JP Radar Kediri - Tumpukan kain glamor beraneka warna memenuhi sudut ruang kerja Achmad Iony Suprayogi Drastistiawan.
Pemuda berusia 32 tahun yang akrab disapa Iyoni ini tampak telaten memperhatikan detail setiap guratan pola busana pesta di hadapannya.
Siapa sangka, di balik gaun-gaun anggun (evening gown) bernilai estetika tinggi yang kerap berseliweran di panggung pageant dan fashion show eks-Karesidenan Kediri, lahir dari tangan dingin seorang pemuda yang sama sekali tidak pernah mengenyam bangku sekolah mode.
"Semuanya 100 persen otodidak dari YouTube," kenang Yoni sembari tersenyum.
Bagi lulusan jurusan IPA SMA ini, dunia fesyen awalnya adalah ketidaksengajaan yang dipicu oleh rasa tidak puas. Sebagai seorang penari profesional yang aktif di Sky Management Tulungagung, Iony kerap mendapati kostum panggung hasil buatan penjahit tidak sesuai dengan ekspektasi liukan gerak tariannya.
Didorong rasa penasaran, ia nekat meminjam mesin jahit jadul milik manajemennya dan mulai belajar membuat pola dasar secara mandiri.
Langkah nekat itu menjadi titik balik hidupnya. Bakat seni yang mengalir dari sang kakek—seorang pimpinan Paguyuban Jaranan Rukun Santoso—membuat insting estetika Yoni berkembang pesat.
Dari yang awalnya hanya bereksperimen jahit-menjahit serpihan kain sisa saat duduk di bangku SD kelas 2, kini jemari Iony telah mahir melahirkan busana pesta yang memikat hati banyak klien dari wilayah perkotaan.
Namun, perjalanan menuju sukses tak selamanya mulus. Tumbuh dalam keluarga broken home sejak usia 7 tahun dan ditinggal sang ibu bekerja di luar negeri tak membuat Yoni patah arang. Justru dari dukungan penuh kakek dan neneknya, ia terus mengasah kemampuan diri hingga dipercaya menjadi juri di berbagai ajang peragaan busana regional.
Kini, hari-hari Iony dipenuhi dengan kesibukan memotong kain dan merangkai payet, bahkan daftar pesanan pakaiannya telah terisi penuh hingga akhir tahun. Baginya, fesyen bukan sekadar bisnis pakaian biasa, melainkan panggung pembuktian tekad. "Kalau ditekuni dengan hati, keterbatasan latar belakang pun bisa malih (berubah) dadi jalan rezeki," pungkasnya mantap.
Editor : Anwar Bahar Basalamah