Tempa Diri Lewat Berbagai Kompetisi
Ada sisi lain dari guru Biologi di SMAN 2 Pare ini yang tak banyak diketahui orang. Di balik rutinitasnya, Intan Ayu Idha Wulandari punya segudang prestasi. Capaian itu dia dapatkan dari hasil konsisten mencoba hal baru. Urusan menang atau kalah itu belakangan. Yang terpenting mau mencoba dan berusaha.
Kegemaran Intan Ayu Idha Wulandari pada dunia seni saat masih kecil menjadi pintu awal perjalanan panjangnya dalam menorehkan prestasi.
Dari lomba mewarnai, melukis, hingga kaligrafi, perempuan asal Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, itu perlahan menekuni dunia akademik.
Puncaknya, aktif ikut serta di berbagai kompetisi akademik yang kini menjadi bidang yang ditekuninya.
Perjalanannya menempa diri lewat berbagai kompetisi tidak selalu mulus. Berkali-kali gagal justru menjadi pemacu hingga akhirnya dia mampu meraih berbagai prestasi tingkat nasional maupun internasional.
Ketertarikan Intan pada perlombaan bermula sejak TK. Diawali dari perlombaan sederhana ala anak-anak seperti mewarnai hingga berkembang ke seni lukis dan kaligrafi.
Prestasi demi prestasi diraih di tingkat kecamatan hingga kabupaten. Prestasi itu jadi modal besar dia melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya lewat jalur prestasi di bidang seni.
Baca Juga: Mengenal Sosok Ery Puspitasari, MUA dan Entrepreneur Muda Asal Kediri
“Selain seni, saya juga merambah ke akademik. Ikut olimpiade-olimpiade. Alhamdulillah hampir selalu menang juga,” ujar guru yang akrab disapa Intan itu.
Keaktifannya mengikuti kompetisi tak berhenti saat dia memasuki bangku kuliah. Intan justru terpacu untuk mencoba berbagai kompetisi dengan skala yang lebih tinggi.
Dia pun mencoba mengikuti kompetisi karya tulis ilmiah (KTI).
Percobaan pertamanya mengikuti lomba KTI berujung kegagalan. Alih-alih menyerah, dia bersama temannya kembali mencoba kompetisi berikutnya.
Sempat lolos tahap abstrak namun gagal di tahap selanjutnya. Pada kesempatan berikutnya, meski belum mampu menjadi juara, mereka berhasil menembus fullpaper.
“Awalnya memang gagal terus. Pertama tidak lolos sama sekali. Kemudian lolos abstrak, tidak lolos lagi. Daftar lagi, lolos abstrak dan fullpaper tetapi belum juara. Sampai akhirnya percobaan berikutnya bisa masuk final dan mendapat juara tiga tingkat nasional,” kenang alumnus Universitas Negeri Malang (UM) itu.
Bagi Intan, serangkaian kegagalan itu justru menjadi titik balik. Setelah berhasil menembus final dan meraih juara tiga, Intan semakin percaya diri mengikuti kompetisi berikutnya.
Berbagai perlombaan nasional mulai diikuti hingga akhirnya mayoritas berbuah prestasi.
Di tingkat nasional, sejumlah pencapaiannya antara lain menjadi finalis Olimpiade Nasional Biologi Tingkat Perguruan Tinggi (ON MIPA-PT), meraih juara tiga National Science Paper Competition, serta berbagai juara dalam kompetisi Program Kreativitas Mahasiswa.
Dia juga pernah meraih bronze medal di National Science Fair, bronze medal Kompetisi Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia, serta sejumlah penghargaan dalam kompetisi penelitian dan inovasi.
Baca Juga: Berawal Gambar Gunung Masa Kecil, Sosok Dedi Sasmito Telurkan Banyak Buku Penelitian Kelud
Prestasinya kemudian berkembang ke level internasional. Intan juga meraih gold medal Open Bioproject Competition (OBC) kategori Applied Science Research 2022.
Sebelumnya, dia juga meraih silver medal International Young Inventor Award and World Invention Technology Expo di Jakarta pada 2019, serta bronze medal di Youth National Science Fair yang diselenggarakan Indonesian Young Scientist Association.
Salah satu gagasan yang ia kembangkan adalah penelitian mengenai musik dengan frekuensi tertentu.
Melalui penelitiannya itu, musik bisa menjadi alternatif untuk membantu meningkatkan konsentrasi dan menenangkan anak dengan down syndrome.
Penelitian tersebut juga telah diuji melalui proses berulang di sejumlah Sekolah Luar Biasa (SLB) di Malang dan kemudian menjadi salah satu publikasinya pada jurnal yang terindeks Scopus.
Kini setelah berkecimpung sebagai guru Biologi di SMAN 2 Pare, dunia penelitian tetap menjadi jiwanya. Di sana, Intan membimbing siswa dalam berbagai kompetisi Karya Ilmiah Remaja (KIR).
Hasilnya, siswa yang didampinginya berhasil meraih gold medal di World Youth Invention and Innovation Award (WYIIA) 2021.
Termasuk sejumlah silver dan bronze medal dalam kompetisi inovasi dan sains internasional, hingga berbagai juara lomba karya tulis tingkat nasional.
Sebagai pendidik, prestasi juga tetap dia torehkan. Salah satunya saat ia terpilih dalam program peningkatan kompetensi guru yang melibatkan negara Indonesia dan Korea Selatan. Dari proses seleksi, hanya 25 guru Indonesia yang terpilih.
Setelah mengikuti pelatihan teknologi pendidikan, AI, robotik, dan media pembelajaran, Intan juga mendapat predikat sebagai Best Teacher Indonesia.
Baca Juga: Dari Staf WO, Sosok Nur Karima Kini Jadi CEO untuk Bisnisnya Sendiri
Pengalaman tersebut kemudian dia terapkan di sekolah. Salah satunya dengan membuat robot pemilah sampah yang diintegrasikan dalam pembelajaran Biologi.
Menengok ke belakang, baginya berbagai pencapaian ini merupakan buah dari keberanian mencoba tantangan baru.
Gagal di perjalanan merupakan bagian dari pengalaman berharga yang menjadi bekalnya untuk terus berkembang.
“Terus mencoba. Karena kita tidak tahu hasilnya sebelum mencoba. Kalau gagal, coba lagi. Dari situ kita belajar sampai akhirnya tahu kemampuan kita,” pesannya.
Editor : MahfudSumber : Radar Kediri