Bagi sebagian orang, mengikuti ajang beauty pageant mungkin hanya soal kompetisi dan penampilan. Namun, tidak bagi Stevanny Berliana Wijaya.
Dia itu justru menemukan jalan hidupnya melalui dunia pageant. Kini, pengalamannya itu turut membantu anak-anak lain meraih mimpinya.
Perjalanannya berawal dari keputusan iseng yang dia ambil untuk mengisi waktu liburan sekolah.
Kini, dia tidak hanya dikenal sebagai pemegang berbagai gelar pageant tingkat provinsi dan nasional.
Melainkan juga pendiri sekolah kepribadian, yayasan sosial, hingga konsultan kesehatan yang melayani pasien dalam dan luar negeri.
Perjalanan Stevanny di dunia pageant terbilang tidak biasa. Lulusan SMAK Kolese Santo Yusup Malang itu mengaku sama sekali tidak memiliki latar belakang modeling maupun pageant saat remaja.
Kesempatan mengenal dunia pageant datang dari rasa isengnya saat masa liburan sekolah menjelang kuliah. Saat itu, dia memutuskan mengikuti kompetisi Panji Galuh Kota Kediri pada 2018 lalu.
“Panji Galuh itu lomba pertama saya,” kenang perempuan kelahiran 2000 itu.
Meski mengaku iseng, Stevanny tidak datang tanpa persiapan. Dia berlatih keras dengan mentor hingga mengasah public speaking-nya. Meski jalannya terjal, kompetisi itu menjadi titik balik kehidupannya. Dia mulai memahami bahwa beauty pageant bukan sekadar soal penampilan fisik.
“Di beauty pageant kita dituntut terus berkembang. Bukan cuma memperhatikan penampilan, tapi juga public speaking, attitude, wawasan, dan bagaimana kita bisa bermanfaat untuk orang lain,” jelas perempuan yang tahun ini berusia 26 tahun itu.
Dari situ, dia mulai serius mendalami dunia pageant. Berbagai kompetisi mulai dia coba ikuti.
Di antaranya menjadi Finalis Puteri Indonesia Jawa Timur 2019, Putri Pariwisata Indonesia Jawa Timur 2022, Miss Cultural Tourism Indonesia 2022, hingga meraih berbagai penghargaan lain seperti Best Entrepreneur in Value Creation 2022 dan Juara 2 Wirausaha Baru KADIN Award 2021.
Perempuan asal Kecamatan Kota, Kota Kediri itu juga mendirikan sekolah modelling pada 2019 lalu. Konsepnya pun unik.
Tak hanya mengajarkan cara berlenggak-lenggok di panggung. Tetapi juga public speaking, etika, hingga pengembangan karakter. Untuk itu, dia menyebut lembaga pendidikan yang didirikannya sebagai sekolah kepribadian.
Sebelum mendirikan sekolah, Stevanny membekali diri dengan berbagai sertifikasi profesional.
Seperti sertifikasi dari John Robert Powers (JRP) serta beauty camp yang diselenggarakan Puteri Indonesia bersama tokoh nasional.
“Saya tidak mau hanya modal prestasi lalu membuka sekolah. Karena itu saya ambil sertifikasi, ikut pelatihan, dan memperkuat kompetensi dulu,” ungkapnya.
Masih minimnya wadah pengembangan skill tersebut di Kediri menjadi alasan utamanya mendirikan sekolah ini.
Kepuasannya bukan hanya saat melihat murid menjadi juara. Melainkan perubahan karakter dari proses pendidikan paket lengkap yang dihadirkannya.
“Yang saya suka itu melihat anak-anak berkembang. Dari yang awalnya malu bicara, tidak percaya diri, lalu berubah menjadi anak yang berani tampil dan berani mencoba,” tuturnya.
Tak hanya aktif membina generasi muda melalui sekolah kepribadian, Stevanny juga aktif berkegiatan sosial. Pada akhir 2020 lalu, saat pandemi Covid-19, ia mendirikan Yayasan Ananda Berlian.
Baca Juga: Sosok Vinanda, Perempuan Muda Inspiratif yang Berkontribusi di Dunia Sosial
Awalnya, kegiatan sosial dilakukan secara sederhana dengan membagikan sembako kepada tukang becak dan masyarakat terdampak pandemi.
Namun, aktivitas tersebut berkembang menjadi program pendidikan dan kesehatan bagi anak-anak dan remaja.
Dalam berbagai kunjungannya ke sekolah, Stevanny menemukan kenyataan yang membuatnya prihatin.
Salah satunya ketika bertemu siswa SMP yang belum mampu membaca dengan lancar. Dari situ, yayasannya mulai aktif menyebarkan edukasi, motivasi pendidikan, pembagian perlengkapan sekolah, hingga penyelenggaraan ajang pengembangan bakat.
“Kami melihat masih banyak anak-anak yang butuh pendampingan. Karena itu yayasan fokus pada pendidikan dan kesehatan agar mereka punya kesempatan berkembang lebih baik,” terang Stevanny.
Dengan kesibukan yang beragam itu, menurutnya tetap ada benang merah yang mengaitkan semuanya. Passion-nya itu tak lepas dari semangat membantu orang lain berkembang dan mendapatkan kehidupannya yang lebih baik.
Editor : Andhika Attar Anindita