secara tegas dan rendah hati menjawab tidak mau. Meski secara pribadi tidak bersedia maju menjadi Rais Aam, KH. Said dinilai sangat layak menduduki posisi tertinggi di jajaran Syuriyah PBNU tersebut. Hal itu ditegaskan Gus Riza Sahlan dalam dawuhnya. "Walaupun beliau Kiai Said tidak mau menjadi Rais Aam, tapi secara kapasitas keilmuan dan pengalaman beliau sangat layak menjadi Rais Aam," ujar Gur Riza Sahlan.

‎Bahkan di tengah hangatnya bursa kepemimpinan, keberadaan Kiai Said jauh dari kesan mencari panggung. Tidak banyak yang tahu pasti apakah beliau sedang berada di kediamannya di Jakarta atau tengah ubet mengaji di Jombang.

‎"Kalau orang-orang terdekatnya mungkin ikut senang karena dapat nama besar. Tapi bagi beliau sendiri, amanah Rais Aam itu luar biasa berat. Makanya kalaupun tidak jadi, ya tidak masalah karena memang tidak ada ambisi di situ. Meski begitu, KH. Said tetap berkomitmen untuk mengabdi kepada Nahdlatul Ulama melalui jalur dakwah, terlepas dari nantinya menjabat atau tidak di jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Terbukti beliau semakin aktif mengisi pengajian-pengajian dan hadir di tengah-tengah masyarakat saat ini," lanjutnya.

‎Pada momentum Muktamar, konsolidasi dan komunikasi antartokoh terus berjalan intensif. Harapannya, seluruh proses Muktamar dapat berlangsung sejuk dan melahirkan kepemimpinan strategis yang mampu membawa Nahdlatul Ulama menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar tradisinya. 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
Muktamar ke-35 NU gus riza sahlan siraj fkmt majelis taklim