KEDIRI, JP Radar Kediri – Setiap 21 April, nama Raden Ajeng Kartini kembali menggema melalui berbagai perayaan simbolis. Namun, lebih dari sekadar kebaya dan upacara, semangat Kartini sebenarnya terus hidup dalam sosok perempuan yang berani mengkritisi ketidakadilan dan memperjuangkan kemerdekaan berpikir. Di era modern ini, salah satu "api" Kartini itu terpancar dalam sosok Maika Nurhayati.
Dari Gang Sempit Menuju Panggung Global
Lahir di sebuah gang sederhana di Kediri pada 31 Mei 1981, Maika tumbuh di tengah kultur patriarki yang kuat. Namun, hal itu tidak menyurutkan langkahnya. Setelah menyelesaikan sekolah di Kediri, ia merantau untuk mendalami Teknik Lingkungan di ITS Surabaya, hingga akhirnya meraih gelar Doktor Ilmu Lingkungan di Universitas Indonesia.
Baginya, emansipasi bukan sekadar hak perempuan untuk bersekolah, melainkan hak untuk mencapai jenjang ilmu tertinggi dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk melindungi kehidupan.
Kini, Maika mengemban berbagai peran strategis. Selain di KADIN Indonesia, ia aktif di Women Business Alliance BRICS dan ASEAN Women Entrepreneurs Network. Peran vital di bidang ekonomi adalah menghubungkan suara pengusaha perempuan Indonesia ke forum global.
Inovasi Kesehatan dan Pemberdayaan UMKM
Di dunia bisnis, Maika dikenal melalui PT Putri Karya Mayaksa yang fokus pada sistem informasi kesehatan. Salah satu produknya bahkan telah diadopsi secara nasional oleh RSUD dr. Iskak Tulungagung. Ia juga memelopori pembangunan klinik dengan konsep Modular Operating Theatre (MOT), sebuah ruang bedah berteknologi tinggi.
Tak hanya di ruang rapat kelas dunia, Maika juga menjejakkan kakinya di "dapur ekonomi" dengan membimbing pelaku UMKM. Ia membantu para pengrajin dan pengusaha makanan untuk "naik kelas", mulai dari penguatan produk hingga akses pembiayaan dan promosi internasional.
Menjaga "Kewarasan" di Tengah Tuntutan
Menjalani peran sebagai akademisi, pemimpin organisasi, pengusaha, sekaligus ibu dari tiga anak bukanlah perkara mudah. Ada kalanya Maika merasa ingin menyerah. Namun, ia belajar bahwa menjadi tangguh bukan berarti harus menjadi superwoman yang sempurna dan mengerjakan semuanya sendiri.
"Tangguh adalah kemampuan mengakui lelah, mengatur ulang langkah, dan terus bergerak tanpa terikat pada standar kesempurnaan yang mustahil," ungkapnya.
Di tengah tekanan bisnis dan kebijakan publik, ia menjadikan kewarasan sebagai prioritas utama. Ia percaya bahwa seorang ibu adalah benteng pertama kesehatan mental anak-anaknya.
Makna Sukses Sejati
Bagi Maika, sukses bukan diukur dari banyaknya gelar atau tingginya jabatan, melainkan dari jejaring yang menguatkan dan dampak (legacy) yang ditinggalkan bagi orang lain.
Menutup catatan Hari Kartini ini, Maika berpesan bahwa niat baik saja tidak cukup tanpa dibarengi ketangguhan dan iman kepada Tuhan. "Allah sudah menulis skenario terbaik melalui episode retak, hancur, dan utuh kembali," pungkasnya.
Kemenangan sejati seorang Kartini masa kini adalah ketika ia bisa hadir bagi anak-anaknya dan lingkungan sekitarnya dengan hati yang waras dan menenangkan.
Editor : rekian