JP Radar Kediri – Di balik bengkel sederhana yang dipenuhi barang bekas, terdapat sosok Danang Ki Asmoro yang dikenal sebagai modifikator skuter. Pria bertato ini justru menjadikan rongsokan sebagai bahan utama karya yang kini menembus pasar Eropa.
Nama besarnya di dunia modifikasi Vespa tidak lepas dari julukan “Tepos” yang melekat sejak masa sekolah. Panggilan itu muncul karena adanya kesamaan nama dengan teman lain saat SMA.
Latar belakang keluarganya sarat dengan dunia seni tradisi Jawa. Ayahnya dikenal sebagai pemusik sekaligus pengukir kayu, sementara sang ibu merupakan seorang sinden.
Ia juga masih memiliki hubungan darah dengan lingkungan Keraton Yogyakarta dari pihak ayahnya. Namun, alih-alih mengikuti jejak seni tradisi, ia memilih jalur kreatif yang berbeda.
Baca Juga: Sosok Indri Wahyuni, Juri Lomba Cerdas Cermat LCC 4 Pilar Kalbar yang Viral Komentari 'Artikulasi'
Kemampuan seni Danang terlihat dari kebiasaannya membuat sketsa yang tidak hanya terbatas pada media lukisan. Ia juga menuangkan karyanya ke media seperti kaus dengan desain buatan sendiri.
Selain itu, ia memiliki keahlian mengubah barang bekas menjadi produk yang memiliki nilai jual tinggi. Aktivitas tersebut ia lakukan di bengkel yang berada di teras rumahnya di Dusun Galuhan, Kandat.
“Di sini untuk modifikasi Vespa,” ujar Danang saat menjelaskan aktivitas di bengkel yang ia beri nama RSJ atau Rosok Skuter Jahanam.
Dari bengkel sederhana itu, karyanya bahkan telah dikenal hingga luar negeri. Salah satunya di Swiss, setelah adanya koneksi pada tahun 2008 melalui perantara teman dari Jakarta.
“Dulu di tahun 2008. Waktu itu ada teman dari Jakarta yang menghubungkan (dengan orang dari Swiss),” tuturnya. Sejak itu, pesanan dari luar negeri mulai berdatangan.
Tidak hanya dari Eropa, pelanggan juga datang dari Malaysia. Selain itu, bengkel RSJ kerap menjadi tempat singgah komunitas touring dari berbagai daerah di Indonesia.
Baca Juga: Sosok Prof. Ova Emilia, Lulusan Skotlandia hingga Pakar KB Nasional yang Kini Pimpin UGM
Bahkan, beberapa pengendara yang kehabisan biaya perjalanan bisa bekerja sementara di bengkelnya.
“Anak-anak yang touring kan nggak sebentar. Kadang ada yang kehabisan duit. Terus di sini kerja dapat gaji, setelah itu berangkat lagi (touring, Red)” jelasnya.
Perjalanan usahanya dimulai sejak 2005, setelah sebelumnya membuka bengkel di Banjaran, Kota Kediri. Sebelum itu, ia sempat menjalani usaha jasa tato di Surabaya pada awal 2000-an.
Namun, pekerjaan tersebut ia tinggalkan setelah mendapat nasihat dari orang tuanya.
“Saya berhenti karena ibu saya. Ya dinasihati kalau mau ngopeni (menghidupi, Red) anak dari uang yang bener,” katanya.
Ia juga pernah mengalami konflik keluarga ketika menolak penempatan sebagai ASN di Sumenep.
“Jadi dulu keterima PNS. Tetapi penempatannya di Sumenep dan saya tidak mau. Jadi diusir,” ujarnya.
Keputusan itu sempat membuat hubungannya dengan sang ayah merenggang cukup lama. Meski begitu, ia tetap menjaga komunikasi dengan ibunya dan membantu kebutuhan keluarga.
Kini hubungan keluarga tersebut telah membaik dan sang ayah tinggal bersamanya. Ia pun fokus mengembangkan usaha modifikasi Vespa dengan bantuan empat karyawan.
Dari usaha tersebut, pendapatannya bisa mencapai puluhan juta rupiah setiap bulan. Satu unit Vespa dapat dimodifikasi dengan kisaran harga Rp25 juta hingga Rp30 juta.
“Sebenarnya, satu bulan bisa empat Vespa,” ungkapnya, meski pengerjaan biasanya membutuhkan waktu lebih panjang karena sistem kerja yang fleksibel.
Selain modifikasi, ia juga mengerjakan desain kaus untuk komunitas Vespa. Semua karya desain tersebut dibuat langsung olehnya dari nol.
Seiring perkembangan zaman, ia mulai aktif memanfaatkan media sosial untuk promosi.
“Dulu itu saya anti. Tapi sekarang sehari bikin tiga video,” katanya.
Aktivitas digital tersebut justru menjadi sumber penghasilan tambahan yang cukup signifikan. Dari media sosial, ia bisa memperoleh hingga sekitar Rp10 juta per bulan.
Meski karyanya banyak ditiru oleh bengkel lain, ia tidak mempermasalahkan hal tersebut.
“Saya malah senang bisa bermanfaat, hanya saja jangan pakai nama RSJ. Karena semakin ikhlas rejekinya semakin mudah,” tegasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Andhika Attar Anindita