Lebih dari dua dekade Suyanto bergelut dengan tenis. Dia memang tak bisa menjadi atlet nasional. Namun, asanya tetap besar karena dia ingin melahirkan atlet nasional.
Teriakan keras nan tegas terdengar beberapa kali dari Lapangan Tenis Pelti Kabupaten Kediri. Keluar dari mulut sosok berkaus merah dipadu celana pendek putih. Isinya, instruksi kepada beberapa petenis cilik yang usianya berkisar antara delapan sampai 14 tahun.
Beberapa kali sikap tegasnya itu luluh. Ketika menghadapi atlet belia yang ngambek. Mogok latihan akibat diganggu rekannya.
“Ya seperti ini sehari-hari,” ucap sosok bernama Suyanto ini.
Pria ini bukan orang baru sebagai pelatih tenis. Sudah dua dekade dia menggeluti olahraga yang dia labeli sebagai olahraga elite itu.
Baca Juga: Atlet Tenis Kediri Harus Aktif Ikut Turnamen, Hasil Akan Jadi Bahan Evaluasi
“Kalau ke tempat latihan tenis pasti parkirannya itu (terisi) mobil-mobil kan Mbak,” canda sosok berusia 62 ini.
Bagi pria ini, dunia tenis benar-benar dia nikmati. Terlebih sebagai pelatih atlet usia dini. Rambutnya yang tetap menghitam meskipun usianya sudah kepala enam menjadi bukti betapa dia menggeluti dunia tenis dengan perasaan riang.
“Rambut hitam ini masih asli, tanpa disemir,” selorohnya, sambil membuktikan dengan mengacak-acak rambutnya.
Yanto-demikian sapaannya-mengawali keterlibatannya di tenis ketika masih menjadi guru di SPP SPMA Blambangan, Banyuwangi. Sekolah itu sejenis sekolah menengah kejuruan tapi untuk kelompok pertanian.
Saat menjadi guru itu dia memiliki pengalaman. Sering kesulitan menemui pejabat karena berbagai hal. Terutama saat mengurus administrasi.
Dia kemudian berpikir keras, bagaimana cara agar mudah menemui pejabat. Dia pun memutuskan masuk melalui olahraga, kegiatan yang dia senangi. Dan, secara khusus yang dia pilih adalah tenis.
Mulanya Yanto malu-malu saat awal belajar. Merasa minder. Sebab, dia datang dengan latar belakang 'orang desa'. Bertolak belakang label tenis sebagai 'olahraga elite'. Namun, keputusannya sudah bulat. Perasaan minder itu berusaha dia tepis. Nyemplung semakin dalam ke olahraga yang menggunakan raket ini.
Baca Juga: Fauzia, Atlet Tenis Lapangan Kota Kediri Mantap Jadi Petenis sejak Usia Belia
Siapa sangka, sekolahnya kemudian membangun lapangan tenis. Dia merasa girang saat itu. Sayangnya, tiba-tiba dirinya dipindahtugaskan ke Kabupaten Kediri. Ke SMP Negeri 1 Wates.
"Tahun 1996 saya ke Kediri," kenangnya.
Sepertinya dunia tenis memang berjodoh dengan dirinya. Saat itu Pemerintah Kabupaten Kediri juga membangun lapangan tenis di Kecamatan Wates. Pikirnya saat itu, bersambunglah aktivitas tenisnya.
Namun, harapannya itu menemui hadangan. Dia sempat mendapat pengalaman pahit. Tidak diperbolehkan berlatih di lapangan tersebut. Dianggap orang baru. Dianggap tidak mampu bermain tenis.
Yanto pun bertekad membuktikan kemampuan diri. Belajar tenis hingga ke Surabaya. Kebetulan kerabatnya banyak yang mahir tenis. Selama tiga bulan, setiap Sabtu-Minggu, dia terus mengasah kemampuan. Benar saja, kemampuannya terasah dengan cepat.
"Saya pernah menantang pelatih tenis saya. Saya bilang kalau dalam satu tahun saya bisa mengalahkannya. Namun, setelah tiga bulan saya bisa mengalahkan," kenang bapak tiga anak itu.
Sejak itu nama Yanto mulai dikenal. Aktif mengikuti event-event kompetisi tenis. Tentu saja dia juga mengejar gelar juara. Event hingga ke Banyuwangi pun sempat diikutinya.
Hanya saja, dia sadar diri. Dia tak mungkin bisa menjadi petenis nasional. Alias atlet profesional. Karenanya, keinginannya sedikit berbelok. Tak bisa menjadi atlet, dia ingin melahirkan atlet. Impiannya bukan melahirkan atlet dari Kediri. Melainkan melahirkan atlet untuk nasional.
"Saya nggak mungkin juara (di kompetisi resmi) karena saya tahu usia saya. Tapi dari situ saya mikir harus ada penerusnya," tegasnya.
Lalu, pada 2000, dia mendirikan President Club. Katanya, nama itu memiliki kepanjangan Prestasi, Dedikasi, Tinggi. Nama tersebut menjadi semangat tersendiri baginya. Dan tak kalah penting, klub itu dibuat khusus untuk pembinaan atlet.
"Saya nggak mau nerima yang dewasa, yang ingin belajar untuk hobi. Tujuan saya itu prestasi," tekannya.
Menariknya, kecintaannya pada olahraga tenis seakan tak ada habisnya. Pada 2008, dia mendapatkan sertifikasi pelatih Internatonal Tennis Federation (ITF). Dari 20 peserta yang mengikuti pelatihan, hanya tujuh orang yang lolos. Salah satunya dirinya. Itupun dia meduduki peringkat kedua terbaik.
Lalu, kiprahnya pun semakin meningkat. Namanya tak hanya dikenal di Kabupaten Kediri. Melainkan juga di Provinsi Jawa Timur hingga Nasional. Sementara, atlet binaannya juga banyak melenggang ke event-event nasional hingga internasional.
Yang mengesankan lagi, Yanto terus memperdalam kemampuannya. Setelah mendapat sertifikasi sebagai pelatih, dia banyak mengambil kelas seminar. Misalnya tentang psikologi anak. Lalu mengenai gizi atlet. Dan banyak lagi.
Nyatanya, ketekunannya dalam menyelami dunia tenis berbuah manis juga. Bukan hanya pejabat kecamatan yang ditemuinya. Tetapi pejabat-pejabat di pemerintah pusat maupun pejabat daerah. (fud)
Editor : Mahfud